Tinggalkan komentar

Flood dan spam part 2

Setelah mencari ke sana ke mari template-template untuk digunakan flood secara am tentang forum-forum dan secara khusus untuk facebook akhirnya saya mendapati templatenya juga. Ini dia langsung saja berus habis di postingan ini dan tentunya setiap saat akan kami perbaharui.

✁✂✃✄✆✇✈✉✌✍✎✏✐✑✒✓✔✕✖✗✘✙✚✛✜✝✞✟✠✡✢✣✤✥✦✧✩✪✫✬✭✮✯✰✱✲✳✴✵✶✷✸✹✺✻✼✽✾✿❁❂❃❄❅❆❇❈❉❊❋❍❏❐❑❒❖❘❙❚❛❜❝❞❡❢❣❤❥❦❧☙۝۞۩۵シッツヅتღ

☀☁☂☃☄★☆☇☈☉☊☋☌☍☎☏☐☑☒☓☕☖☗☚☛☜☝☞☟☠☡☢☣☤☥☦☧☨☩☪☫☬☭☮☯☰☱☲☳☴☵☶☷☸☹☺☻☼☽☾☿♀♁♂♃♄♅♆♇♈♉♊♋♌♍♎♏♐♑♒♓♔♕♖♗♘♙♚♛♜♝♞♟♠♡♣♤♥♦♧♩♪♫♬♭♮♯♨

⓿❶❷❸❹❺❻❼❽❾❿⓫⓬⓭⓮⓯⓰⓱⓲⓳⓴⑩⑪⑫⑬⑭⑮⑯⑰⑱⑲⑳♲♺♻♼♽♾♿⚀⚁⚂⚃⚄⚅⚆⚇⚈⚉⚊⚋⚌⚍⚎⚏⚐⚑⚓⚗⚛⚜⚝⚠⚡⚢⚣⚤⚦⚧⚨⚩⚪⚫⚬⚭⚮⚯⚰⚱⚲⚳⚴⚵⚶⚷⚸⚹⚺⚻⚼⛀

اـﺎـﺎاﺏـبـبـبـﺕـتـتـتـﺙـثـثـثـﺝـجـجـجـﺡـحـحـحـﺥـخـخـخـﺩـدـددﺫـذـذذﺭـرـررﺯـزـززﺱـسـسـسـﺵـشـشـشـﺹـصـصـصـﺽـضـضـضـﻁـطـطـطـﻅـظـظـظـﻉـعـعـعـﻍـغـغـغـفـفـفـفـﻕـقـقـقـﻙـكـكـكـﻝـلـلـلـﻡـمـمـمـنـنـنـنـﻩـهــهـهـﻭـوـووﻱـيـيـيـﺁـآـآآﺓﻯـىءإ, أؤئﻻـﻼََُِّىُوِياىويَيَوْٰ٠١٢٣٤٥٦٧٨٩۴۵۶٪٫٬٭۝۞۩ﷲ

ᎠᎡᎢᎣᎤᎥᎦᎧᎨᎩᎪᎫᎬᎭᎮᎯᎱᎲᎳᎴᎵᎶᎷᎸᎹᎺᎻᎼᎽᎾᎿᏀᏁᏂᏃᏄᏅᏆᏇᏈᏉᏊᏋᏌᏍᏎᏏᏐᏑᏒᏓᏔᏕᏖᏗᏘᏙᏚᏛᏜᏝᏞᏟᏠᏡᏢᏣᏤᏥᏧᏨᏩᏪᏫᏬᏭᏮᏯᏰᏱᏲᏳᏴ

АБВГДЕЖЗИЙКЛМНОПРСТУФЦЧШЩЪЫЬЭЮЯабвгдезийклмнопрстуфхцчшщыьэюяЀѐЁёЂђЃѓҐґЄєЅѕІіЇїЈјЉљЊњЋћЌќЍѝЎўЏџӘәҒғҖҗҢңӨөҮүҺһ

ႠႡႢႣႤႥႦႧႨႪႫႬႭႮႯႰႱႲႳႴႵႶႷႸႹႺႻႼႽႾႿჀჂჃჄჅაბგდევზთიკლმნოპჟრსტუფქღყშჩცძწჭხჯჰჱჲჳჴჵჶჷჸჹჺ჻ჼ

ͰͱͲͳʹ͵Ͷͷͺͻͼͽ;΄΅Ά·ΈΉΊΌΎΏΐΑΒΓΔΕΖΗΘΙΚΛΜΝΞΟΠΡΣΤΥΦΧΨΩΪΫάέήίΰαβγδεζηθικλμνξοπρςστυφχψωϊϋόύώϏϐϑϒϓϔϕϖϗϘϙϚϛϜϝϞϟϠϡϢϣϤϥϦϧϨϩϪϫϬϭϮϯϰϱϲϳϴϵ϶ϷϸϹϺϻϼϽϾϿ

ְֱֲֳִֵֶַָֹֺֻּֽ֑֖֛֢֤֥֦֧֪֚֭֮֒֓֔֕֗֘֙֜֝֞֟֠֨֩֫֬֯־ֿ׀ׁׂ׃ׅׄ׆ׇאבגדהוזחטיךכלםמןנסעףפץצקרשתװױײ׳״יִﬞײַﬠﬡﬢﬣﬤﬥﬦﬧﬨ﬩שׁשׂשּׁשּׂאַאָאּבּגּדּהּוּזּטּיּךּכּכּלּמּנּסּףּפּצּקּרּשּתּוֹבֿכֿפֿﭏ

ᚡᚢᚣᚤᚥᚦᚧᚨᚩᚪᚫᚬᚭᚮᚰᚱᚲᚳᚴᚵᚶᚷᚸᚹᚺᚻᚼᚽᚾᛀᛂᛃᛅᛆᛇᛈᛉᛊᛋᛌᛍᛎᛏᛐᛑᛒᛓᛕᛖᛗᛘᛙᛚᛛᛜᛝᛞᛟᛠᛢᛣᛤᛥᛦᛧᛨᛩᛪ᛫᛬᛭ᛯᛰ

܀܁܂܃܄܅܆܇܈܊܋܌܍ܐܑܒܓܔܕܖܗܘܙܚܛܜܝܞܟܠܡܢܣܤܥܦܧܨܩܪܫܬܸܹܼ݂ܲܵ݁

ஂஃஅஆஇஈஉஊஎஏஐஒஓஔகஙசஜஞடணதநனபமயரறலளழவஶஷஸஹாிீுூெேைொோௌ்ௗ௦௧௩௪௫௬௭௮௯௰௱௲௳௴௵௶௷௸௹௺

กขฃคฅฆงจฉชซฌญฎฏฐฑฒณดตถทธนบปผฝพฟภมยรฤลฦวศษสหฬอฮฯะัาำิีึืฺุู฿เแโใไๅๆ็่้๊์ํ๎๏๐๑๒๓๔๕๖๗๘๙๚๛

Tinggalkan komentar

Maqam & Derajat Manusia Disisi Allah SWT

1 Anggota Syari’at adalah mereka yang beramal dengan rukun Islam yan lima

2 Anggota Tareqat adalah mereka yang beramal dengan suluk

3 Anggota Hakikat adalah mereka yang beramal dengan zahir syariat dan batin syari’at. Juga dikenalai sebagai orang yang Tahkik

4 Anggota Makrifat adalah mereka yang beramal denagn sirullah

5 Maqam Murid adalah yang memerlukan mengenal Tuhan dan yang mempelajri Ilmu Sirullah

6 Maqam Murad adalah orang-orang yang telah Wasil

7 Maqam Mahmud adalah orang-orang yang rohnya telah mi’raj. Nabi Muhammad saw mi’raj dengan tubuhnya. Umat ​​nabi Muhammad saw mi’raj dengan ruhnya saja. Untuk merka yang telah mi / raj sampai ke Sidratul Muntaha, maka merka mendapat maqam Mahmud dan Massa mereka bernama Jamalul Massa

8 Orang Taqwa adalah yang mengerjakan yang wajib dan meninggalakan yang haram

9 Orang-orang Mukmin adalah yang telah melek dua mata hatinya yaitu Fuad dan Kalbun

10 Orang-orang Saleh adalah orang-orang terlipast dengan sifat akhirat

11 Orang-orang Salik adalah dari syari’at naik ke hakikat

12 Ibadullah adalah mereka yang istiqamah

13 Anggota Taqwa adalah orang-orang yang ada mazkur

14 Wali Allah adalah orang yang ada mazkur

15 Orang Zahid adalah orang-orang yang hatinya mahal Allah semata dan meninggalkan masayarakat

16 Anggota Saufi adalah orang-orang yang hatinya seperti Adam as. Hatinya telah suci dari syirik jali, syirik khafi dan syirik mukhafi

17 Maqam Muhid adalah orang-orang yang beramal dengan mujahadah

18 Orang Abid adalah yang beramal dengan zauq dan yang kamil dan mukamail

19 Orang Salehin adalah yang beramala dengan musyahadah dan yang beramal denagan solatul da’im

20 Anggota Huzbi adalah orang-orang yang MAJZUB

21 Anggota Muhiddin adalah orang yang ada memiliki mazkur

22 Anggota Khalis adalah oranf yang ada mazkur

23 Anggota Muhakik adalah dieknali sebagai anggota hakikat, maqam Siddiq dan anggota Saufi

24 Anggota Khafiful Hal adalah orang-orang yang tidak terkait dengan keduniaan, yaitu rahib yang tidak ada istri, anak, pekerjaan dan bujang

25 Anggota Allah adalah orang yang nyawanya Roh Izapu dan fana dengan Allah

26 Maqam Abrar adalah mereka yang berderajat Khawas

27 Orang Muqaribbin adalah mereka yang berderajat khawas Ul Khawas

28 Orang Rashikun adalah mereka yang mengetahui rahasia-rahasia isi al Quran yang tersirat

29 Anggota Mukasyaf adalah orang-orang yang kasyaf

30 Orang-orang Majzub adalah dari hakikat seluruh kepada syari’at

31 Orang-orang Arif adalah orang-orang yang mengetahui kata dan derejat

Tinggalkan komentar

WALI ALLAH: TINGKATAN, JUMLAH DAN PANGKAT

TINGKATAN WALI ALLAH

1. Al Aqtab berasal dari kata tunggal Al Qutub yang memiliki arti penghulu. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Al Aqtab adalah derajat kewalian yang tertinggi. Jumlah wali yang memiliki derajat tersebut hanya terbatas seorang saja untuk setiap waktunya. Seperti Abu Yazid Al Busthami dan Ahmad Ibnu Harun Rasyid Assity. Di antara mereka ada yang memiliki posisi di bidang pemerintahan, meskipun tingkatan taqarrubnya juga mencapai derajat tinggi, seperti para Khulafa? Ur Rasyidin, Al Hasan Ibnu Ali, Muawiyah Ibnu Yazid, Umar Ibnu Abdul Aziz dan Al Mutawakkil.

2. Al Aimmah berasal dari kata tunggal imam yang memiliki arti pemimpin. Setiap waktunya hanya ada dua orang saja yang dapat mencapai derajat Al Aimmah. Keistimewaannya, ada di antara mereka yang pandangannya hanya tertuju ke alam malakut saja, ada pula yang pandangannya hanya tertuju di alam malaikat saja.

3. Al Autad berasal dari kata tunggal Al Watad yang memiliki arti pasak. Yang memperoleh derajat Al Autad hanya ada empat orang saja setiap waktunya. Kami menemukan seorang di antara mereka dikota Fez di Morocco. Mereka tinggal di utara, di timur, di barat dan di selatan bumi, mereka bagaikan penjaga di setiap pelosok bumi.

hanya dengan ilmu bisa mengenal. kalau tidak musuh yang nyata dapat menyamar.

4. Al Abdal berasal dari kata Badal yang memiliki arti menggantikan. Yang memperoleh derajat Al Abdal itu hanya ada tujuh orang dalam setiap waktunya. Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Allah untuk menjaga suatu wilayah di bumi ini. Dikatakan di bumi ini memiliki tujuh daerah. Setiap daerah dijaga oleh seorang wali Abdal. Jika wali Abdal itu meninggalkan tempatnya, maka ia akan digantikan oleh yang lain. Ada seorang yang bernama Abdul Majid Bin Salamah pernah bertanya pada seorang wali Abdal yang bernama Muaz Bin Asyrash, praktek apa yang dikerjakannya sampai ia menjadi wali Abdal? Jawab Mu’adz Bin Asyrash: “Para wali Abdal mendapatkan derajat tersebut dengan empat kebiasaan, yaitu sering lapar, gemar beribadah di malam hari, suka diam dan mengasingkan diri”.

5. An Nuqaba? berasal dari kata tunggal Naqib yang memiliki arti kepala kaum. Jumlah wali Nuqaba? dalam setiap waktunya hanya ada dua belas orang. Wali Nuqaba? itu diberi karamah mengerti sedalam-dalamnya tentang hukum-hukum syariat. Dan mereka juga diberi pengetahuan tentang rahasia yang tersembunyi di hati seseorang. Selanjutnya mereka pun mampu untuk meramal tentang karakter dan nasib seorang melalui bekas jejak kaki seseorang yang ada di tanah. Sebenarnya hal ini tidaklah aneh. Kalau anggota jejak dari Mesir bisa mengungkap rahasia seorang setelah melihat bekas jejaknya. Apakah Allah tidak mampu membuka rahasia seseorang kepada seorang waliNya?

6. An Nujaba? berasal dari kata tunggal Najib yang memiliki arti bangsa yang mulia. Wali Nujaba? pada umumnya selalu disukai orang. Dimana saja mereka mendapatkan sambutan orang banyak. Kebanyakan para wali tingkatan ini tidak merasakan diri mereka adalah para wali Allah. Yang dapat mengetahui bahwa mereka adalah wali Allah hanyalah seorang wali yang lebih tinggi derajatnya. Setiap zaman jumlah mereka hanya tidak lebih dari delapan orang.

7. Al Hawariyun berasal dari kata tunggal Hawariy yang memiliki arti penolong. Jumlah wali Hawariy ini hanya ada satu orang saja di setiap zamannya. Jika seorang wali Hawariy meninggal, maka kedudukannya akan di-ganti orang lain. Di zaman Nabi hanya sahabat Zubair bin Awwam saja yang mendapatkan derajat wali Hawariy seperti yang dikatakan oleh sabda Nabi:

“Setiap Nabi memiliki Hawariy. Hawariyku adalah Zubair ibnul Awwam “.

Meskipun pada waktu itu Nabi memiliki cukup banyak sahabat yang setia dan selalu berjuang di sisi beliau. Tetapi beliau saw berkata demikian, karena ia tahu hanya Zubair saja yang meraih derajat wali Hawariy. Kelebihan seorang wali Hawariy biasanya seorang yang berani dan pandai berhujjah.

8. Ar Rajbiyun berasal dari kata tunggal Rajab. Wali Rajbiyun itu adanya hanya di bulan Rajab saja. Mulai awal Rajab hingga akhir bulan mereka itu ada. Selanjutnya kondisi mereka kembali normal seperti semula. Setiap waktu, jumlah mereka hanya ada empat puluh orang saja. Para wali Rajbiyun ini terpecah di berbagai wilayah. Di antara mereka ada yang saling mengenal, tapi kebanyakan tidak. Disebutkan bahwa ada sebagian orang dari Wali Rajbiyun yang dapat melihat hati orang-orang Syiah melalui kasyaf. Ada dua orang Syiah yang mengaku sebagai Ahlu Sunnah dihadapan seorang wali Rajbiyun. Lalu keduanya diusir, karena wali Rajbiyun itu melihat keduanya berupa dua ekor babi, sebab keduanya membenci Abu Bakar, Umar dan sahabat-sahabat lain. Ke-duanya hanya mencintai Ali dan sejumlah sahabatnya. Ketika keduanya bertanya padanya, maka si wali tersebut berkata: “Aku lihat kamu berdua berupa dua ekor babi, karena kamu menganut mazhab Syiah dan membenci para sahabat Nabi”. Ketika berita itu disadari kebenarannya oleh keduanya, maka keduanya mengaku benar dan cepat memohon ampun kepada Allah. Demikianlah secebis kisah kasyaf seorang wali Rajbiyun.

Pada umumnya, di bulan Rajab, sejak awal harinya, para wali Rajbiyun menderita sakit, sehingga mereka tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Selama bulan Rajab, mereka senantiasa mendapat berbagai pengetahuan secara kasyaf, kemudian mereka memberitahukannya kepada orang lain. Anehnya penderitaan mereka hanya bertahan di bulan Rajab. Setelah bulan Rajab berakhir, maka kesehatan mereka kembali seperti semula.

9. Al Khatamiyun berasal dari kata Khatam yang memiliki arti penutup atau penghabisan. Maksudnya derajat Al Khatamiyun adalah sebagai penutup para wali. Jumlah mereka hanya seorang. Tidak ada derajat kewalian umat Muhammad yang lebih tinggi dari tingkatan ini. Jenis wali ini hanya akan ada di akhir masa, yaitu ketika Nabi Isa as.datang kembali.

Di antaranya, ada para Wali yang hatinya seperti Nabi Adam as. Jumlah mereka hanya tiga ratus orang. Sabda Nabi saw: “Mereka berhati seperti hati Adam as”. Mereka diberi penghargaan tersendiri oleh Allah. Syeikh Muhyidin berkata: “Jumlah wali jenis ini bukan hanya tiga ratus orang saja dikalangan

umatnya, tetapi ada juga kalangan umat-umat lain. Tentang keberadaan mereka hanya dapat diketahui secara kasyaf. Setiap waktunya dunia tidak pernah kosong dari keberadaan mereka. Mereka memiliki budi pekerti Ilahi, mereka sangat dekat disisi Allah. Doa mereka selalu diterima oleh Allah. Mereka senang dengan doa: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami suka menganiaya diri kami. Jika Engkau tidak berkenan memberi ampunan dan kasih sayang kepada kami, pasti kami akan termasuk orang-orang yang rugi “.

Di antara mereka ada pula yang berhati seperti hati Nuh as. Jumlah mereka hanya empat puluh orang di setiap zamannya. Hati mereka seperti hatinya Nabi Nuh as. Beliau adalah Nabi dan Rasul pertama. Mereka suka berdoa, seperti doa Nuh as yang artinya: “Tuhan, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan siapa saja dari orang beriman, lelaki atau wanita yang masuk ke dalam rumahku dan jangan Engkau tambahkan bagi orang-orang yang berbuat aniaya kecuali kebinasaan” .

Tingkatan wali dari jenis ini sulit diraih orang, sebab fitur khusus mereka sangat keras dalam menegakkan agama, seperti sifat Nabi Nuh as. Mereka selalu memperhatikan sabda Nabi saw yang artinya: “Barangsiapa yang beribadah selama empat puluh hari dengan penuh ikhlas, maka akan terpancar ilmu hakikat dari lubuk hatinya ke lidahnya”.

Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Ibrahim. Jumlah wali jenis ini hanya ada tujuh orang dalam setiap zamamnya. Rasulullah saw pernah menceritakan tentang mereka dalam salah satu sabdanya. Mereka suka dengan doa Nabi Ibrahim as yang artinya: “Tuhanku, berikan kepadaku kebijaksanaan, dan ikutkan aku ke orang-orang saleh”. Mereka diberi keistimewaan yang luar biasa, hati mereka dibersihkan dari rasa ragu, rasa dengki dan rasa buruk sangka terhadap Khalik maupun makhluk, mereka dilindungi dari segala perbuatan buruk.

Syeikh Muhyiddin mengatakan: “Aku pernah menemui salah seorang dari jenis wali tersebut, aku kagum dengan kemuliaan budi pekertinya, luas pengetahuannya dan kesucian hatinya, sampai aku beranggapan bahwa kese-nangan surga telah dipercepat baginya”.

Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Jibril. Jumlah wali jenis ini hanya ada lima orang saja dalam setiap zamannya. Rasulullah saw pernah menyebut tentang mereka dalam salah satu sabdanya. Mereka diberi kekuatan seperti yang diberikan kepada malaikat Jibril yang amat kuat. Di hari kiamat, mereka akan dikumpulkan dengan malaikat Jibril. Dan malaikat Jibril senantiasa membantu rohani mereka, sehingga mereka selalu terpimpin.

Diantaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Mikail as. Jumlah mereka hanya ada tiga orang saja dalam setiap waktunya. Keistimewaan

mereka suka berlemah-lembut terhadap semua orang, dan mereka diberi kekuatan seperti Malaikat Mikail.

Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Israfil. Jumlah mereka hanya ada satu orang saja dalam setiap zamannnya. Nabi saw pernah menyebut tentang mereka dalam salah satu sabdanya. Menurut pengamatan kami, Syeikh Abu Yazid Al Bustami termasuk salah seorang dari jenis wali ini. Termasuk juga Isa as. Syeikh Al Muhyiddin mengatakan: “Diantara tokoh-tokoh sufi ada yang diberi hati seperti hati Yesus, posisi mereka sangat tinggi di sisi Allah”.

Di antaranya pula ada yang diberi hati seperti hati Nabi Daud. Jumlah mereka di setiap waktunya hanya terbatas beberapa orang saja. Mereka diberi berbagai keistimewaan, posisi tinggi di dunia dan ketebalan iman.

10. Di antaranya pula ada yang diberi pangkat Rijalul Ghaib atau manusia-manusia misterius. Jumlah wali jenis ini hanya sepuluh orang di setiap masanya. Mereka orang-orang yang selalu khusyu?, Mereka tidak berbicara kecuali dengan perlahan atau berbisik, karena mereka merasa bahwa Allah selalu mengawasi mereka. Mereka sangat misterius, sehingga keberadaan mereka tidak banyak dikenal kecuali oleh ahlinya. Mereka selalu rendah hati, malu dan mereka tidak banyak mementingkan kesenangan dunia. Bisa dikata segala tindak tanduk mereka selalu misteri.

Di antaranya pula ada yang selalu menegakkan agama Allah. Jumlah mereka hanya delapan belas orang di setiap masanya. Fitur khusus mereka adalah selalu menegakkan hukum-hukum Allah. Dan mereka bersikap keras terhadap segala penyimpangan.

Syeikh Abu Madyan termasuk salah seorang di antara mereka. Ia berkata kepada murid-muridnya: “Tampilkan ke manusia tanda redha kamu sebagaimana kamu menampilkan rasa ketidaksenangan kamu, dan perlihatkan kepada manusia segala nikmat yang diberikan Allah, baik yang zahiriyah maupun batiniyah seperti yang dianjurkan Allah dalam firmanNya berikut:

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaknya engkau menyebut-nyebutnya sebagai tanda bersyukur”

11. Di antaranya pula ada wali yang dikenal dengan nama Rijalul Quwwatul Ilahiyah artinya orang-orang yang diberi kekuatan oleh Tuhan. Jumlah mereka hanya delapan orang saja di setiap zamannya. Wali jenis ini memiliki keistimewaan, yaitu sangat tegas terhadap orang-orang kafir dan terhadap orang-orang yang suka menghargai agama. Sedikit pun mereka tidak takut oleh kritikan orang. Di kota Fez ada seorang yang bernama Abu Abdullah Ad Daqqaq. Ia dikenal sebagai seorang wali dari jenis Rijalul Quwwatul Ilahiyah.

Di antaranya pula ada jenis wali yang sifatnya keras dan tegas. Jumlah mereka hanya ada 5 orang disetiap zamannya. Meskipun karakter mereka tegas, tetapi sikap mereka lemah lembut terhadap orang-orang yang suka berbuat kebajikan.

12. Di antaranya pula ada jenis wali yang dikenal dengan nama Rijalul Hanani Wal Athfil Illahi artinya mereka yang diberi rasa kasih sayang Allah. Jumlah mereka hanya ada lima belas orang di setiap zamannya. Mereka selalu bersikap kasih sayang terhadap manusia baik terhadap yang kafir maupun yang mukmin. Mereka melihat manusia dengan pandangan kasih sayang, karena hati mereka dipenuhi rasa insaniyah yang penuh rahmat.

13. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalul haibah Wal Jalali. Jumlah mereka hanya empat orang di setiap masanya. Jenis wali tingkatan ini dikenal sebagai orang-orang yang hebat dan mengagumkan, meskipun sifat mereka lemah lembut, tetapi orang-orang yang menemukan mereka akan tunduk. Mereka tidak dikenal di bumi, tapi mereka adalah orang-orang yang dikenal di langit. Di antara mereka ada yang memiliki hati seperti Nabi Muhammad saw, ada pula yang memiliki hati seperti Syuaib, Nabi Salleh dan Rasul itu. Sayyid Muhyiddin mengatakan: “Aku pernah menemui wali kaum ini di kota Damaskus”.

14. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalul Fathi. Artinya rahasia-rahasia Allah selalu terbuka untuk mereka. Jumlah mereka hanya ada 24 orang di setiap masanya. Jumlah mereka sama dengan jumlah jam, yaitu 24 orang. Meskipun demikian, mereka tidak pernah berkumpul di satu tempat dalam jumlah sebanyak itu. Adanya mereka menyebabkan terbukanya pintu-pintu pengetahuan, baik yang nyata maupun yang rahasia.

15. Di antaranya pula ada yang termasuk dalam kelompok Rijalul Ma? Arij Al? Ula. Jumlah mereka hanya tujuh orang di setiap masanya. Mereka termasuk wali-wali tingkatan tinggi, hampir setiap saatnya mereka naik ke alam malakut, mereka adalah orang-orang pilihan.

16. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalu Tahtil Asfal, yaitu mereka yang berada di alam terbawah di bumi. Jumlah mereka tidak lebih dari 21 orang di setiap masanya. Fitur khusus wali ini, hati mereka selalu hadir di depan Allah.

17. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalul Imdadil Ilahi Wal Kauni, yaitu mereka yang selalu mendapat karunia Ilahi. Jumlah mereka tidak lebih dari tiga orang di setiap masanya. Mereka selalu mendapat pertolongan Allah untuk menolong manusia sesamanya. Sikap mereka dikenal lemah lembut dan berhati penyayang. Mereka senantiasa menyalurkan anugerah-anugerah Allah kepada manusia. Pokoknya, adanya mereka menunjukkan berpanjangannya kasih sayang Allah kepada makhlukNya.

18. Di antaranya pula ada yang termasuk Ilahiyun Rahmaniyun, yaitu manusia-manusia yang diberi rasa kasih sayang yang luar biasa. Jumlah mereka ini hanya tiga orang di setiap masanya. Sifat mereka seperti wali-wali Abdal, meskipun mereka tidak termasuk didalamnya. Favorit mereka suka mempelajari firman-firman Allah.

19. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalul Istithaalah, yaitu manusia-manusia yang selalu mendapat pertolongan Allah. Jumlah mereka hanya seorang dalam setiap waktunya. Yang termasuk kelompok ini adalah Syeikh Abdul Qadir Jailani. Mereka selalu menolong manusia dan mereka sangat ditakuti.

20. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalul Ghina Billah, yaitu orang-orang yang tidak membutuhkan kepada manusia sedikit pun. Jumlah mereka hanya dua orang di setiap masanya. Mereka selalu mendapat siraman rohani dari alam malakut, sehingga kelompok ini tidak membutuhkan kepada bantuan siapa pun, selain bantuan Allah.

21. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalu? AINUT Tahkim Waz Zawaid. Jumlah mereka hanya sepuluh orang di setiap zamannya. Mereka senantiasa meningkatkan keyakinannya terhadap masalah-masalah yang gaib. Seluruh hidup mereka terlihat aktif di semua aktivitas ibadah.

22. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalul Isytiqaq, yaitu mereka yang selalu rindu kepada Allah. Jumlah mereka hanya lima orang di setiap zamannya. Favorit mereka hanya memperbanyak shalat di siang hari dan di malam hari.

23. Di antaranya, ada yang termasuk Al Mulamatiyah. Mereka tergolong dari wali derajat yang tinggi, pimpinan tertingginya adalah Nabi Muhammad saw. Mereka sangat berhati-hati dalam melaksanakan syariat Islam. Segala sesuatu mereka tempatkan di tempatnya yang tepat. Tindak tanduk mereka selalu didasari rasa takut dan hormat kepada Allah. Tentu saja keberadaan mereka sangat diperlukan, meskipun mereka tidak terbatas. Ada kalanya jumlah mereka meningkat, tetapi ada kalanya pula jumlah mereka berkurang.

24. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al fuqara?. Jumlah mereka ada kalanya meningkat dan ada kalanya berkurang. Fitur khusus mereka ini selalu merendahkan diri. Mereka merasa rendah di hadapan Allah.

25. Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam kelompok As Sufiyyah. Jumlah mereka tidak terbatas. Ada kalanya tumbuh dan terkadang pula berkurang. Mereka dikenal sebagai wali yang sangat luhur budi pekertinya. Mereka selalu menghias diri mereka dengan kebajikan-kebajikan yang sesuai dengan ketinggian budi pekerti mereka.

26. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al? Ibaad. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang suka beribadah. Pokoknya, ibadah merupakan kegiatan mereka sehari-hari, mereka suka mengasingkan diri di gunung-gunung, di lembah-lembah dan di pantai-pantai. Di antara mereka ada yang mau bekerja, tetapi kebanyakan dari mereka meninggalkan semua kegiatan duniawi. Puasa sepanjang masa dan beribadah di malam hari merupakan syiar mereka. Sebab, menurut mereka dunia ini adalah tempat untuk menyuburkan amal-amal di akhirat.

Abu Muslim Al Khaulani adalah di antara wali tingkatan ini. Biasanya jika ia merasa letih ketika beribadah di malam hari, maka ia memukul kedua kakinya seraya berkata: “Kamu berdua lebih cepat dipukul dari binatang ternakanku”.

27. Di antaranya, ada pula yang termasuk Az Zuhaad. Mereka termasuk orang-orang yang suka meninggalkan kesenangan duniawi. Mereka memiliki harta, tetapi mereka tidak pernah menikmatinya sedikit, sebab, seluruh hartanya mereka nafkahkan pada jalan Allah. Sayyid Muhyiddin mengatakan: “Di antara pamanku ada yang tergolong dari wali tingkatan ini”. Disebutkan bahwa Syeikh Abdullah At Tunisi, seorang ahli ibadah di masanya, ia dikenal sebagai salah seorang wali Az Zuhad. Pada suatu hari, penguasa kota Tilmasan menghampiri tempat Syeikh Abdullah seraya berkata kepadanya: “Wahai Syeikh Abdullah, apakah aku bisa shalat dengan pakaian kebesaranku ini?” Mendengar pertanyaan itu, Syeikh Abdullah tertawa. Tanya si penguasa: “Mengapa engkau tertawa, wahai Syeikh? Jawab Syeikh Abdullah: “Aku tertawa karena lucunya pertanyaanmu tadi, sebab meng-apa engkau bertanya kepadaku seperti itu, padahal pakaianmu dan makananmu dari harta yang haram?” Mendengar jawaban Syaikh Abdullah seperti itu, maka si penguasa menangis dan menyatakan taubatnya kepada Syaikh, selanjutnya ia meninggalkan kekuasaannya demi untuk mengabdikan diri kepada Syeikh Abdullah, sehingga beliau berkata: “Mintalah doa kepada Yahya Bin Yafan, sesungguhnya ia adalah seorang penguasa dan seorang anggota zuhud, andaikata aku diuji sepertinya, mungkin aku tidak dapat melaksanakannya”.

28. Di antaranya, ada pula yang termasuk Rijalul Maa? I. Mereka adalah para wali yang senantiasa beribadah di pinggir-pinggir laut dan sungai. Mereka tidak banyak dikenal, karena mereka suka mengasingkan diri. Disebutkan, bahwa Syeikh Abu Saud Asy Syibly pernah berada di pinggir sungai Dajlah di Baghdad. Ketika hatinya bergerak: “Apakah ada di antara hamba-hamba Allah yang beribadah di dalam air?” Tiba-tiba ada seorang yang muncul dari dalam air seraya berkata: “Ada, wahai Abu Saud. Di antara hamba-hamba Allah ada juga yang beribadah di dalam air dan aku termasuk di antara mereka. Aku berasal dari negeri Takrit, aku sengaja keluar, karena beberapa hari mendatang akan terjadi musibah di negeri Baghdad “. Kemudian ia menghilang ke dalam air. Kata Abu Saud: “Ternyata tidak lebih dari lima belas hari musibah memang terjadi.”

29. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al afrad. Mereka termasuk wali-wali berkedudukan tinggi. Di antara mereka adalah Syeikh Muhammad Al? Awani, sahabat karib Syeikh Abdul Qodir Al Jailani. Mereka ini jarang dikenal manusia publik, karena posisi mereka terlalu tinggi. Jumlah mereka tidak terbatas. Ada kalanya jumlah mereka meningkat dan ada kalanya pula berkurang.

30. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al umana? artinya orang-orang yang dapat diberikan kepercayaan. Di antara mereka adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, seperti yang disebutkan oleh Nabi saw: “Abu Ubaidah adalah orang yang paling dapat dipercaya di antara umat ini”. Jumlah mereka tidak terbatas. Mereka jarang dikenal manusia, karena mereka tidak pernah menonjol ditengah masyarakat.

31. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al Qurra?. Mereka anggota membaca Al Quran. Menurut sebuah hadis, wali-wali ini termasuk orang-orang yang dekat dengan Allah, karena mereka anggota Al Quran. Dan mereka harus dimuliakan. Syeikh Sahal Bin Abdullah At Tusturi termasuk diantara mereka.

32. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al Ahbab, yaitu orang-orang yang dikasihi. Jumlah mereka tidak terbatas, adakalanya meningkat, adakalanya pula berkurang. Mereka mencapai tingkatan ini disebabkan mereka melakukan segala ibadah dan takarrub karena cinta kepada Allah. Ibadah yang didasari cinta, lebih baik dari ibadah yang berharap pahala dan surga. Maka sebagai imbalan baik untuk mereka, mereka mendapat kasih sayang Allah yang luar biasa.

33. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al Muhaddathun, yaitu orang-orang yang selalu diberi ilham oleh Allah. Menurut hadits Nabi, ada sebagian dari umatku yang diberi ilham dari Allah. Maka Umar Bin Al Khattab termasuk salah satu dari mereka. Sayyid Muhyiddin Ibnu Arabi ra berkata: “Dizaman kami ada pula wali-wali Al Muhaddathun, di antaranya adalah Abul Abbas Al Khasyab dan Abu Zakariya Al Baha-i”.

Para wali yang tergolong dalam kaum ini senantiasa mendapat bisikan-bisikan rohani dari penduduk alam malakut, misalnya dari Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail, sebab rohani mereka sudah dapat menembus alam arwah atau alam malakut.

34. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al Akhilla?. Mereka adalah orang-orang yang dicintai Allah, sebab segala ibadah yang mereka lakukan selalu didasari cinta kepada Allah. Jumlah mereka tidak terbatas, adakalanya meningkat dan adakalanya berkurang.

35. Di antaranya, ada pula yang termasuk As Samra?. Kata As Samra? adalah berkulit hitam manis. Jumlah mereka tidak terbatas. Mereka termasuk orang-orang yang senantiasa berdialog dengan Allah, sebab hati mereka selalu dipenuhi rasa ketuhanan yang tiada taranya.

36. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al Wirathah, yaitu mereka yang mendapat warisan dari Allah. Mereka adalah para ulama, pewaris para Nabi. Kelompok ini termasuk orang-orang yang gemar beribadah sampai melebihi dari batas kemampuannya. Mereka suka mengasingkan diri di tempat-tempat terpencil demi untuk memenuhi kecintaannya kepada Allah.

37 PANGKAT WALI ALLAH

1.Qutub Atau Ghauts (1 abad 1 Orang)

Al Aqtab berasal dari kata tunggal Al Qutub yang memiliki arti penghulu. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Al Aqtab adalah pangkat kewalian yang tertinggi. Jumlah wali yang memiliki pangkat tersebut hanya terbatas seorang saja untuk setiap waktunya.

2. Aimmah (1 Abad 2 orang)

Al Aimmah berasal dari kata tunggal imam yang memiliki arti pemimpin. Setiap waktunya hanya ada dua orang saja yang dapat mencapai pangkat Al Aimmah. Keistimewaannya, ada di antara mereka yang pandangannya hanya tertuju ke alam malakut saja, ada pula yang pandangannya hanya tertuju di alam malaikat saja.

3. Autad (1 Abad 4 Orang di 4 penjuru Mata Angin)

Al Autad berasal dari kata tunggal Al Watad yang memiliki arti pasak. Yang memperoleh pangkat Al Autad hanya ada empat orang saja setiap waktunya. Mereka tinggal di utara, di timur, di barat dan di selatan bumi, mereka bagaikan penjaga di setiap pelosok bumi.

4. Abdal (1 Abad 7 Orang tidak akan bertambah & berkurang Bila ada wali Abdal yg Wafat Alloh menggantinya dengan mengangkat Wali abdal Yg Lain (Abdal = Pengganti) Wali Abdal juga ada yang Waliyahnya (Wanita).

Al Abdal berasal dari kata Badal yang memiliki arti menggantikan. Yang memperoleh pangkat Al Abdal itu hanya ada tujuh orang dalam setiap waktunya. Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Allah untuk menjaga suatu wilayah di bumi ini. Dikatakan di bumi ini memiliki tujuh daerah. Setiap daerah dijaga oleh seorang wali Abdal. Jika wali Abdal itu meninggalkan tempatnya, maka ia akan digantikan oleh yang lain. Ada seorang yang bernama Abdul Majid Bin Salamah pernah bertanya pada seorang wali Abdal yang bernama Muaz Bin Asyrash, praktek apa yang dikerjakannya sampai ia menjadi wali Abdal? Jawab Mu’adz Bin Asyrash: “Para wali Abdal mendapatkan derajat tersebut dengan empat kebiasaan, yaitu sering lapar, gemar beribadah di malam hari, suka diam dan mengasingkan diri”.

5. Nuqoba ‘(Naqib) (1 Abad 12 orang di wakilkan Alloh Masing2 pada setiap Bulan).

An Nuqaba ‘berasal dari kata tunggal Naqib yang memiliki arti kepala kaum. Jumlah wali Nuqaba ‘dalam setiap waktunya hanya ada dua belas orang. Wali Nuqaba ‘itu diberi karamah mengerti sedalam-dalamnya tentang hukum-hukum syariat. Dan mereka juga diberi pengetahuan tentang rahasia yang tersembunyi di hati seseorang. Selanjutnya mereka pun mampu untuk meramal tentang karakter dan nasib seorang melalui bekas jejak kaki seseorang yang ada di tanah. Sebenarnya hal ini tidaklah aneh. Kalau anggota jejak dari Mesir mampu mengungkap rahasia seorang setelah melihat bekas jejaknya. Apakah Allah tidak mampu membuka rahasia seseorang kepada seorang waliNya?

6. Nujaba ‘(1 Abad 8 Orang)

An Nujaba ‘berasal dari kata tunggal Najib yang memiliki arti bangsa yang mulia. Wali Nujaba ‘pada umumnya selalu disukai orang. Dimana saja mereka mendapatkan sambutan orang banyak. Kebanyakan para wali tingkatan ini tidak merasakan diri mereka adalah para wali Allah. Yang dapat mengetahui bahwa mereka adalah wali Allah hanyalah seorang wali yang lebih tinggi derajatnya. Setiap zaman jumlah mereka hanya tidak lebih dari delapan orang.

7. Hawariyyun (1 Abad 1 Orang) Wali Hawariyyun di beri kelebihan Oleh Alloh dalam hal keberanian, Pedang (Zihad) di dalam menegakkan Agama Islam Di muka bumi. Al Hawariyun berasal dari kata tunggal Hawariy yang memiliki arti penolong. Jumlah wali Hawariy ini hanya ada satu orang saja di setiap zamannya. Jika seorang wali Hawariy meninggal, maka kedudukannya akan diganti orang lain. Di zaman Nabi hanya sahabat Zubair bin Awwam saja yang mendapatkan derajat wali Hawariy seperti yang dikatakan oleh Rasululloh: “Setiap Nabi memiliki Hawariy. Hawariyku adalah Zubair ibnul Awwam “. Meskipun pada waktu itu Nabi memiliki cukup banyak sahabat yang setia dan selalu berjuang di sisi beliau. Karena beliau tahu hanya Zubair saja yang meraih pangkat wali Hawariy. Kelebihan seorang wali Hawariy biasanya seorang yang berani dan pandai berhujjah.

8. Rojabiyyun (1 Abad 40 Orang Yg tidak akan bertambah & Berkurang Bila ada salah satu Wali Rojabiyyun yg meninggal Alloh kembali mengangkat Wali rojabiyyun yg lainnya, Dan Alloh mengangkatnya menjadi wali Khusus di bulan Rajab dari Awal bulan sampai Akhir Bulan oleh karena itu Namanya Rojabiyyun. Ar Rajbiyun berasal dari kata tunggal Rajab. Wali Rajbiyun itu adanya hanya di bulan Rajab saja. Mulai awal Rajab hingga akhir bulan mereka itu ada. Selanjutnya kondisi mereka kembali normal seperti semula. Setiap waktu, jumlah mereka hanya ada empat puluh orang saja. Para wali Rajbiyun ini terbagi di berbagai wilayah. Di antara mereka ada yang saling mengenal dan ada yang tidak saling mengenal.
Pada umumnya, di bulan Rajab, sejak awal harinya, para wali Rajbiyun menderita sakit, sehingga mereka tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Selama bulan Rajab, mereka senantiasa mendapat berbagai pengetahuan secara kasyaf, kemudian mereka memberitahukannya kepada orang lain. Anehnya penderitaan mereka hanya bertahan di bulan Rajab. Setelah bulan Rajab berakhir, maka kesehatan mereka kembali seperti semula.

9. Khotam (penutup Wali) (1 Alam dunia hanya 1 orang) Yaitu Isa AS ketika turun kembali ke dunia Alloh Angkat menjadi Wali Khotam (Penutup).

Al Khatamiyun berasal dari kata Khatam yang memiliki arti penutup atau penghabisan. Maksudnya pangkat AlKhatamiyun adalah sebagai penutup para wali. Jumlah mereka hanya seorang. Tidak ada pangkat kewalian umat Muhammad yang lebih tinggi dari tingkatan ini. Jenis wali ini hanya akan ada di akhir masa, yaitu ketika Nabi Isa as.datang kembali.

10. Qolbu Adam A.S (1 Abad 300 orang)

11. Qolbu Nuh A.S (1 Abad 40 Orang)

12. Qolbu Ibrohim A.S (1 Abad 7 Orang)

13. Qolbu Jibril A.S (1 Abad 5 Orang)

14. Qolbu Mikail AS (1 Abad 3 Orang tidak kurang dan tidak lebih Alloh selau mengangkat wali lainnya Bila ada salah satu dari Wali qolbu Mikail Yg Wafat)

15.Qolbu Isrofil A.S (1 Abad 1 Orang)

16. Rizalul ‘Alamul Anfas (1 Abad 313 Orang)

17. Rizalul Ghoib (1 Abad 10 orang tidak bertambah dan berkurang)

tiap2 Wali Rizalul Ghoib ada yg Wafat seketika juga Alloh mengangkat Wali Rizalul Ghoib Yg lain, Wali Rizalul Ghoib adalah Wali yang di sembunyikan oleh Alloh dari penglihatannya Makhluq2 Bumi dan Langit tiap2 wali Rizalul Ghoib tidak dapat mengetahui Wali Rizalul Ghoib yang lainnya, dan ada juga Wali dengan pangkat Rijalul Ghoib dari kaum Jin Mu’min, Semua Wali Rizalul Ghoib tidak mengambil sesuatu dari Rizqi Alam nyata ini tetapi mereka mengambil atau menggunakan Rizqi dari Alam Ghaib.

18. Adz-Dzohirun (1 Abad 18 orang)

19. Rizalul Quwwatul Ilahiyyah (1 Abad 8 Orang)

Di antaranya pula ada wali yang dikenal dengan nama Rijalul Quwwatul Ilahiyah artinya orang-orang yang diberi kekuatan oleh Tuhan. Jumlah mereka hanya delapan orang saja di setiap zaman. Wali jenis ini memiliki keistimewaan, yaitu sangat tegas terhadap orang-orang kafir dan terhadap orang-orang yang suka mengecilkan agama. Sedikit pun mereka tidak takut oleh kritikan orang. Di kota Fez ada seorang yang bernama Abu Abdullah Ad Daqqaq. Ia dikenal sebagai seorang wali dari jenis Rijalul Quwwatul Ilahiyah. Di antaranya pula ada jenis wali yang sifatnya keras dan tegas. Jumlah mereka hanya ada 5 orang disetiap zaman. Meskipun karakter mereka tegas, tetapi sikap mereka lemah lembut terhadap orang-orang yang suka berbuat kebajikan.

20. Khomsatur Rizal (1 Abad 5 orang)

21. Rizalul Hanan ( 1 Abad 15 Orang )

Ada jenis wali yang dikenal dengan nama Rijalul Hanani Wal Athfil Illahi artinya mereka yang diberi rasa kasih sayang Allah. Jumlah mereka hanya ada lima belas orang di setiap zamannya. Mereka selalu bersikap kasih sayang terhadap manusia baik terhadap yang kafir maupun yang mukmin. Mereka melihat manusia dengan pandangan kasih sayang, kerana hati mereka dipenuhi rasa insaniyah yang penuh rahmat.

22. Rizalul Haybati Wal Jalal ( 1 Abad 4 Orang )

23. Rizalul Fath ( 1 Abad 24 Orang ) Alloh mewakilkannya di tiap Sa’ah ( Jam ) Wali Rizalul Fath tersebar di seluruh Dunia 2 Orang di Yaman, 6 orang di Negara Barat, 4 orang di negara timur, dan sisanya di semua Jihat ( Arah Mata Angin )

23. Rizalul Ma’arijil ‘Ula ( 1 Abad 7 Orang )

24. Rizalut Tahtil Asfal ( 1 Abad 21 orang )

25. Rizalul Imdad ( 1 Abad 3 Orang )

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Imdadil Ilahi Wal Kauni, yaitu mereka yang selalu mendapat kurniaan Ilahi. Jumlah mereka tidak lebih dari tiga orang di setiap abad. Mereka selalu mendapat pertolongan Allah untuk menolong manusia sesamanya. Sikap mereka dikenal lemah lembut dan berhati penyayang. Mereka senantiasa menyalurkan anugerah-anugerah Allah kepada manusia. Adanya mereka menunjukkan berpanjangannya kasih sayang Allah kepada makhlukNya.

26. Ilahiyyun Ruhamaniyyun ( 1 Abad 3 Orang ) Pangkat ini menyerupai Pangkatnya Wali Abdal
Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Ilahiyun Rahmaniyyun, yaitu manusia-manusia yang diberi rasa kasih sayang yang luar biasa. Jumlah mereka ini hanya tiga orang di setiap masa. Sifat mereka seperti wali-wali Abdal, meskipun mereka tidak termasuk didalamnya. Kegemaran mereka suka mengkaji firman-firman Allah.

27. Rozulun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang )

28. Rozulun Wahidun Markabun Mumtaz ( 1 Abad 1 Orang )

Wali dengan Maqom Rozulun Wahidun Markab ini di lahirkan antara Manusia dan Golongan Ruhanny( Bukan Murni Manusia ), Beliau tidak mengetahui Siapa Ayahnya dari golongan Manusia , Wali dengan Pangkat ini Tubuhnya terdiri dari 2 jenis yg berbeda, Pangkat Wali ini ada juga yang menyebut ” Rozulun Barzakh ” Ibunya Dari Wali Pangkat ini dari Golongan Ruhanny Air INNALLOHA ‘ALA KULLI SAY IN QODIRUN ” Sesungguhnya Alloh S.W.T atas segala sesuatu Kuasa.

29. Syakhsun Ghorib ( di dunia hanya ada 1 orang )

30. Saqit Arofrof Ibni Saqitil ‘Arsy ( 1 Abad 1 Orang )

31. Rizalul Ghina ( 1 Abad 2 Orang )

sesuai Nama Maqomnya ( Pangkatnya ) Rizalul Ghina ” Wali ini Sangat kaya baik kaya Ilmu Agama, Kaya Ma’rifatnya kepada Alloh maupun Kaya Harta yg di jalankan di jalan Alloh, Pangkat Wali ini juga ada Waliahnya ( Wanita ).

31. Syakhsun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang )

32. Rizalun Ainit Tahkimi waz Zawaid ( 1 Abad 10 Orang )

33. Budala’ ( 1 Abad 12 orang )

Budala’ Jama’ nya ( Jama’ Sigoh Muntahal Jumu’) dari Abdal tapi bukan Pangkat Wali Abdal

34. Rizalul Istiyaq ( 1 Abad 5 Orang )

35. Sittata Anfas ( 1 Abad 6 Orang )

salah satu wali dari pangkat ini adalah Putranya Raja Harun Ar-Royid yaitu Syeikh Al-’Alim Al-’Allamah Ahmad As-Sibty

36. Rizalul Ma’ ( 1 Abad 124 Orang )

Wali dengan Pangkat Ini beribadahnya di dalam Air di riwayatkan oleh Syeikh Abi Su’ud Ibni Syabil ” Pada suatu ketika aku berada di pinggir sungai tikrit di Bagdad dan aku termenung dan terbersit dalam hatiku “Apakah ada hamba2 Alloh yang beribadah di sungai2 atau di Lautan” Belum sampai perkataan hatiku tiba2 dari dalam sungai muncullah seseorang yang berkata “akulah salah satu hamba Alloh yang di tugaskan untuk beribadah di dalam Air”, Maka akupun mengucapkan salam padanya lalu Dia pun membalas salam aku tiba2 orang tersebut hilang dari pandanganku.

37. Dakhilul Hizab ( 1 Abad 4 Orang )

Wali dengan Pangkat Dakhilul Hizab sesuai nama Pangkatnya , Wali ini tidak dapat di ketahui Kewaliannya oleh para wali yg lain sekalipun sekelas Qutbil Aqtob Seperti Syeikh Abdul Qodir Jailani, Karena Wali ini ada di dalam Hizab nya Alloh, Namanya tidak tertera di Lauhil Mahfudz sebagai barisan para Aulia, Namun Nur Ilahiyyahnya dapat terlihat oleh para Aulia Seperti di riwayatkan dalam kitab Nitajul Arwah bahwa suatu ketika Syeikh Abdul Qodir Jailani Melaksanakan Towaf di Baitulloh Mekkah Mukarromah tiba2 Syeikh melihat seorang wanita dengan Nur Ilahiyyahnya yang begitu terang benderang sehingga Syeikh Abdul qodir Al-Jailani Mukasyafah ke Lauhil Mahfudz dilihat di lauhil mahfudz nama Wanita ini tidak ada di barisan para Wali2 Alloh, Lalu Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani bermunajat kepada Alloh untuk mengetahui siapa Wanita ini dan apa yang menjadi Amalnya sehingga Nur Ilahiyyahnya terpancar begitu dahsyat , Kemudian Alloh memerintahkan Malaikat Jibril A.S untuk memberitahukan kepada Syeikh bahwa wanita tersebut adalah seorang Waliyyah dengan Maqom/ Pangkat Dakhilul Hizab ” Berada di Dalam Hizabnya Alloh “, Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa Ber Husnudzon ( Berbaik Sangka ) kepada semua Makhluq nya Alloh, Sebetulnya Masih ada lagi Maqom2 Para Aulia yang tidak diketahui oleh kita, Karena Alloh S.W.T menurunkan para Aulia di bumi ini dalam 1 Abad 124000 Orang, yang mempunyai tugasnya Masing2 sesuai Pangkatnya atau Maqomnya.

Firman Allah dalam Surat Al-Imron ayat 169:

“LA TAHSABANNAL LADZI QUTILUU FI SABILILLAHI AMWATAN, BAL AHYAUN INDA ROBBIHIM YURZAQUNA ”

Terjemahnya sebagai berikut:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang2 yang gugur di jalan Alloh itu ‘MATI’ bahkan mereka itu ‘HIDUP’ di sisi tuhannya dengan mendapat rezqi”.

HIDUP Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat keni’matan2 di sisi Alloh, Dan hanya Alloh sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan HIDUP nya itu.

JUMLAH WALI MENURUT SYEKH MAHYUDDIN IBNU ARABI

Menurut Syekh Mahyuddin Ibnu Arabi jumlah dan jenis kewalian ([1]) itu berjumlah 589 jenis kewalian. Sebagaimana keterangannya berikut ini;

المجموع من الأوليآء الذين ذكرنا أعدادهم فى أول هذا الباب ومبلغ ذلك خمسمائة نفس وتسعة وثمانون نفسا ( 589) منهم واحد لايكون فى كل زمان وهو الختم المحمدى وما بقى فهم فى كل زمان لاينقصون ولا يزيدون . وأما الختم فهذا زمانه وقد رأيناه وعرفناه تمم الله سعادته علمته بفاس سنة خمس وتسعين وخمسمائة (595) ([2])

Artinya;

Keseluruhan dari wali-wali Allah yang kami sebutkan jumlahnya pada awal bab mencapai 589 jenis. Satu diantara mereka yang tidak pada setiap zaman, yaitu AL KHATMUL MUHAMMADY. Dan adapun selebihnya mereka itu ada disetiap masa tidak berkurang dan tidak bertambah.

Maka adapun wali al Khatmi itu maka sekaranglah zamannya. Dan sesungguhnya kami telah mengenalnya (maka) Allah sempurnakanlah akan kebahagiaannya, aku mengenalnya dinegeri Fas pada tahun 595 H .

Syekh Mahyuddin Ibnu Arabi dalam karya besarnya (Futuhatul Makiah) menyebutkan jumlah / jenis kewalian itu mencapai 589 jenis kewalian. Dari jumlah tersebut, yang termasuk dalam kategori wali terbesar adalah;

1. Wali Quthub,

2. Al-Aimmah,

3. Al-Autad,

4. Al-Abdal, Wali-wali yang memegang wilayah

5. An-Nuqaba,

6. An-Nujaba,

7. Al-Umana,

8. Al-Hawariyyun,

9. Ar-Rajabiyyun,

10. Rijalul-Ghaib

11. Rijalul-fath,

12. Rijalul- ‘Ula,

13. Rijalul-Imdad,

14. Rijalul-Ma,

15. Rahmaniyyun,

16. Az-Zuhhad,

17. Al-Qurra,

18. Al-Ahbab,

19. Al-Muhaddatsun,

20. Al-Akhilla,

21. As-Samra,

22. Al-Waratsah,

23. Dan lain-lain

Kesemua wali-wali tersebut di atas dijelaskan dengan rinci oleh Syekh Yusuf An-Nabhany dalam kitabnya yang berjudul;

(جامع كرمات الأوليآء)

yang materi pembicaraannya khusus mengenai para wali-wali dan segala macam jenis-jenisnya. Dari sekian banyak jumlah wali-wali tersebut diatas, ada satu wali yang tidak bertambah, yaitu (jenis) wali Khatmul Muhammady (Wali Khatmi). Syekh Mahyuddin Ibnu Arabi mengaku sudah mengetahui tanda-tanda Wali Khatmi ini sebagaimana pengakuannya berikut ini;

ورأيت العلامة التى له قد أخفاها الحق فيه عن عيون عباده وكشفها الى بمدينة فاس حتى رأيت خاتم الولاية منه ([3])

Dan aku melihat tanda-tanda yang Allah sembunyikan pada dirinya dari pandangan (kasyaf) kebanyakan hamba-hamba-Nya, dan Allah berkenan membukakan (tabir ini) kepadaku dikota Fes Maroko sehingga aku melihat akan pangkat kewalian itu dari dirinya”.

Dalam pengakuannya tersebut, Syekh Mahyuddin Ibnu Arabi telah di bukakan oleh Allah tabir hijab (sewaktu di kota Fez Maroko) sehingga dia mengetahui akan figure dan tanda-tanda dari Khatmul Aulia itu yang tidak di ketahui oleh kebanyakan dari hamba-hamba Allah lainnya.

Kita patut bersyukur kepada Allah karena Dia telah memilih di antara sekian banyak hamba-Nya yang dianugerahi kasyaf seperti yang terjadi pada pribadi Ibnu Arabi sehingga dengan perantaraan (karangan)nya jualah kita dapat mengetahui akan gambaran Khatmul Aulia itu sebagaimana tersebut diatas.

Kitab-kitab yang menyebutkan tentang Khatmul Aulia antara lain adalah;

1. Futuhatul Makiah (Oleh Syekh Mahyuddin Ibnu Arabi, jilid 1-2-3)

2. ‘Anqa’u Magrib (Oleh Syekh Mahyuddin Ibnu ‘Araby, Pembahasan khusus tentang Khatmul Aulia)

3. Insanul kamil (Oleh Syekh Abdul Karim Al-Jailani pada bagian akhir kitab)

4. Khatmul Aulia (Pembahasan khusus tentang Khatmul Aulia) Oleh Syekh Muhammad Ali Al-Hakim At-Turmudzi.

5. Dll. Insya Allah

Tinggalkan komentar

WALI ALLAH: PENGERTIAN, GOLONGAN DAN CIRI-CIRI

Wali: Wali Allah atau Walīyu ‘llah), berarti adalah’ seseorang yang dipercaya ‘atau’ pelindung ‘, makna secara umum menjadi’ Teman Allah ‘dalam kalimat walīyu’ llah. Al Qur’an menjelaskan Waliallah memiliki arti orang yang beriman dan bertakwa. “Ingatlah sesungguh wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yg beriman dan mereka selalu bertakwa. “(Yunus 10:62 – Al-Furqan dalam kitab Majmu’atut Tauhid hal. 339)

Dari Abu Hurairah ia berkata: telah bersabda Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Alloh telah berfirman: Barangsiapa yang memusuhi waliku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang kepadanya, dan tidaklah seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya jadilah aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada pasti Aku akan memberinya, dan jika ia meminta perlindungan dariKu pasti Aku akan melindunginya “.

Kata ‘wali’ bila ditinjau dari segi bahasa berasal dari kata ‘al-wilayah’ yg arti adl ‘kekuasaan’ dan ‘daerah’ sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Sikkit, atau terambil dari kata ‘al-walayah’ yg berarti pertolongan. Adapun secara terminologi menurut pengertian sebagian ulama ahlussunah, wali adalah orang yang beriman lagi bertakwa tetapi bukan nabi. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa seluruh orang yang beriman lagi bertakwa adalah disebut wali Allah, dan wali Allah yang paling utama adalah para nabi, yang paling utama di antara para nabi adalah para rasul, yang paling utama di antara para rasul adalah Ulul ‘azmi, yang paling utama di antara Ulul ‘azmi adalah Muhammad. Maka para wali Allah tersebut memiliki perbedaan dalam tingkat keimanan mereka, sebagaimana mereka memiliki tingkat yang berbeda pula dalam kedekatan Mereka dengan Allah.

Dua golongan wali
Assaabiquun Almuqarrabuun (barisan terdepan dari orang-orang yang dekat dengan Allah)
Mereka yang melakukan hal-hal yang mandub (sunnah) serta menjauhi hal-hal yang makruh disamping melakukan hal-hal yang wajib. Sebagaimana lanjutan hadits: “Dan senantiasa seorang hambaku mendekatkan diri kepadaku dengan praktek-praktek sunnah sampai Aku mencintainya.”
Ashaabulyamiin (kaum kanan)
Mereka hanya cukup dengan melaksanakan hal-hal yang wajib saja serta menjauhi hal-hal yang diharamkan, tanpa melakukan hal-hal yang mandub atau menjauhi hal-hal yang makruh. Sebagaimana yang disebutkan dalam potongan hadits di atas: “Dan tidaklah seorang hambaku mendekatkan diri kepada dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya”.

Kedua golongan ini disebutkan Allah dalan firman-Nya: “Adapun jika ia termasuk golongan yang dekat (kepada Allah). Maka dia memperoleh ketentraman dan rezki serta surga kenikmatan. Dan adapun jika ia termasuk golongan kanan. Maka keamanan bagimu dari kaum kanan “. (Al Waaqi’ah: 88-91). Kemudian para wali itu terbagi pula menurut amalan dan perbuatan mereka kepada dua bagian; wali Allah dan wali setan. Maka untuk membedakan di antara kedua jenis wali ini dapat dilihat dari praktek seorang wali tersebut, bila amalannya benar menurut Al Quran dan sunnah maka dia adalah wali Allah sebaliknya bila amalannya penuh dengan kesyirikan dan segala bentuk bid’ah maka dia adalah wali setan.

Ciri Wali Allah

Allah telah menyebutkan ciri para wali-Nya dalam firmannya, “Ingatlah, sesungguhnya para wali-wali Allah Mereka tidak merasa takut dan tidak pula merasa sedih. yaitu orang-orang yang beriman lagi bertakwa “. (Yunus: 62-63). Berikut kita akan rinci fitur-fitur dari kedua jenis wali tersebut:

Beriman

Keimanan yang yang dimilikinya tidak dicampuri oleh berbagai bentuk kesyirikan. Keimanan tersebut tidak hanya sekedar pengakuan tetapi keimanan yang mengantarkan kepada bertakwa. Landasan keimanan yang pertama adalah Dua kalimat syahadat. Maka orang yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat atau melakukan hal-hal yang membatalkan kalimat tauhid tersebut adalah bukan wali Allah. Seperti menjadikan wali sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah, atau menganggap bahwa hukum selain Islam adalah sama atau lebih baik dari hukum Islam. Atau berpendapat semua agama adalah benar. Atau berkeyakinan bahwa kenabian dan kerasulan tetap ada sampai hari kiamat bahwa Muhammad bukan penutup segala rasul dan nabi.

Bertaqwa

Ia melakukan apa yang diperintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ini yaitu melakukan hal-hal yang diwajibkan agama, ditambah lagi dengan amalan-amalan sunnah. Maka oleh sebab itu kalau ada orang yang mengaku sebagai wali, tapi ia meninggalkan beramal kepada Allah maka ia termasuk pada jenis wali yang kedua yaitu wali setan. Atau melakukan ibadah-ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Baik dalam bentuk shalat maupun zikir, dll.Tautan

Tinggalkan komentar

LIMA BINTANG CAHAYA tareqat NAQSHBANDIYAH

Silsilah tariqat Naqshbandi dimulai dari Khalifah – pengganti – Rasulullah (saw) yang pertama yaitu, Abu Bakar Siddiq, sahabat paling rapat dan pengikut paling shttp://www.blogger.com/img/blank.gifetia Rasulullah (saw). Pewaris kepada beliau pula adalah Salman al-Farsi, dari Persia. Salman al-Farisi adalah seorang sahabat yang sejak dai mudanya saat di Persia, selalu menemukan para ulama dan para’ariffin ‘(mereka yang arif tentang ilmu ketuhanan), pria maupun wanita untuk menuntut ilmu dari mereka, sampai akhirnya beliau bertemu dengan orang yang dicari -carinya yaitu, Nabi dan Rasul pada zamannya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam. Pewaris kepada beliau pula adalah, Qassim bin Muhammad bin Abu Bakar, cucunda kepada Abu Bakar Siddiq, yang telah disebut diatas tadi. Selanjutnya, rahasia praktek kesufian tariqat Naqshbandi ini pula diwarisi oleh Imam besar, Imam para ‘Arifin’ dan Indikator Jalan Ketuhanan pada zamannya yaitu Jaf’ar as-Sadiq, orang yang Dipercaya. ! Beliau diakui sebagai Imam besar jalan ketuhanan oleh orang Islam yang berpaham Sunni (ahlussunnah wal jama’ah) dan juga yang berpaham Shi’a, Yahudi dan juga Kristen. Ia merupakan generasi kelima keturunan Rasulullah (saw) dan beliau mewarisi rahasia ilmu kesufian / ketuhanan ini dari keluarga ibunya yang merupakan keturunan Abu Bakar dan juga dari keluarga ayahnya yang merupakan keturunan Nabi Muhammad melalui anak kesayangan beliau (saw), Fatimah.
Bayazid al Bistami pula merupakan pewaris as-Sadiq dalam silsilah tariqat yang kaya dengan rahasia ilmu ketuhanan / kesufian ini. Kakek Bayazid merupakan seorang majusi (penyembah api). Kehidupan zuhud yang menjadi praktek Bayazid tidak tertandingi. Ia merupakan anggota Sufi yang pertama yang mengutarakan konsep fana’un fillah (binasanya makhluk – sesungguhnya Allah juga yang ada dan yang kekal).

Kata Naqshband, yang menjadi nama untuk tariqat ini berarti, ‘mengukir nama Allah dalam hati’. Sebab itulah, Imam tariqat ini dikenal sebagai Sultan Para Pengukir, yang masyhur bukan saja karena merasakan dan mengalami rasa dekatnya Allah dengan hambanya tapi juga karena benar-benar dapat mengukir kata ‘Allah’pada dada nya. Ukiran kata ‘Allah’ ditemukan saat beliau telah meninggal dunia, yaitu saat pegurusan jenazah beliau. Karamah ini terjadi karena ia selalu berada dalam kondisi mahal dan membasahkan lidah mereka dengan menyebut nama Tuhan yang Agung ‘Allah’. Kisah tentang karamah beliau, rahmat tuhan kepadanya dan juga kata-kata puji-pujinya dan cintanya terhadap Tuhan, Keesaan Allah dan bekal untuk menyelami jalan menuju ke hadirat Allah banyak dikatakan.

Silsilah Tarekat ini, mengandung 40 imam-imam besar, yang dimulai dari Rasulullah (saw) – karena praktek, dzikir dan segala rahasia ketuhanan / kesufian tariqat ini diajari oleh Rasulullah (saw) yang diwarisi turun temurun oleh imam-imam berikutnya. Pada setiap zaman ada satu imam yang merupakan Qutub dan Ghawth pada zaman tersebut. Imam-imam ini, memiliki daya tarik yang begitu kuat dalam ‘mengajak’ murid-muridnya ke hadirat Allah sehingga mereka akan datang dari jarak jauh hanya untuk berada dekat dengan imam-imam ini. Kemampuan ini untuk menggunakan kekuatan spiritual mereka tanpa pembatasan waktu dan ruang, merupakan penyebab jutaan manusia mendekatkan diri mereka ke hadirat Allah – Bahkan mungkin antara jutaan manusia itu tidak pun pernah bersua muka dengan Imam tadi.

Tariqat Naqshbandi memiliki sejarah yang panjang yaitu silsilah pemimpin atau imam-imam besar untuk tariqat ini dapat terdeteksi sehingga ke Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq, Khalifah Ar-Rasyidun yang pertama.Abu Bakar as-Siddiq menjadi pengganti pertama kepada Rasulullah (saw) untuk memimpin ummat Islam pada waktu itu dan memperkuat rohani dan iman mereka. Firman Allah dalam Al-quran yang mulia

“… Sedang dia salah seorang dari 2 orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, Janganlah kamu berdukacita sesungguhnya Allah beserta kita.” (Al-Quran, 9:40)

Rasulullah (saw) pernah memuji Abubakar as-Siddiq dengan sabdanya, “Dikala terbit atau terbenamnya matahari, sinarnya yang memancar itu, tidak pernah menyinar pada seorang yang lebih baik selain Abu Bakar kecuali para Nabi dan Rasul.” (Tanggal al-Khulafa) Beliau (saw) juga bersabda, “Abu Bakar lebih utama dari kamu bukan karena banyaknya shalat atau puasa beliau melainkan karena sesuatu rahasia yang berakar di dalam hatinya.” (Manaqib as-Sahaba Imam Ahmad). Rasulullah (saw) pernah bersabda, “Jika aku di kehendaki memilih teman yang kucintai, aku memilih Abu Bakr sebagai teman yang kucintai; tetapi dia adalah saudara dan sahabatku.” (Shahih Muslim)

Tariqat Naqshbandi terbina dasar dan rukunnya oleh 5 bintang yang bersinar diatas jalan Rasulullah (saw) ini dan inilah yang merupakan fitur yang unik untuk tariqat ini yang membedakannya dari tariqat lain. Lima bintang yang bersinar itu adalah Abu Bakar as-Siddiq, Salman Al-Farisi, Bayazid al-Bistami, Abdul Khaliq al-Ghujdawani dan Muhammad Bahauddin Uwaysi a-Bukhari yang lebih dikenal sebagai Shah Naqshband – Imam yang utama dalam tariqat ini.

Kata Naqshband berasal dari dua cetusan ide: naqsh yang berarti “ukiran” dan merupakan bentuk mengukir nama Tuhan di hati dan band pula berarti “ikatan” yang menunjukkan ikatan antara insan dan Penciptanya. Oleh itu berarti Tariqat Naqshbandi mengajak murid-muridnya pria atau perempuan, agar melakukan shalat dan menunaikan hal yang wajib menurut Al-Quran dan As-sunnah Rasulullah (saw) dan kehidupan para sahabat beserta dengan sifat Ihsan. Agar terus bermujahadah dan dapat merasakan kehadiran Allah dan perasaan cinta kepada Allah dalam hati murid-murid tadi dan seterusnya terjalinlah ikatan antara murid dengan Penciptanya.

Salman al-Farisi
Selain Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq siapakah lagi bintang yang bersinar di dalam tariqat warisan Rasulullah (saw) ini? Salah seorang dari mereka adalah Salman al-Farisi.Beliau berasal dari Ispahan, sebuah kota di Persia. Didalam sejarah, beliau adalah sahabat yang bertanggung jawab memberikan usulan pembangunan parit pada ummat Islam ketika menghadapi para musyrik saat perang Ahzab.Cadangan ini telah dapat menghindari korban jiwa yang banyak dan kemudian menuju ke perdamaian dalam waktu yang singkat. Setelah beliau Rasulullah (saw) wafat, beliau pindah ke al-Madain, ibukota Persia ketika itu. Ia diangakat menjadi Pangeran dan gubernur kota tersebut. Beliau terus menetap di kota tersebut sampai ke mangkatannya.

Bayazid Tayfur al-Bistami (q)
Seorang lagi bintang yang menyinari tariqat ini adalah Bayazid Tayfur al-Bistami. Datuk beliau merupakan seorang penganut agama Majusi. Bayazid mendalami ‘ilmu shariah dan mengamalkan kehidupan yang sangat zuhud. Sepanjang hidupnya dia sangat tekun dan bersungguh-sungguh dalam menerapkan perintah agama. Dia mengajar murid-muridnya agar menyerahkan segala usaha mereka, di dalam tangan Allah. Dia juga mendorong murid-muridnya untuk mengamalkan ajaran Tauhid yang benar dan suci dengan penuh keikhlasan.
Doktrin ketauhidan Bayazid al Bistami
Lima elemen utama terdapat di dalam doktrin ini yaitu: tetap melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam agama berlandaskan wahyu (Al-quran) dan As-sunnah Nabi Muhammad (saw) [hadits dan cara hidup beliau], selalu berkata benar, jauhi hati dari menyimpan perasaan benci, menjauhi makanan yang membahayakan diri dan menjauhi bid’ah. Bayazid berkata, tujuan utama para Sufi adalah untuk melihat Allah di alam akhirat kelak.Dia pernah berkata: “Ada hamba-hamba Allah yang istimewa disisiNya, akan memilih dan meminta untuk dikeluarkan dari surga dengan cepat sebagaimana penghuni neraka meminta untuk disegerakan keluar dari neraka, JIKA pandangan mereka ditutup dari berpeluang untuk memandang Allah di surga. “

Abdul Khaliq al-Ghujduvani (q)
Seorang lagi bintang yang bersinar, dalam tariqat warisan Rasulullah (saw) ini, adalah Abdul Khaliq al-Ghujduvani. Beliau dilahirkan di sebuah kampung bernama Ghujduvani, terdekat dengan Bukhara – sekarang dikenal sebagai Uzbekistan dan disinilah beliau dibesarkan dan dimakamkan. Ia mempelajari ‘Ilmu Wahyu,’ Ilmu Tafsir, Usul Fiqh dan ‘Ilmu Hadith dari Shaykh Sadruddin. Setelah menguasai ‘Ilmu Ketuhanan (Shari’ah) dia melanjutkan pula studinya ke Jihaddun Nafs yaitu memerangi nafsu yang ada didalam diri setiap insan. Ia berusaha keras memerangi nafsu diri yang rendah sampai ia berada dan sampai ke maqam kesucian dan keikhlasan. Ia kemudian bepergian ke Damaskus dan membuka sekolah yang telah melahirkan banyak anak-anak murid yang melanjutkan perjuangan menyebarkan ajaran Islam yang sebenarnya ke daerah Asia Tengah dan juga Timur Tengah.
Abdul Khaliq menghubungkan penelitian dan ajaran pemimpin tariqat sebelum beliau dengan mengumpulkan metode dzikr menurut sunnah Rasulullah (saw). Didalam surat-suratnya ia menulis tentang adab-adab yang harus dipatuhi oleh setiap murid tariqat Naqshbandiyya. Antara kata-katanya, “Wahai anakku, aku menyeru kamu supaya menuntut ‘ilmu dan melakukan praktek saleh dan bertakwalah kepada Allah. Ikutilah jejak orang-orang yang saleh dan bertaqwa yang datang sebelum kamu pada jalan spiritual, berpeganglah pada jalan dan cara hidup Rasulullah (saw), bersahabatlah dengan mukmin yang ikhlas dan jujur.Bacalah kitab-kitab Hukum Shariah dan Usul Fiqh, pelajarilah ‘ilmu hadits,’ ilmu tafsir, jauhilah mereka yang menipu dalam agama dan tetaplah sholat berjamaah. Berhati-hati terhadap bahaya ketenaran. Duduklah bersama-sama orang-orang biasa dan janganlah kamu meminta-minta jabatan. “

Shah Naqshband Muhammad Bahauddin Uways al-Bukhari (q)
Muhammad Bahauddin Uways al-Bukhari dikenal sebagai Shah Naqshband, Imam Tariqat Naqshbandi yang tidak ada tandingannya. Dilahirkan pada tahun 1317 Masehi di sebuah kampung yang bernama Qasr al-Arifin terletak dekat dengan Bukhara. Dalam usia muda 18 tahun ia telah mahir dan memiliki pemahaman yang mendalam tentang ‘Ilmu Shariah. Selanjutnya beliau selalu bersama Shaykh Muhammad Baba as-Samasi, yang merupakan Imam al-muhaddithin (ilmu hadits) di Asia Tengah pada zaman itu. Setelah kemangkatan beliau, Shah Naqshband bersama pula dengan Shaykh Amir Kulal. Shaykh Amir Kulal melanjutkan dan menyempurnakan pendidikan Shah Naqshband dalam ‘Ilmu al-Quran dan’ Ilmu adz-dzikr yang diwarisinya dari Nabi Muhammad (saw), Abu Bakar as-Siddiq, Salman al-Farisi sampai ke zamannya.

Anak-anak murid Shaykh Amir Kulal biasa berdzikir dengan suara yang kuat saat berdzikir massal. Bila sendirian mereka berdzikir secara senyap. Shah Naqshband pernah berkata,

“Ada dua metode berdzikir yaitu yang kuat dan yang diam. Saya memilih yang diam karena ia memiliki efek yang lebih mendalam.” Karena inilah, metode dzikir secara diam merupakan fitur yang khusus untuk Tariqat Naqshbandiyya yang membedakannya dari lainnya tariqat. Meskipun Abu Bakar as-Siddiq dan Shah Naqshband memilih dan cenderung kepada metode dzikir secara senyap, mereka tidak pernah mengkritik metode dzikir secara kuat.

Shah Naqshband telah menunaikan fardhu haji sebanyak 3 kali. Setelah itu beliau menetap di Merv dan Bukhara. Di akhir hidupnya dia kembali ke tempat kelahirannya, kota Qasr al-Arifin. Ajarannya menjadi buah mulut orang dan dan namanya meniti dari bibir ke bibir. Pengunjung dari jauh datang untuk mengunjungi dan belajar dan mendapatkan nasihat dari beliau. Murid-muridnya menimba ilmu dalam madrasah dan masjid yang dapat memuat 5000 orang dalam satu-satu waktu yang dibangun oleh beliau. Madrasah ini merupakan pusat studi Islam yang terbesar di Asia Tengah. Bangunan ini terus berdiri tegak sampai sekarang walaupun telah melalui zaman pemerintahan Komunis selama 70 tahun. Sekarang pemerintah lokal mulai memperbaiki dan menjaga bangunan tersebut.

Ajaran Shah Naqshband telah memberi cahaya kedalam hati-hati murid-muridnya yang selama ini berada di dalam kegelapan. Ia mengajar anak muridnya tentang Keesaan Allah yang mana bidang ini menjadi bidang keahlian Imam-imam Tariqat ini yang datang sebelum beliau. Ia menekankan kepada anak muridnya tentang pentingnya untuk merealisasikan maqam al-Ihsan berdasarkan hadits Rasulullah (saw), “Ihsan adalah menyembah Allah seperti kita dapat melihatNya …”

Saat beliau sakit di saat-saat akhir hidupnya, ia mengunci dirinya dalam sebuah kamar. Murid-muridnya datang mengunjungi beliau tanpa henti-hentinya dan beliau memberi kepada mereka apa yang mereka butuhkan. Pada satu ketika ia telah menyuruh anak-anak muridnya membaca surat Yaasin. Setelah mereka selesai membacanya, ia mengangkat tangan dan terus berdoa.Seterusnya beliau mengangkat jarinya sambil membaca kalimat syahadat. Setelah selesai membaca kalimat tersebut, ruh beliau pergi meninggalkan jasad untuk kembali ke hadrat ilahi, pada malam Senin tahun 1388 Masehi. Beliau dimakamkan didalam tamannya, seperti yang beliau wasiatkan. Raja-raja yang memerintah Bukahara setelah itu, menjaga dan membesarkan madrasah dan masjid yang telah ia bina dan menambahkan jumlah uang waqaf untuk pemeliharaan dan penggunaan madrasah tersebut.

Shaykh-shaykh Tariqat Naqshbandi yang datang setelah Shah Naqshband telah banyak menulis tentang riwayat hidup beliau. Antaranya adalah Masoud al-Bukhari dan Sharif al-Jurjani yang menulis Risala Bahaiyya yang menjelaskan secara rinci tentang kehidupan dan ajaran serta fatwa-fatwa yang telah di keluarkan oleh Shah Naqshband. Shaykh Muhammad Parsa yang meniggal di Madinah pada tahun 1419 menulis Risala Qudsiyya. Karya ini menceritakan tentang kelebihan dan kesalehan serta ajaran-ajaran Shah Naqshband.

Banyak karya-karya yang telah ditinggalkan oleh Shah Naqsband untuk generasi setelah beliau. Antaranya termasuk, al-Awrad al-Bahaiyya, Praktek Shah Naqshband, Tanbih al-Ghafilin Maslakul Anwar dan Hadiyyatus Salikin wa Tuhfat at-Talibeen. Dia juga telah menulis puji-pujian buat Rasulullah (saw) dan mengeluarkan banyak fatwa pada zamannya. Antara pendapat beliau adalah, semua praktek dan metode penyembahan, apakah yang wajib ataupaun yang sunat, adalah dibenarkan untuk dilakukan untuk menemukan dan mencapai Haqiqat. Shalat, puasa, zakat dan sedekah, berdzikir dan mnyebut nama-nama Allah, memerangi nafsu (mujahadatunnafs) dan kehidupan zuhud, merupakan metode-metode yang diutamakan agar seseorang murid itu, dapat sampai ke hadirat Ilahi. (Lihat 11 rukun Tariqat Nashbandi).
[Image] Shaykh Nazim al-Haqqani, Pemimpin Tariqat Naqshbandi di masa ini, saat mengunjungi makam Shah Naqsband. Mufti Uzbekistan sedang memberi beliau segelas air dari sumur air Shah Naqshband.

Shah Naqshband telah membangun madrasah beliau untuk memperbaharui dan mengembalikan obor Islam untuk ummat Islam dizamannya untuk menghayati ajaran Islam sebagai cara hidup mereka. Beliau menekankan tentang pentingnya mematuhi Al-Quran dan As-sunnah Rasulullah (saw). Anak muridnya pernah bertanya kepada beliau,

“Apakah yang kami perlukan untuk mengikuti jalan Tuan?” Beliau menjawab, “Mematuhi dan menghayati jalan dan cara hidup Rasulullah (saw) dengan penuh kecintaan.”

Ia melanjutkan, “Jalan kita adalah jalan yang jarang ditemukan, karena ia berpegang kepada Al-Urwatul Wuthqa, yaitu ikatan yang tidak bisa diputuskan. Jalan ini, tariqat ini hanya mengharuskan pengikutnya, memegang pada jalan yang telah dilalui oleh Rasulullah (saw) – jalan yang suci lagi dilindungi – dan jalan yang dilalui oleh pengikut dan para sahabat beliau (saw) di dalam perjuangan kita untuk menuju ke hadrat ilahi – mengenal hakihat ketuhanan. “
Kehidupan Shah Naqshband amatlah zuhud. Beliau sangat mementingkan kehalalan makan yang ia makan. Ia memakan roti dari barley yang ia tanam dan panen sendiri. Ia amat mencintai para fakir miskin dan selalu memasak dan memperlakukan mereka serta menziarahi mereka saat mereka sakit. Sebenarnya ia seorang yang kaya dan suka menafkahkan hartanya semata-mata pada jalan Allah, bukan untuk diri atau keluarga. Sifat beliau yang pemurah itulah yang menyebabkan ia sangat dicintai dan sifat kedermawanannya selalu menjadi buah mulut orang.

Shah Naqsband pernah berkata:

“Tariqat Naqshbandi ini, merupakan jalan yang paling mudah dan senang untuk seorang murid untuk memahami tentang Tauhid.Ia bebas dari bid’ah atau apapun peyimpangan dan perbuatan yang ekstrim (shaathiyyat) atau tarian dan sebutan yang sulit untuk dipahami (sama’a). ia tidak meminta muridnya untuk selalu berlapar atau berjaga sepanjang malam.Oleh karena sifat-sifat inilah, Tariqat Naqshbandiyya tetap bebas dari mereka yang jahil atau penipuan (mushawazeen). Kesimpulannya, kita mengatakan bahwa tariqat kita ini merupakan ibu untuk tariqat-tariqat lain dan penjaga amanah spiritual. Jalan ini adalah jalan yang paling aman, berhikmah, dan jelas. Ia umpama sumur air yang darinya dapat diminum air yang suci dan sangat bersih. Saat ini Tariqat Naqshbandiyya bebas dari ancaman atau serangan dari pihak karena ia berpegang teguh pada As-sunnah Rasulullah (saw) – jalan yang terpelihara lagi diredhai.

Tinggalkan komentar

SYEIKH ABU YAZID AL Bustami: PELOPOR paham TASAWWUF

Karya-karyanya yang didalami dari pengalaman ruhaninya.
Merupakan salah satu dasar paham Wahdatul al Wujud, Wahdatul al syuhud, Ana al Haq dan Rabbani.

Faham Wahdatul Wujud ini dianut oleh Abu Hafas Al Naisabur, Abu Sa’id al Harraz, Junaid al Baghdadi, at Thusi, al Kalabasi, al Hallaj, Ibnu Arabi, Suhrawardi dan Maulana Rummi

Sedangkan Wahdatul al syuhud dianut oleh Muhammadan al Makki, Muhasibi al Sulami, Hujwiri, Al Qusyairi dan Imam al Ghazali dan Abdul Qadir Jilani dan Ahmad Rifa’i.

Dalam sejarah perkembangan tasawuf, Abu Yazid al-Bustami disebut sebagai sufi pertama yang membawa faham ittihad dalam arti seseorang telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, karena kesadarannya telah lebur bersatu dengan eksistensi Tuhan.

Munculnya paham ini telah menimbulkan sikap dan pandangan yang mendukung dan yang menentang di kalangan ulama. Tulisan ini berupaya mengkaji persoalan ini dalam sudut pandang pemahaman dunia tasawuf.

Dunia tasawuf adalah dunia rasa yang sarat dengan pengalaman spiritual yang seringkali berada di luar lingkungan rasional dan akal manusia. Butuh disadari bahwa sebelum terjadinya ittihad seorang sufi telah mengalami fana ‘dan baqa’. Dalam kondisi demikian tentu tidak bisa dipakai ukuran yang bisa digunakan untuk menilai suatu luahan luarbiasa (syathahat) yang keluar dari mulut seseorang yang dalam kondisi sadar. Sangat disayangkan pengalaman sufi dan spiritual seperti ini sering terungkap pada khalayak publik sampai dipandang sebagai ucapan yang menyesatkan karena secara lahiriah melanggar prinsip tanzih dalam ajaran Islam.

Ia memiliki nama lengkap Abu Yazid Thaifur bin Isa, beliau dilahirkan di Bustham Khurasan pada tahun 200 H (813 M) an ia lebih dikenal dengan nama Abu Yazid Al Busthami. Beliau wafat di Bustham pada tahun 261H (875M)

Abu Yazid dikenal sebagai anak saleh dalam lingkungan keluarga yang taat beragama. Ibunya dengan tekun membimbing dan megirimnya untuk belajar agama ke masjid. Setelah dewasa ia melanjutkan belajar agama ke berbagai daerah untuk berguru kepada ulama-ulama terkenal seperti Abu Ati dari Sind.

Kehidupannya sebagai seorang sufi ditempuh dalam perjalanan yang cukup panjang, sekitar dalam waktu 30 tahun beliau berkelana menyusuri padang pasir, hidup dengan zuhud, makan sedikit, tidur yang tidak begitu banyak. Dari kezuhudannya itu beliau dapat mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ma’rifat yang hakiki untuk dapat mengenal Allah.

PENDAHULUAN

Abu Yazid al-Bustami, nama lengkapnya adalah Abu Yazid bin Isa bin Syurusan al-Bustami. Dia lahir sekitar tahun 200 H (813 M) di Bustam, bagian Timur Laut Persia. Di Bustam ini pula ia meninggal padatahun 261 H (875 M); dan makamnya masih ada sampai saat ini banyakpengunjung dari berbagai tempat. Ia dikuburkan berdampingan dengan kuburan Hujwiri. Nasiri Khusraw dan Yaqut. Pada tahun 1313 M. didirikandi atanya sebuah kubah yang indah oleh seorang Sultan Mongol, Muhammad Khudabanda pada nasehat gurunya Syekh Syafruddin, salah seorang keturunan dari Bustam itu. Abu Yazid adalah seorang tokoh sufi yang terkenal pada abad ke 3 Hijriyah. Kakeknya Surusyan adalah seorang penganut agama Zoroaster (majusi), yang kemudian masuk Islam. Sedikit sekali orang mengetahui tentang sejarah hidupnya. Jika tidak ada penulis seperti di-Attar, orang tidak mengenalnya sama sekali. Siapa Abu Yazid itu, beberapa catatan tentang hidupnya hanya berupa catatan-catatan singkat sufi belaka

Sebelum Abu Yazid mempelajari tasawuf, ia belajar agama Islam menurut mazhab Hanafi. Kemudian ia memperoleh pelajaran tentang ilmu tauhid dan hakikat, begitu juga tentang fana ‘dari Abu Ali Sindi. Dia tidak meninggalkan tulisan, tetapi pengikut-pengikutnya mengumpulkan ucapan / ajaran-ajarannya. Abu Yazid adalah seorang zahid yang terkenal. Baginya zahid itu adalah seseoarang yang telah menyediakan dirinya untuk hidup terdekat dengan Allah. Hal ini berjalan melalui tiga fas, yaitu zuhud terhadap dunia, zuhud terhadap akhirat dan zuhud terhadap selain Allah. Dalam fas terakhir ini ia berada dalam kondisi mental yang membuat dirinya tidak mengingat apa-apa lagi selain Allah. Abu Yazid adalah seorang tokoh sufi yang membawa ajaran yang berbeda dengan ajaran-ajaran tasawuf sebelumnya. Ajaran yang dibawanya banyak ditentang oleh ulama Fiqh dan Kalam, yang menjadi sebab ia keluar masuk penjara. Meskipun demikian, ia memperoleh banyak pengikut yang percaya pada ajaran yang dibawanya. Pengikut-pengikutnya menyebutnya Taifur. Kata yang diucapkannya seringkali memiliki arti yang begitu mendalam, sehingga jika dipahami secara zahir akan membawa kepada syirik, karena mempersekutukan antara Tuhan dengan manusia.

Memang dalam sejarah perkembangan tasawuf Abu Yazid dipandang sebagai pembawa faham al-fana ‘dan al-baqa’ dan sekaligus pencetus fahamal-Ittihad; dan sehingga dijuluki sebagai Orang pertama dari kaum sufi yang mabuk kepayang ..

Apa yang dimaksud dengan al-fana’, al-baqa’ dan al-Ittihad yang menjadi inti dari ajaran tasawuf Abu Yazid ini akan diuraikan pada bagian kedua berikut ini,

Ajaran Tasawufnya ABU YAZID AL Bustami

1. Fana dan Baqa ‘

Ajaran tasawuf terpenting Abu Yazid adalah fana’ dan baqa’. Ia dipandang sebagai ahli sufi pertama memberikaan ajaran fana dan baqa.

Dari segi bahasa, fana ‘berasal dari kata faniya yang berarti musnah atau lenyap. Dalam istilah tasawuf, fana adakalanya diartikan sebagai kondisi moral yang luhur.

Dalam hal ini Abu Bakar Al-Kalabadzi (w. 378 H / 988 M) mendefinisikannya: “hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang, tidak ada pamrih dari segala kegiatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar, dan ia telah menghilangkan semua kepentingan ketika berbuat sesuatu.

Perolehan Abu Yazid ketahap fana ‘dicapai setelah meninggalkan segala keinginan selain keinginan kepada Allah.

Perjalanan Abu Yazid dalam menempuh fana itu sebagaimana dijelaskan: “Permulan adanya aku di dalam Wahdaniyat-Nya, aku menjadi burung yang tubuhnya dari Ahdiyat, dan kedua sayapnya dari daimunah. (Tetap dan permanen). Maka senantiasalah aku terbang di dalam udara kaifiat sepuluh tahun lamanya, sampai aku dalam udara demikian rupa 100 kali. Maka Sentiasalah aku terbang dan terbang lagi di dalam bidang azal. Maka kelihatanlah olehku pohon ahdiyat “(lalu ia terangkan apa yang dilihatnya pada pohon itu, buminya, dahannya, buahnya dan lain-lainnya.

Akhirnya beliau berkata: “Demi sadarlah aku dan tahulah aku bahwasanya: sama sekali itu hanyalah tipuan khayalan belaka”.

Kata-kata yang demikian dinamai syatahat, artinya kata-kata yang penuh khayal, yang tidak dapat dipegangi dan dikenakan hukum.

Pada suatu malam ia bermimpi bertemu dengan Tuhan dan bertanya kepada-Nya: “Tuhanku, tahukah untuk sampai ke-Mu?”. Tuhan menjawab: “Tinggalkanlah dirimu dan datanglah”.

Peninggalan Abu Yazid adalah menghilangkan kesadaran akan dirinya dan alam sekitarnya untuk dikonsentrasikan kepada Tuhan. Proses ini disebut juga dengan at-tajrid atau al-fana ‘bittauhid.

Ucapan-ucapan Abu Yazid yang menggambarkan bahwa ia telah mencapai al-fana ‘antara lain: “Aku kenal pada Tuhan melalui diriku hingga aku hancur (fana), kemudian aku kenal pada-Nya melalui diri-Nya maka aku hidup (hayat).

Kehancuran (fana ‘) dalam ucapan ini memberikan 2 bentuk identifikasi (Al-Ma’rifat) terhadap Tuhan, yaitu:

a. Pengenalan terhadap Tuhan melalui diri Abu Yazid.
b. Pengenalan terhadap Tuhan melalui diri Tuhan.

Baqa ‘

Adapun baqa ‘berasal dari kata baqiya. Arti dari segi bahasa adalah tetap. Atau menetapkan dalam Allah untuk selamanya. Sedangkan berdasarkan istilah tasawuf berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah. Aadapun paham baqa ‘tidak dapat dipisahkan dengan paham fana’ karena keduanya merupakan paham yang berpasangan. Baqa merupakan tahap terakhir. Jika seorang sufi sedang mengalami fana ‘, ketika itu juga ia sedang menjalani baqa’.

Menurut pandangan sufi, setelah melalui latihan spiritual, penghayatan zikirillah, perbuatan kebajikan, pengabdian kepada Allah yang sebenarnya, penghapusan unsur-unsur kejiwaaan, maka yang tertinggal dalam diri sufi adalah sesuatu yang hakiki dan sesuatu yang abadi

Dalan jalan keruhanaian, sesudah tingkat fana dalam Allah. Allah mengatur hamba Nya di dalam kekdudukanan segala posisi (Maqam Al-maqamat) atau disuruhnya kemblai ke dunia untuk meyempurnakan mereka yang belum sempurna. Kaum ariffin menetapkan dalam Allah, tetapi pergi kembali ke makhluk dengan cinta, kemurahan, kehormatan dan kemuliaannya. Kaum Ariffin yang mencapai keabdian setelah fana ini ditujukan kepada manusia yang sempurna yang harus bekrja dan beramal di dunia, membimbing mereka yang belum sempurna. Jika tidak diberi tugas ini, Allah menyibukkan hamba Nya dengan dirinya sendiri dalam posisi segala posisi.

2. Ittihad

Ittihad adalah penyatuan, yaitu penyatuan dengan Tuhan tanpa ada perantara apa pun.

Abu Yazid menyebutnya dengan tajrid fana at tauhid. Ittihad adalah tahapan selanjutnya yang dialami seorang sufi setelah ia menempuhi tahapan fana dan baqa ‘. Hanya saja dalam tulisan-tulisan sebelumnya, pembahasan tentang ittihad ini tidak ditemukan. karena pertimbangan keamanan jiwa ataukah ajaran ini sangat sulit dilaksanakan merupakan pertanyaan yang sangat baik untuk dikaji lebih lanjut. Dalam tahapan ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan, antara yang mencintai dan yang dicintai menyatu, baik dirinya maupun perbuatannya.Dalam ittihad identitas telah hilang dan identitas menjadi satu. Sufi yang bersangkutan, karena fananya tak memiliki kesadaran lagi dan berbicara dengan nama Tuhan

Al Bustami dipandang sebagai sufi pertama yang menimbulkan ajaran fana dan baqa ‘untuk mencapai ittihad dengan Tuhan
Pengalaman kedekatan Abu Yazid dengan Tuhan sampai mencapai ittihad disampaikannya dalam ungkapan:
Pada suatu ketika aku dinaikkan ke hadirat Tuhan, lalu Ia berkata: “Abu Yazid, makhluk-makhluk-Ku sangat ingin memandangmu.”

Aku menjawab: “Kekasihku, aku tak ingin melihat mereka. Tetapi jika itu kehendak-Mu, maka aku tak berdaya untuk melawan-Mu. Hiasilah aku dengan keesaan-Mu, sehingga jika makhluk-makhluk-Mu memandangku, mereka akan berkata:” Kami telah melihat-Mu. Engkaulah itu yang mereka lihat, dan aku tidak berada di depan mereka itu. “

Puncak pengalaman kesufian al-Bustami dalam ittihad ini tergambar dalam ungkapan berikut:

Tuhan berkata: “Abu Yazid, mereka semua kecuali engkau adalah makhluk-Ku. Aku pun berkata, aku adalah Engkau. Engkau adalah aku, dan aku adalah Engkau. Terputus munajat. Kata menjadi satu, bahkan semuanya menjadi satu. Tuhan berkata kepadaku, “Hai engkau”. Aku dengan perantaraan-Nya menjawab, “Hai aku” Ia berkata, “Engkaulah yang satu. Aku menjawab, akulah yang satu”. Ia berkata, “Engkau adalah engkau. Aku menjawab:” aku adalah aku. “

“Maha suci aku, maha suci aku, maha besar aku”.
“Maha suci aku tiada dalam baju ini selainnya Allah”

Dalam ittihad kelihatannya lidah berbicara melalui lisan Abu yazid. Ia tidak mengaku dirinya Tuhan, meskipun pada lahirnya ia berkata demikian
Suatu ketika seorang dengan rumah Abu Yazid dan mengetuk pintu.

Abu Yazid bertanya, “Siapa yang engkau cari?” Orang itu menjawab. “Abu Yazid”. Abu Yazid berkata, “Pergilah, di rumahmu, dia tidak ada, kecuali Allah Yang Mahakuasa dan Mahatinggi”

Ucapan-ucapan Abu Yazid pada kalau diperhatikan secara sekilas memberikan kesan bahwa ia syirik kepada Allah. Karena itu, dalam sejarah, ada sufi yang ditangkap dan dipenjarakan karena ucapannya membingungkan golongan awam.

Kejadian-kejadian yang terjadi seperti diatas, mungkin itulah yang dimaksud dalam hadits Rasulullah SAW, yang artinya:

“Tidak cukup cara pendekatan hamba Ku kepada Ku dengan hanya menjalankan ibadah yang diperlukan ke atasnya, supaya Aku mencintainya. Akan tetapi hambaku dapat mendekati Aku dengan ia selalu memperbanyak amalan-amalan sunnah (nawafil) demikian banyaknya sehingga ia Aku cintai. Maka saat ia Aku telah cintai, maka pendengaraKU, menjadi pendengarannya, tangan-menjadi tangannya, yang dengan dia ia memegang dan kakinya yang dengan dia ia berjalan dan jika ia meminta kepada Ku maka Aku makbulkan dan jika ia meminta dilindungi dari segala kesulitan, aku lindunginya “

Akhirnya beliau berkata:

“Aku tidak pernah mengaku sebagai Tuhan. Proses ittihad adalah naiknya jiwa manusia ke hadirat Ilahi, bukan melalui penyatuan. Hancurnya segala sesuatu dari kesadaran dan pandangnnya, yang disadari dan dilihat hanya hakikat yang satu, yakni Allah. Bahkan ia tidak melihat dan menyadari sendiri karena dirinya terlebur dalam Dia yang dilihat “

“Demi sadarlah aku dan tahulah daku bahawasnya sama sekali itu hanyalah tipuan khayalan belaka”

Tinggalkan komentar

Kisah Kota MANUSIA yg Rajanya adlh Roh

Ketika Allah SWT menciptakan khalifahNya, Dia juga mendirikan sebuah kota baginya, dimana sang Khalifah itu boleh tinggal bersama rakyat jelatanya dan pegawai pemerintahannya. dia memberi nama kota itu Manusia.

Ketika Allah SWT menyiapkan pembangunan kota itu, Dia berikan sebuah tempat khusus dipusat kota kepada khalifahNya yang dinamakan hati. Ada kabar angin mengatakan apakah khalifah benar2 akan menetap di kota itu atau hanya menggunakannya sebagai pusat pentadbirannya. Apakah ia merupakan ruangan singgasana atau balai istana atau hanya tempat bersuara doang, tidaklah penting.

Allah SWT mendirikan kota dari bahan –bahan yang terdiri dari tanah, air, api dan angin. Pemimpin utama menyatakan dalam riwayat yang bernama firman Tuhan yang bermaksud:

Langit dan bumi yang kuciptakan tak dapat meliputinya, namun hati hamba Ku yang beriman meliputimya.

Manakala pemimpin kita Rasulullah juga bersabda yang bermaksud:

Allah SWT tidak memandang pada rupa parasmu atau perbuatan mu, tetapi hati mu.
Allah SWT selalu mengingati, memerhatikan dan mecermati nya setiap saaat
Dia yang meciptakan wakilnya, sudah pasti memerhatikan wakilnya itu, apa yang dibuatnya terhadap amanat yang telah diserahkannya.

Allah SWT mecipatkan roh sebagai khalifahnya atas tubuh, jadi Allah SWT membuat roh bertanggungjawab terhadap tubuh. Ingat lah firman Allah SWT yang bermaksud:

…Karena sesunggugguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati di dalam dada

Manusia yang mengembara di seluruh pelosok dunia ini. Dalam kesempatan hidup mereka , mereka dapat melihat dengan jelas. Mereka melihat yang hidup dan yang mati, yang dibangunkan dan yang dihancurkan. Mereka punya mata untuk melihat, punya telinga untuk mendengar, jadi tidak mau mengambil iktibar dari apa yang dilihat dan didenganya. Jika mereka lalai, itu karena mereka buta.

Rasulullah bersabda:

Ada sekerat daging dalam tubuh manusia. Jika bersih ia dan baik , niscaya seluruh tubuh akan menjadi baik. Jika segumpal daging itu rusak, niscaya tubuh akan rusak. Segumpal daging itu adalah hati.

Hati merupakan istana khalifah Allah, tempat meyimpan rahasia, ia merupakan peti besi tempat menyimpan catatan rahasia, hukum dan titah/perintah sang khalifah.

Ingat jika sang pemimpin kota baik, niscaya rakyat jelata pun baik, jika sang pemimpin ini tersesat, para sahabat dan rakyatnya juga tersesat.

Ketika Allah SWT menajdikan roh manusia sebagai pemimpin utama kota manusia. Dia mengajar tentang perangai, perilaku dan fikiran para penduduk kota itu. Jadi, karena ia memahami rakyatnya, maka rakyatnya menghormatinya, percaya kepadanya dan rela membelanya. Jika khalifah Allah SWT ini, tidak setia dan khianati amanatnya, niscaya penduduknya akan rusak dan juga tidak setia kepadanya. Di pihak lain jika ia bertaqwa dan memuliakan yang memberikan kepadanya kekuasaan, maka para sahabat dan rakyat akan mempercayai dan menghormatinya.

Jadi perhatikan diri anda sendiri. Jika anda bertaqwa, adil dan baik, maka roh anda pun akan jadi demikian pula. Anda sebagaimana roh anda.

Orang melihat begitu banyak hal dalam dirinya tanpa menyadari mengapa semua itu ada. Siapakah semuanya itu terjadi sejak permulaaan atau terjadi sesudahnya atau akan tetap seperti itu pula pada bila-bila. Sebab orang tidak mengetahui kerahasiaaan pemerintahan Allah SWT di dalam hati atau bagaimana melindungi gumpal daging kecil yang bernama hati tadi. Jika salah langkah boleh merusakan kita semua.

Allah SWT mendirikan menara di tanah tinggi di kota manusia. Dia membangunkannya dengan bahan-bahan yang terpilih, merancangnya untuk mengawasi seluruh kota dan meyebutnya dengan nama fikiran.

Dia juga membuka jendela besar di puncaknya tersebut untuk menikmati empat sudut kota dan menamainya mata, telinga, mulut dan hidung.
Di bagian tengah menara pula, Dia membangunkan sebuah ruang untuk mneyimpan khazanah khayalan dan dalamnya tersimpan perbendaharaan yang tersusun sempurna.

Para pemimpin panca indera ini, dapat manfaatkan ruang maklumat ini untuk kemudiannya menambah akan data-data baru kepadanya. Mimpi dalam tidur pun berasal dari ruang ini. Di sini juga, semua kekayaan dari kutipan cukai dikumpulkan oleh para pemungut cukai di dalam kota manusia, di mana hasil uang dipisahkan berdasarkan halal dan yang haram.

Allah SWT juga membangunkan ruang lain di dalam menara fikiran itu yg dinamakan ruang akal. Barang-barang di dalam ruang itu berasal dari dari ruang khayalan. Di sini barang-barang ditimbang dan diukur. Di mana apa-apa yang benar yang disimpan dalam ruang, manakala yang salah dikembalikan pada ruang pertamax tadi.

Pada sebuah sudut fikiran, dibangunkan pula ruang lain , tempat menyimpan kenangan. Penjaga kenangan ini adalah seorang pegawai yang bernama akal.

Ada kawasan lain, di dalam kota manusia yang dijadikan tempat tinggal yang bernama nafsu, sang puteri mahkota khalifah Allah. Tempat ini dikenal sebagai mementingkan diri sendiri. Disinilah terdapat berbagai pertentangan, di sini juga tersimpan perintah Allah SWT maupun laranganNya. Pada malam agung tertentu, Perintah yang Maha Agung diturunkan di sini. Tempat itu, dilindungi sendiri oleh Allah,

sebab ia berada dibawah tempat pijak, tempat kakinya yang suci berpijak yaitu roh।(khalifah Allah) yang berada di bawah dan dilindungi oleh singgasanaNya।Mengikut Imam Al Ghazali , beliau berkata:

Manusia adalah anak yang ayahnya adala roh dan ibunya adalah jiwa. Dia berpendapat bahwa Tuhan menjaga roh pada pada tingkatan tertinggi di bawah singgasanaNya dan ibu kita, jiwa pada tingkatan lebih rendah di bawah kakinya. Jadi Dia adalah Tuhan kedua orang tua kita, Dia lah Tuhan raga, roh dan jiwa. Kaum sufi mengetahui bahwa semua ucapan dan perbuatan jiwa, benar atau salah telah ditakdirkan oleh Tuhan. Satu-satunya bagian manusia yang tak terkena suratan takdir ialah roh, yang mereka mengikutinya pada masa depan.

Sebenarnya manusia memiliki tiga jenis jiwa yaitu jiwa tumbuhan yang dikelompokkan dalamnya benda-benda mati. Jenis kedua ialah jiwa haiwani, yang di dalamya dikelompokkan golongan hewan, jenis ketiga ialah jiwa rasional, yang di dalamnya di bedakan dari kedua-dua makhluk sebelumnya. Dengan dikaitkan dengan manusia. Dengan jiwa yang ketiga tadi manusia menjadi lebih unggul dari malaikat.

Seterusnya dalam kerajaan manusia, Allah SWT mencipatakan kekuatan lain yang sifatnya selalu memberontak dan ingin merebut kuasa roh dan akal. Ia dinamakan sebagai hawa nafsu dan menteri kanannya bernama syahwat.

Suatu hari, syahwat menyamar dalam pasukan kerajaan manusia, berjalan-jalan di sebagian taman indah. Tanpa sengaja, dia bertemu dengan nafs, yaitu isteri tersayang sang khalifah, Kemudian saling berpandangan dan syahwat kemudian jatuh cinta kepada nafs, Untuk bersatu dengannya, syahwat telah mengerjakan berbagai perbuatan licik, Dia menggunakan cara rayuan, bersolek , memberi hadiah indah-indah apa-apa yang dimilikinya. Utusannya yang bernama angan-angan dan dutanya yang bernama terpedaya pun kehilir kehulu di antara kedua-duanya sehingga sang isteri khalifah tadi pun jatuh cinta kepada syahwat. Sayangnya, khalifah sendiri tidak menyedarinya. Tetapi, akal mengetahuinya keadaan ini, coba menutup sebelah mata dan menyembunyikannya agar sang khalifah tidak menaruh curiga.

Bahkan dalam keadaan tertentu, nafs atau jiwa telah pun di bawah pengaruh nafsu dan syahwat begitu mencengkam. Meskipun roh mengetahui bahaya godaaan jiwa yang selalu memerintahkan kepada kejahatan. Manusia tetap berada pada keadaan yang amat sulit. Manusia tadi, terombang ambing di antara dua buah pengaruh yang kuat, roh menyerunya ke arah kebaikan, tetapi jiwa selalu terus menerus menyeru kepada kejahatan,
Tetapi semua dugaan ini telah diizinkan Allah. Sebagaimana firmannya bermaksud dalam surah al-syamas:91. Bermaksud:
Dan jiwa serta penyermpurnaannya , maka Allah SWT mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kepada kefasikan dan ketaqwaan.

Manusia yang selalu mmentingkan diri sendiri dan kepada jiwa ia terpengaruh kepada hasutan, kepada kejahatan. Jika ia tergoda, hilanglah kesuciannya. Semuanya datang dari sisi Allah, Di mana Ia menjadikan jiwa yang selalu menyeru kepada kearah kejahatan dan Dia pula yang menjadikan sikap ego manusia yang condong kepada kejahatan dan kabaikan, silih berganti. Ketika jiwa berfikir, merenung dan insyaf, ia menjadi murni dan normal kembali. Kemudian jiwa ini disebut dengan jiwa yang tenang.

Meskipun Allah SWT telah mencipatkan khalifahnya dengan sifat-sifat yang sangat sempurna namun Dia tetap memandangnya lemah, tak ada daya dan upaya. Allah SWT ingin agar khalifahNya menyadari bahwa khalifahnya akan menemui kekuatan hanya dengan pertololongan dan bantuan Tuhannya. Dia menciptakan halangan dan dugaan-dugaan yang kuat baginya itu untuk mehghalangi kepada kesadaran. Ini lah rahasia dua kemungkinan yang saling berlawanan bagi diri manusia tadi.

Roh dan nafsu adalah suami isteri yang sah. Jika sang suami memanggil isterinya, namun isterinya tidak menyahut, orang akan berkata, mengapa isterinya tidak datang kepada mu. Maka si suami bertanya kepada pembantu yang dikasihinya yaitu akal, mengapa isterinya bersikap diam, Akal mengatakan kepada tuannya, hai tuanku yang baik hati, engkau menyeru yang kedudukannya adalah setara dengan kekdudukanmu sendiri, yang mempunyai wilayah pemeritahannya sendiri, dengan kekuatan dan berada di bawah perintah Yang Maha Kuasa juga. Dia disebut sebagai nafsu duniawi, jiwa ini selalu menyeru ke arah kejahatan. Tidaklah begitu mudah untuk menaklukinya.

Roh megirimkan sepucuk surat kepada isterinya melalui penasihat kanannya, yang mejelaskan perasaanya kepadanya. Namun nafsu telah menangkap dan memenjarakan utusan roh. Akal sebagai penasihat kanan roh, telah ditakluki di bawah tekanan nafsu .

Ketika akal kini di bawah pengaruh nafsu, telah diizinkan kembali ke tuannya roh, dia telah menyampaikan pesanan bahwa dia bukan saja kehilangan isterinya malah telah banyak juga pegawai-pegawainya dan pasukannya telah berpihak kepada isterinya. Hanya segelintir saja yang tetap setia kepadanya.

Fikiran telah memberitahu kepada roh bahwa musuhnya telah memasuki halaman istana, telah siap siaga menghancurkan pemerintahannya, merebut takhta kerajaan dan mengambil alihnya. Akal telah memberitahu tugas sucinya adalah untuk memperingatkan kepada roh sebelum mereka berdua binasa.

Kini, dengan peringatan dari akal, roh mengetahui bahawa dia telah dilumpuhkan, Dia sudah tak berdaya dan kini pasrah diri kepada Tuhannya pemilik segala sesuatu. Kini Roh sudah mengetahui, dia sudah tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Kini dia tahu di saat cemas beginilah apa erti makna Tuhan kepadanya yang maha perkasa.

Ketika khalifah Allah SWT yang bernama roh mengadap junjung kasih kepada Tuhannya untuk meiminta pertolongan.

Tuhan telah menjadi perantara antara roh dan nafsu. Kemudian nafsu menahan dirinya dan tidak lagi melakukan penguasaan menyeluruh atas kerajaan manusia tadi.

Menyahuti dan meghormati akan kekuasaan Tuhan, maka roh dan nafsu menundukkan kepala mereka dalam ketaatan, puas dengan keridhaan Allah SWT sebagaimana Firman Allah SWT berbunyi: dalam surah Al- fajar:27-30, yang bermaksud:

Hai jiwa yang tenang (Muthamainnah), kembalilah kepada Ku, dengan hati yang puas lagi diredhai, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaku Ku dan masuklah ke dalam syurga Ku

Kini perbezaan antara kedua-duanya telah lenyap. Mereka akhirnya bersatu kembali.

Tuhan menamai jiwa yang tenan sebab pada diri nafsu telah menyedari potensi dan kemampuan yang sebenarnya. Jika ia tergoda oleh kejahatan, ia menentang kodratnya sendiri, seperti dalam, firman Allah SWT surah an nisa:78 yang bermaksud:

Semuanya dari sisi Allah

Juga, dalam surah al-isra’ :20, yang bermaksud:
Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.

Ketika Dia memanggil roh dan nafsu kepada diriNya sendiri dengan puas lagi diredhaiNYa, tersirat bahawa kedua-duanya saling meridhai dan serasa. Ketika Dia megundang mereka berdua ke syurgaNya, sebenarnya Dia mengundang mereka menuju keselamatan di sebuah tempat yang damai, jauh dari tempat-tempat yang tidak diredhai Tuhan. Ketika ia diminta datang ke dalam syurga bersama para hambaNya yang dicintaiNYa, dimasukkanNya mereka ke dalam golongan orang yang taat patuh kepada Nya dan telah mengikat kukuh hati mereka tunduk kepadaNya.

Di dalam kerajaan manusia, di bawah pemeritahan roh, khalifah Allah SWT terdapat empat golologan penduduk:

Mukmin sejati yang mamatuhi hukum-hukum Tuhan mereka dan, mereka mampu melindungi diri sendiri dari semua kejahatan
Golongan kedua, mereka pada dasarnya beriman, namun terkadang tersasar berbuat maksiat
Golongan ketiga, kumpulan munafik iaitu yang menampakkan keimanan padahal sebenarnya mereka tidak beriman
Golongan keempat . Golongan kafir yang memandang diri mereka sendiri sebagai Tuhan

Inilah kenyataan yang ada pada kerajaan manusia, di tengah-tengah berlakunya kejahatan, rasa dengki, perang antara roh dan nafsu. Fikiran dan jiwa yang selalu mengarahkan kepada kejahatan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.