Tinggalkan komentar

Ilmu Tasawuf

Istilah sufi sangat terkait dengan “bersih”, “suci”, “shaf (barisan depan)”, “bulu (pakain bulu)”, “suffah”.

1. Ahli sufi disebut sufi karena kebersihan (suffa) hati mereka dan kesucian praktek dan tindak tanduk mereka. Mereka disebut sufi karena mereka menyerupai anggota suffah yang hidup di zaman Nabi SAW.

2. Orang Sufi adalah orang yang memiliki hati yang ikhlas (suffa) terhadap Allah.

3. Mereka adalah orang-orang yang duduk di barisan depan (suffa) sekali di hadirat Allah, melalui kecintaan mereka kepada Allah, tetap berhadap hati mereka kepada Allah, dan tetap lubuk hati (sirr) mereka berhadap Allah.

4. Berkenaan dengan pakaian bulu itu hanya pakain lahir saja. “Mereka disebut sufi karena tabiat mereka suka memakai pakaian dari bulu (suff).” “Pakaian bulu adalah juga pakaian para anbia dan aulia”. Hadis. “70 orang Nabi yang terdahulu yang lalu dekat dengan batu diRuhaasan. Mereka berkaki ayam dan berpakaian bulu dan menuju ke Ka’bah”. Hadis. “Musa alaihissalam memakai pakaian bulu, makan buah-buahan, tidur pada malam hari di mana saja ia ingin tidur”. al Hassan al Basri. “Nabi SAW berpakain bulu, menunggang keledai, dan menerima orang-orang daif untuk makan bersama”. Abu Musa al Ash’ari. “Saya mengetahui ada 70 orang yang terlibat dalam perang Badar memakai pakaian bulu”. Al Hassan Al Basri.

5. Kehidupan mereka ala kadarnya. Dunia dan keduniaan sudah tidak penting dan diutamakan oleh mereka. “Bila Nur sudah masuk ke dalam hati maka ia akan membesar dan berkembang”. Sahabat bertanya, “Apakah tandanya ya Rasul Allah?” “Meninggalkan negeri yang fana ‘dan berpaling ke negeri yang baqa’, dan siap untuk MATI sebelum mati (bercerai nyawa dengan tubuh)”. “Bahkan kamu lebih menginginkan dunia, sedangkan akhirat lah yang terlebih baik dan terlebih kekal”. (AL A’ALA: 17 & 18.7.)

Cara hidup orang sufi ini telah dimulai sejak zaman sebelum Nabi SAW, zaman Nabi SAW dan sesudahnya. Tidak timbul satu Firman atau Hadits yang menghukumkan, wajib disyariatkan atau dilakukan karena, telah terang untuk orang yang mendapat petunjuk, bahwa INTISARI QURAN DAN HADIS itu sendiri telah tersemai kokoh, sebati dan sejalan dengan diri mereka. Sampai Nabi SAW sendiri selalu beserta mereka. Nabi SAW mengungkapkan, aktivitas itu tidak dipengaruhi dunia, harus ada bukti dan kenyataan. Nabi pernah bertanya kepada Sahabat Haritsah. “Apakah hakikat Iman?” Beliau jawab. “Saya telah jauhkan hati saya dari dunia, saya puasa di siang hari dan berjaga di malam hari, dan seolah-olah saya lihat ‘Arasy Tuhanku datang, seolah-olah anggota surga kunjung mengunjungi satu sama lain dan anggota neraka bermusuhan satu sama lain “. (perhatikan tentang ‘Arasy Allah dan syorga dan neraka yang dilihat oleh Sahabat Haritsah. Hal ini tidak dibantah oleh Nabi SAW).

Arti sufi yang dimaksudkan oleh saya dalam blog ini adalah
Orang-orang sufi senantiasa berusaha mensucikan dirinya dengan melalui pelatihan-pelatihan spiritual tertentu. Dalam sejarah, istilah sufi baru dikenal setelah pertengahan abad kedua hijriah. Sebelum itu orang hanya kenal dengan kata Zuhud.

HAKEKAT

1. Akar kata haq dapat diartikan milik atau kepunyaan; benar atau kebenaran;

2. Kebenaran Illahi.

3. (Syath) Terbukanya kesadaran hamba atas kesungguhannya dalam menjalani lakuan pada perintah Gurunya yang hak dan sah bahwa hake-atnya Yang Bisa Yang Kuat, Yang Memiliki Segala Maujud, Yang Berbuat, Yang Handphone, bahkan yang Ada dan Wujud hanyalah DiriNya Dzat Yang Al Ghaib Yang Allah asmanya.

4. (Syath) Hati nurani, roh dan rasa yang telah bekerja untuk selalu mengingat-ingat dan menghayati DiriNya Dzat Al Ghaib dan Mutlak adanya.

HAKIKAT Dalam Tasawuf
Hakikat adalah keseimbangan kata syariat yang identik / terikat dengan aspek spiritual dalam ajaran Islam. Untuk merintis jalan mencapai hakikat, seseorang harus dimulai dengan aspek akhlak yang diikuti dengan aspek ibadah. Kapan kedua aspek ini diamalkan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan ia akan dapat meningkatkan kondisi mental seseorang dari tingkat rendah secara bertahap ke tingkat yang lebih tinggi. Pada posisi tertinggi Tuhan akan menerangi hati sanubarinya dengan nur-Nya, sehingga ia benar-benar dapat dekat dengan Tuhan, mengenal Tuhan dan melihatNya dengan mata hatinya. Di kalangan Sufi orang yang telah mencapai tingkatan ini disebut anggota hakikat. Kalau dihubungkan dengan Tuhan, hakikat adalah sifat-sifat Allah SWT, sedangkan Zat Allah disebut al-Haqq.

Sufi yang dikenal dengan paham hakikat adalah Abu Yazid al-Bustami dan al-Hallaj yang pernah menyatakan “Ana al-Haqq”.

MAKRIFAT

1. Mengenal dan mengetahui berbagai ilmu secara ringkas dan mendalam;

2. Pengetahuan Illahi. Pengetahuan hakiki yang datang melalui “penyingkapan”, “kesaksian”, dan “cita rasa” (dzauq). Pengetahuan ini berasal dari Allah.

3. (Syath) Menyaksikan (melihat dengan jelas dan nyata) kepada Ada dan Wujud DiriNya Dzat yang di muka bumi Al Ghaib. Kejadiannya hanya terjadi di alam pati. Ditarik Allah membuktikan fana dzat. Karena itu sama sekali tidak bernafas dan rasa seyakinnya merasakan Wujud DiriNya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: