Tinggalkan komentar

Kata Aku: Ini Aku | Ilmu Tasawuf | No Reply | Insulindea

Kita selalu merujuk diri kita AKU. Kita berkata, “Ini Aku”, “Ini Aku punya”, “Ini tubuh Aku”, “Nama Aku si-anu”, dan “Nama ayah Aku si-anu”, dan sebagai nya.

Pernahkah kita berpikir siapakah AKU kita itu? Apakah AKU kita itu? Siapa sebenarnya AKU itu?

Maka di sini penulis untuk menguraikan berkenaan AKU ini menurut pendapat dan pandangan Filsafat kesufian

Risalah ini berisi penjelasan tentang AKU. Dari penjelasan atau penjelasan ini pembaca akan dapat sedikit banyak informasi tentang apa dan siapa sebenarnya AKU kita itu.

Selamat membaca dan memahaminya.

Penjelasan ke 1 (SIAPAKAH AKU)

Pernahkah Anda berpikir siapakah AKU itu?

Pernahkah Anda terbayang apakah AKU kita itu?

Sebenarnya AKU kita ini adalah ROH kita, bukan badan kasar ini. Badan kasar ini akan mati jika tidak ROH. Jika tidak ROH, badan kita akan hancur binasa.

ROH kita inilah diri kita yang sebenarnya,. ROH ini hidup dan tidak akan mati. ROH inilah juga zat diri kita.

ROH ini juga limpahan Yang Maha Hidup yaitu Allah SWT. Allah itu hidup. Dia memiliki sifat hidup. Maka hidup (ROH) kita adalah limpahan dari hidup Allah itu.

ROH ini juga digelar “bayangan” Yang Maha Hidup itu. ROH itu bayang kepada Yang Empunya Bayang. Yang Empunya Bayang itu adalah Allah, dan ROH kita itu adalah “bayangan” Allah itu. Demikian pendapat-pendapat anggota-anggota Sufi.

Allah itu tidak kelihatan, Maha Gaib dan tidak ada satu pun yang seperti denganNya. Bagaimana kita dapat tahu adanya sesuatu yang tidak terlihat dan tidak terperikan. Ibarat angin, kita tidak nampak angin, tetapi bagaimana kita tahu angin sedang bertiup dan angin itu ada? Jawabnya, kita tahu adanya angin itu karena ada dampaknya. Kapan daun pohon bergoyang, kita tahu angin sedang bertiup. Kalau kita rasa hembusan, maka itu adalah hembusan angin, dll. Goyangan daun dan rasa hembusan itu adalah tanda-tanda adanya angin. Kita tidak nampak angina tetapi kita tahu adanya angina melalui tanda-tandanya.

Demikian juga keadaannya dengan Allah SWT. Kita tidak nampak Dia, tetapi kita rasa dan percaya adanya melalui tanda-tandanya. Tanda-tanda Allah itu adalah alam semesta raya ini. Tanda-tanda ini dalam bahasa Arab adalah “ayat”.

Oleh itu, alam semesta raya dan diri kita ini adalah ayat-ayat Allah belaka.

ROH sangat tinggi martabatnya, melebihi tingkat malaikat. Tempatnya di sisi Allah yang Maha Tinggi. ROH inilah yang mengenang Allah (dzikrullah) seolah-olah kerjanya mengenang Allah saja. Seolah-olah makan minumnya “zikrullah” saja.

ROH yang suci ini senantiasa mentauhidkan Allah Yang Maha Suci. Najis padanya adalah menyekutukan Allah. ROH ini sangat cinta kepada Allah SWT. Ia memuja dan memuji Allah selalu. Allah itu kekasihnya. Cukuplah Allah itu baginya.

Demikian hubungan Allah dengan ROH, menurut pandangan ahli-ahli Sufi.

Penjelasan ke-2 (AKU IALAH ROH)

Tahukah Anda bahwa AKU Anda itu adalah ROH yang datang dari Allah, hidup dengan Allah, dan kembali kepada Allah. Allah itulah pangkalan tempat bertolak, lautan yang dilayari dan pelabuhan tempat berhenti.

Jika dikaji dalam-dalam Anda akan sadar dalam pandangan spiritual bahwa Allah itu adalah tempat awal perjalanan kita. Dialah tempat perjalanan itu sendiri, dan Allah itu jugalah tujuan akhir perjalanan hidup ini.

Tempat bertolak, perjalanan dan tujuan yang dimaksudkan disini bukanlah dari segi pandangan fisik yang tunduk kepada ruang dan waktu. Tempat perjalanan dan tujuan yang dimaksudkan di sini iailah dari segi pandangan spiritual, perasaan dan khayali (thought) kita.

AKU atau ROH kita adalah tanda-tanda atau ayat-ayat Allah. ROH itu juga bayangannya dan penzahiranNya. Dari segi pandangan spiritual, Allah itulah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Batin dan Yang Zahir.

Penjelasan ke-3 (PANDANGAN AKU)

AKU yang paling dalam itu bersifat spiritual. Jika AKU itu dibersihkan pandangannya melalui dzikrullah dan pelatihan spiritual orang-orang Sufi, maka AKU itu akan mencapai satu tahap pandangan dimana ia rasa ada yang adalah Esa juga. Menurut pandangan ini, ada itu ada bertingkat-tingkat, bertahap-tahap, dan berbagai aspek, namun ia tetap satu. Segala yang ada terlihat, baik yang lahir maupun yang batin, semuanya satu wujud saja, pada hakikatnya. Inilah pandangan AKU yang paling dalam.

Penjelasan ke-4 (AKU ADALAH Ayatollah)

Sekali lagi diulangi bahwa AKU Anda itu adalah ROH Anda dan itulah juga diri Anda sebenarnya.

AKU itu juga adalah ayatollah (tanda-tanda Allah) karena seluruh alam raya, yang gaib dan yang nyata, adalah tanda-tanda adanya Allah SWT.

AKU itu juga digelar ROHULLAH (ROH ALLAH) karena ROH itu adalah hembusan dari ROH ALLAH atau limpahan dari ROH ALLAH.

AKU itu juga digelar Nurullah (cahaya ALLAH) karena setiap roh itu adalah cahaya. Digelar cahaya karena setiap yang menampakkan sesuatu digelar cahaya. Nabi-Nabi itu cahaya Allah karena melalui Nabi-Nabi itu kita dapat mengenal Allah melalui ajaran dan didikan mereka. ROH itu cahaya karena melalui ROH itu kita kenal dan ‘nampak’ Allah.

AKU itu juga digelar Ma’lum dalam ilmuNya. Ma’lum artinya ‘yang diketahui’. Allah itu ‘alim (yang mengetahui). Setiap yang mengetahui tentu berpengetahuan (berilmu). Allah itu berilmu, sebab itulah ia ‘alim. Setiap yang ‘alim tentu ada ilmu dan ada hal yang diketahuinya. Hal yang diketahui itu digelar Ma’lum (yang diketahui). Allah itu ada ilmu dan dalam ilmuNya ada Ma’lum. ROH kita ini termasuk dalam ilmu Allah. Maka ROH kita itu Ma’lum Allah. Maka itulah dikatakan ROH itu Ma’lum dalam ilmu Allah.

Penjelasan ke-5 (MENGENAL ALLAH)

AKU atau ROH itulah yang dapat mengenal Allah SWT bukan badan kasar ini yang mengenalNya. Melalui ROH itu kita mengenal Allah. Wadah tempat Allah mentajallikan (menzahirkan) dirinya kepada kita adalah ROH kita. ROH itu digelar juga hati. Bukan hati fisik itu tetapi hati yang bersifat spiritual. ROH itu memiliki kesadaran (consciousness). Kesadaran tentang wuudnya Allah dan sifat-sifatNya yang terzahir dalam alam semesta raya ini. Yang melihat penzahiran atau tajalli itu adalah ROH kita.

Penjelasan ke-6 (AKU AMAT HAMPIR DENGAN ALLAH)

AKU ini memang hampir dengan Allah. AKU dan Allah tidak bercerai-berai dari dulu, sekarang dan selamanya. Ibarat ombak tidak bercerai dengan laut. Dari sudut manapun Wujud Semesta Raya itu tetap mengelilingi AKU. Ia meliputi AKU dari kiri, kanan, atas, bawah, depan, belakang, luar, dalam bahkan dari mana saja. “Hampir” dan “Keliling” itu bukanlah dari segi ruang dan waktu yang bisa diukur dengan panjang, lebar, dalam, atau dari segi waktu dan waktu. Hampir dan mengelilingi itu adalah dari segi pandangan spiritual atau kerohanian. Hanya orang yang berada dalam pengalaman spiritual saja yang paham akan maksudnya.

Ada semesta itu “meliputi”, “meliputi”, “berpadu”, dan “bersatu” dengan AKU. AKU terserap dalam Wujud Semesta ini.

Penjelasan ke-7 (AKU ZAHIR. AKU BATIN)

Dari segi aku atau ROH atau diri, ada AKU “bersatu” dan “berpadu” dengan Wujud Yang Esa dan Semesta itu. Terlihat pada AKU bahwa Allah itu batin dan AKU itu zahirnya. Allah itu hakikat dan AKU itu bayangannya. Dia asal dan AKU terbitannya. Dia listrik dan AKU lampu. Dia dalang dan AKU boneka. Gerak AKU digerakkan olehNya.

Ini adalah pandangan spiritual yang paling dalam.

Penjelasan ke-8 (WUJUD AKU)

Memang AKU itu ada (eksis). Wujudnya dengan limpahan Wujud Yang Maha Agung (yaitu Allah). Hidup AKU limpahan hidupnya. AKU berdaya limpahan dayanya. Berkuasanya dan berupayanya AKU adalah limpahan kekuasaan dan upayanya. Aku berkehendak dan Diapun berkehendak. Kehendak AKU dikenakan kehendakNya.

“Limpahan” disini berarti karunia atau terbitan atau penzahiran atau keluaran atau efek.

Yang Maha Wujud itu Allah. AKU dan alam semesta raya adalah limpahan nama-nama dan sifat-sifat Yang Maha Wujud itu. Setiap nama dan sifat Allah terzahir pada AKU dan alam semesta raya ini.

Itulah pandangan AKU yang bersifat spiritual.

Penjelasan ke-9 (SIFAT-SIFAT AKU)

AKU ini ada sifatnya yaitu hidup atau hidup, ilmu atau pengetahuan, pendengaran, penglihatan, kodrat atau kekuasaan, iradat atau berkehendak, dan berkata-kata. Semua sifat-sifat ini adalah limpahan dari sifat-sifat Allah belaka.

AKU yang hakiki itu tidak bercerai dan tidak terpisah dengan sifat-sifat Allah dan Allah itu sendiri. Ada AKU itu sebenarnya diserapi oleh Wujud Semesta Raya itu. Iilah pandangan AKU yang bersifat spiritual.

Penjelasan ke-10 (AKU BERSIFAT spiritual)

AKU yang bersifat spiritual semata-mata itu terasa cukup baginya Allah saja. Allah itulah segala-galanya untuk AKU. Kepada Allah itulah AKU itu mengadu dan berharap. Pandangannya tertuju pada Allah. Tenggelamlah AKU itu dalam lautan Ketuhanan Allah Yang Maha Luas dan Dalam.

Dalam kondisi perasaan menyerap dalam Lautan Ketuhanan Yang Maha Luas dan Dalam itu, AKU tidak merasa takut, tidak merasa dengki, tidak merasa kecil hati sesama makhluk.

Pada pandangan AKU itu, makhluk itu hakikatnya tidak apa-apa. Ada makhluk bukan hakiki, hanya bayangan saja yaitu bayangan adanya Allah. Hanya Allah jua yang ada. Demikian pandangan AKU.

Penjelasan yang ke-11 (AKU BUKAN ALLAH)

Meskipun AKU itu berpandangan seperti yang tersebut dalam Penjelasan-penjelasan yang sebelumnya itu, namun AKU tidak akan menjadi DIA (yaitu Allah). AKU tetap AKU, DIA tetap DIA. Tetapi AKU dan DIa “bersatu” dan “berpadu” seolah-olah menjadi SATU. Ibarat bersatunya ombak dengan lautan, bersaatunya air dengan es.

Pandangan ini bukan pandangan fisik, akal dan berangan-angan, tetapi adalah pandangan ROH yaitu ROH yang dibersihkan dengan Zikrullah dan pelatihan jiwa dalam jangka waktu yang lama, dengan bimbingan guru sufi yang ahli dalam bidang Kerohanian dan Ketuhanan.

Penjelasan ke-12 (PENCAPIAN AKU)

Setelah mencapai tingkat pandangan ROH yang tinggi itu, maka kemana saja ROH itu menghadap di sana terzahir wajah Allah seolah-olah Ia berada dimana-mana jua.

Berkatalah mereka yang mengalami pandangan demikian:

Maha hampir tidak terhitung

Bersatu bersama sehati sejiwa

Maha jauh namun hampir saja

Gerakku gerak Dia

Diamku diam Dia

Tindak-tandukku tindak-tanduk Dia

Berkata mereka lagi:

Hidupku pancaran hidupnya

Diriku bayangan diri

Sifatku gambaran sifatNya

Semua kata-kata mereka itu hanya ibarat, perumpamaan untuk menjelaskan perasaan dan pandangan ROH mereka. Antara lain kata mereka:

Kalau Dia matahari akulah cahaya

Kalau Dia lautan akulah ombaknya

Kalau Dia asin akulah garamnya

Kalau dia manis akulah gulanya

Aku seorang berdua denganNya

Tapi aku berpadu dengan Dia

Maha dekat disamping maha jauhnya

Oh! Alangkah hebat adanya

Wujudku tenggelam dalam wujudnya

Fana dan Baqa dalam adanya.

Demikian pandangan orang-orang kesufian yang telah mencapai tingkat serasa seolah beserta dengan Wujud Yang Maha Esa itu. Mereka mencapai tingkat demikian karena mereka berfokus seluruh pandangannya terhadap Yang Maha Wujud itu dan penuh cinta dengan Dia.

Orang yang tidak pernah menjalani latihan spiritual dan tidak tahu hal-hal spiritual yang mendalam dan tidak pernah menempuh jalan spiritual, mereka jangan mencoba-coba menafsirkan sendiri pendapat mereka itu takut nanti tersesat pula.

Penjelasan ke-13 (PERJALANAN AKU)

AKU datang dari Allah. AKU adalah ma’lum (yang diketahui) dalam ilmu (pengetahuan) Allah. Kemudian AKU berada di alam ROH. Kapan waktunya akan lahir ke dunia ia dihembuskan ke bakal bayi dalam rahim ibu. Cukup waktunya dalam rahim ibu itu, ia pun lahir ke dunia bersama adan fisik yang berbentuk bayi.

AKU akan berada di dalam alam dunia sampai ajalnya sampai. Kemudian ia masuk pula ke alam Barzakh. Setelah berada sekian lama, maka ia akan dipertimbangkan di Hari Pengadilan. AKU akan masuk surga atau neraka. Mudah-mudahan janganlah masuk neraka hendaknya. Maka AKU kembali ke hadirat Allah SWT. Dari Allah AKU datang kepada Allah AKU kembali. Di sana kekal hidup bersama dengan Yang Maha Hidup (yaitu Allah) selama-lamanya. Itulah perjalanan AKU. Mengembara dari satu alam ke satu alam.

Penjelasan ke-14 (AKU HANYA)

AKU itu sebenarnya bebas merdeka. Ia hanya mengandalkan Yang Maha AKU (yaitu Allah). Ia tidak memiliki apa-apa. Ia hanya menerima limpahan wujud dari Yang Maha Wujud.

AKU tidak patut dipuji karena ia “kosong”. Yang Maha Wujud Hakiki hanya Allah. AKU tidak memuji Ghairullah (selain Allah) karena Ghairullah itu pun kosong juga. Yang patut dipuja dan dipuji hanya yang Wujud Hakiki itu saja.

AKU hanya satu sinar dari Matahari Ketuhanan. AKU hanya satu ombak dari lautan Ar-Rahman (yaitu Allah). AKU hanya satu ayat dalam karangan Al-Haq (yang benar) yaitu Allah. AKU hanya sebutir pasir dalam padang pasir Wujud Yang Maha Meliputi dan Maha Luas. AKU hanya satu bayangan dari bayangan Dia Yang Maha Ada. Itulah AKU yang tidak terpisah dengan Tuhanku.

Penjelasan ke-15 (AKU TETAP KEMBALI)

AKU miskin papa, lemah, tidak berdaya dan tidak punya apa-apa. Yang Kaya Raya, Yang Gagah Perkasa, Yang Kuat dan Berdaya dan memiliki segalanya iailah Yang Maha Kaya dan Maha Kuat itu juga. Itulah Allah SWT.

Hidup AKU kembali ke hidupnya. Gerak AKU kembali ke geraknya. Diam AKU kembali ke diamnya. Sifat AKU kembali ke sifat. Nama AKU kembali ke namaNya. Praktek AKU kembali ke amalannya. Ada AKU kembali ke wujudnya.

Memang benar, AKU itu akan kembali kepada, laksana cahaya kembali ke matahari, seperti ombak kembali ke laut. Tempat kembali itulah tempat AKU sebenarnya.

Penjelasan ke-16 (AKU TIDAK BERLAKU

Sebagaimana tersebut dahulu, AKU itu adalah ROH. Itulah diri. ROH ini tidak tunduk pada ruang dan waktu. Ia bukan tua dan bukan muda. Tua dan muda itu hanya untuk jasmani dan kondisi dunia ini saja. Semua ROH adalah sebaya saja. Nabi Adam AS sebaya dengan Nabi Muhammad SAW. Kita sebaya dengan moyang kita. Begitulah sebagainya. Tidak tua dan muda untuk ROH. ROH tercita serentak sekaligus saja.

Kemudian ROH itu lahir ke dunia melalui rahim ibu dengan badan kita sebagai sangkar atau sarungnya. Ia dilahirkan ke dunia menurut waktu yang telah ditentukan. Siapa yang ditakdirkan lahir dahulu dialah yang tua dan siapa yang lahir kemudian dialah yang muda.

Dari segi spiritual atau kebadanan ada tua dan ada yang muda, tetapi dari segi ROH sebaya saja.

AKU juga tidak tunduk pada kotak. AKU bukan Barat dan bukan juga Timur. Bukan juga dari Utara dan bukan juga dari Selatan. AKU tidak dikenakan arah dan tempat.

AKU juga bukan tunduk pada bangsa. AKU atau ROH bukan orang itu dan bukan orang yang. Bangsa-bangsa itu hanya ada dalam dunia nyata ini. Di alam AKU tidak ada bangsa-bangsa.

AKU adalah ma’lum dalam ilmu Allah, ada dalam wujud-NYA. AKU adalah penzahiran Zat. Demikian AKU tenggelam dalam Yang Maha Aku (yaitu Allah SWT).

Penjelasan ke-17 (AKU harus dibersihkan)

AKU tidak terkotorkan oleh kencing dan kotoran. Tidak ada najis fisik yang dapat mengotorkannya. Ibarat cahaya matahari, cahaya itu menyinari najis dan benda-benda kotor, namun cahaya itu tidak akan kotor. Ia menyinari tempat wangi dan tempat busuk, tetapi cahaya tidak akan wangi dan busuk, kotor atau bersih.

Najis di AKU itu adalah syirik, menyekutukan Allah, mengatakan Allah lebih dari satu. Itulah najis untuk AKU. AKU yang bertauhid adalah ROH yang suci. ROH itu pada hakikatnya selalu percaya dengan adanya Allah dan mengesakanNya. Hanya setelah sampai ke alam dunia barulah ROH itu tercemar oleh pengaruh duniawi, pengaruh iblis dan setan, pengaruh materi, pengaruh nafsu serakah, syahwat dan sebagainya.

Kita harus membersihkan jiwa atau AKU kita kembali sebagaimana aslinya dengan zikrullah (mengingat Allah) dengan lisan, hati dan perbuatan. Zikrullah itu ibarat air mutlak yang membasuh dan menyucikan najis syirik dari AKU itu. Bersihkanlah AKU itu sampai fana ‘(terasa diri kosong, tidak apa-apa) dan kemudian mencapai setingkat lagi ke tingkat’ baqa ‘(terasa diri selalu bersama Allah). Terasa Allah ada dimana saja kita berada.

AKU yang bersih atau diri yang suci adalah diri yang mengesakan Allah sampai tidak terasa adanya diri. Yang ada hanya DIRI YANG BERDIRI SENDIRINYA yaitu Allah SWT.

Penjelasan ke-18 (AKU BERASAL DARI TEMPAT MULIA)

AKU yang hakiki itu tidak tunduk pada warna kulit dan ras. AKU itu bukan putih, hitam manis, kuning dan sebagainya. Sebagaimana adanya warna pada badan. AKU tidak ada warna dan tidak berbangsa-bangsa seperti bangsa Cina, India, Melayu, Arab dan sebagainya.

Badan kita berasal dari unsur-unsur tanah, air, api, dan udara tetapi ROH kita bukan dari unsur-unsur dunia nyata ini. AKU gaib dari pandangan mata kasar namun ia tetap ada.

AKU berasal dari tempat yang paling mulia. AKU berasal dari Yang Maha AKU (yaitu Allah). AKU berasal dari ilmu Allah masuk ke alam jasad ini dan kemudian kembali kepada. Jadilah ROH itu sebagai Nur Allah saja. Ia pun kembali ke tempat asalnya yaitu ke hadirat Allah SWT.
Penjelasan ke-19 (AKU HANYA BONEKA)

AKU ini pada hakikatnya adalah boneka yang diperankan oleh Dalang (yaitu Allah). AKU ini dari satu ibarat lagi adalah keris yang dihunus oleh pendekar. AKU tidak berdaya upaya, gerak dan diam AKU adalah digerakkan dan didiamkan oleh Allah. Adanya AKU adalah limpahan dari adanya Allah.

Allah itu hakiki. AKU itu majazi atau relatif saja. Kalau difaham dan diselidiki secara mendalam, akan terasa bahwa yang gaib dan yang lahir dan yang awal dan yang akhir adalah Allah saja.

Pendeknya pada pandangan orang yang sangat dekat dengan Allah, alam dan dirinya lenyap sama sekali dan tinggallah Allah semata. Ini dipandang oleh ROH yang bersih dan suci dan mentauhidkan diri kepada Allah semata-mata.

Penjelasan ke-20 (AKU tajalli Allah)

AKU yang hakiki itu adalah Nurullah (cahaya Allah) karena dengan ROH, Allah terlihat. Sesuatu yang menampakkan sesuatu yang lain adalah cahaya. Tanpa cahaya gelap gelitalah segalanya.

AKU juga ayatollah (tanda-tanda Allah) karena ROH itu tanda-tandanya adanya Allah.

AKU juga digelar Rohullah karena ROH itu adalah hembusan dari Roh Allah. Itulah AKU yang hakiki.

AKU dan alam semesta adalah penzahiran atau tajalli Allah. AKU ini adalah alam kecil karena semua hal yang ada dalam alam besar ini ada salinannya atau penzahirannya dalam alam kecil.

Alam semesta ini juga digelar Insan Kabir (manusia besar) karena semua yang ada dalam alam kecil ini ada kenyataannya dalam alam besar.

Insan Saghir (manusia kecil) ini adalah dir i (ROH) manusia itu dan Insan Kabir itu adalah alam semesta raya yang gaib dan yang nyata. Alam kecil adalah Insan Saghir yaitu Manusia dan Alam Besar adalah Insan Besar yaitu Alam Semesta Raya.

Demikian pendapat Filsafat kesufian.

Penjelasan ke-21 (AKU ITU HIDUP)

Dalam alam dunia ini kita katakan si anu itu orang Kota dan si anu itu orang kampung atau si anu itu berada di kantor atau di rumah. Semua itu menunjukkan tempat dalam alam nyata ini. Tetapi untuk ROH itu semua tidak ada. Ia bebas dari tempat atau arah atau waktu atau waktu.

ROH itu hidup. Ia tidak tunduk pada alam nyata atau alam materi. ROH itu hidup dengan limpahan Yang Maha Hidup. Demikianlah AKU.

Penjelasan ke-22 (AKU BESERTA ALLAH)

AKU memang beserta dengan Allah, sejak dari dahulu sampai akan datang atau sejak awal sampai akhir. Tidak pernah bercerai dan berpisah dengan Yang Maha Aku (yaitu Allah). Sejak dari dalam ilmu Allah sampai sampai ke alam akhirat yang tidak ada ujungnya, AKU tetap bersama Allah.

AKU tidak keluar dan tidak masuk dalam lengkungan Allah. AKU itu memang berada dalam lengkungan Allah saja. Kalau Allah itu diibaratkan sebagai lautan, maka AKU itu ikannya. Ikan itu selalu dalam lautan dan tidak akan hidup tanpa air lautan itu.

‘Masuk’ dan ‘keluar’, ‘berpisah’ dan ‘bersatu’, tidak termasuk dalam kamus AKU. AKU bukan seperti badan kasar yang dikenakan ruang dan zaman.

AKU menyerahkan dirinya dan nasibnya kepada Yang Maha AKU. Cukuplah Dia mengontrol dan memelihara AKU. AKU tidak harus pada yang lain lagi. Tidak perlu pertolongan dari ghairullah (selain Allah), bahkan tidak ada ghairullah pada pandangannya. Cukup Allah untuk AKU.

Penjelasan ke-23 (AKU SEBENARNYA dhaif)

AKU bodoh. Dialah yang mencerdikkan AKU. AKU lemah Dialah yang menguatkan AKU. AKU tidak tahu, Dialah yang memberiku tahu. AKU papa kedana, Dialah yang memperkaya AKU.

AKU bertanya, memohon, berharap kepada saja. Seolah-olah AKU dan DIA berpadu dan bersatu di mana dan bila saja. Dan DIA ada dalam kesadaran AKU.

Renunglah ke dalam AKU. Dia berada dalam kesadaran AKU. Maha Halus dan Maha Seni. AKU mendengar bisikannya. Dalam waktu sunyi sepi, paling baik mendengar bisikan hati nurani. Tanpa huruf, tanpa suara, tetapi AKU paham segala-galanya.

AKU kenal Dia dalam kesadaran batinku karena AKU berhubungan dengan Dia tanpa menyekutukanNya. Inilah satu hasil zikrullah.

Penjelasan ke-24 (WUJUD AKU)

AKU ada dalam lautan Yang Maha Wujud. AKU selalu berada dalam lautan itu. Dalam lautan itulah AKU tinggal. Itulah lautan ada.

Penjelasan ke-25 (AKU MEMANG ADA KESEDARAN)

AKU memang ada kesadaran, limpahan Yang Maha Sadar (yaitu Allah SWT). Kesadaran AKU meliputi alam nyata dan alam gaib, alam dunia dan alam akhirat. AKU sadar semua itu. Semua hal itu ada ilmuku. Allah ada dalam kesadaran AKU. Begitu juga makhluk ada dalam kesadaran AKU. Segala yang ada dalam kesadaran AKU itulah ilmu AKU. Surga, neraka, malaikat dan iblis ada dalam kesadaran AKU. Semua yang ada dalam ilmu atau kesadaran AKU itu adalah penzahiran Allah dalam kesadaran dan ilmu AKU.

Penjelasan ke-26 (AKUSENTIASA CINTA DIA)

AKU selalu cinta kepada DIA (Allah). Tidak mau berpisah dan berjauhan dengan DIA. AKU selalu ingatkan DIA. Terasa siksa jika tidak mengingat. Puja dan puji hanya untuk DIA belaka. Perasaan cinta ini tidak akan ada di AKU jika tidak dengan anugerahNya juga. Alangkah kerdilnya AKU berada dalam majelis DIA.

Penjelasan ke-27 (AKU TIDAK MEMILIKI APA-APA)

Dari pandangan ROH atau AKU yang hakiki, AKU tidak memiliki apa-apa tetapi ia dimiliki oleh Yang Maha Kaya (yaitu Allah).

AKU dijasadkan untuk menjalani hidup di dunia fana ini. AKU juga diberi nafsu. Kalau AKU dikalahkan oleh jasad dan nafsu, maka binasalah AKU itu, tetapi jika AKU yang menkluki jasad dan nafsu, maka selamatlah AKU itu.

AKU membawa kita menuju Allah dan menyadari hakikat dirinya dan Tuhannya. Nafsu serakah membawa kita jauh dari Allah dan lupa akan hakikat diri kita. Karena itu hanyutlah ia dalam larutan kelupaan dan kesesatan dan akhirnya ia akan menyesal setelah ia meninggalkan badannya. Setelah ROH berpisah dari badan, maka sadarlah AKU itu kembali akan kondisi dirinya yang sebenarnya.

Penjelasan ke-28 (AKU PALING MULIA pada kenyataannya)

Badan kita ini amat kerdil, ibarat sebutir pasir di padang gurun, setitik air di lautan luas, sebuah bintang di cekrawala, melukut di tepi gantang, masuk tidak bertambah dan keluar tidak mengurangi. Betapa kecil dan kerdilnya tubuh kita. Itulah wajah lahir AKU.

Tetapi kalau kita renung ke wajah batin kita, dia paling mulia, paling tinggi martabatnya, mengatasi segala makhluk dan malaikat. AKU itu suci dan wangi, sangat dekat dengan Ilahi. Dialah cahaya Allah, Dialah ayat-ayat Allah, Dialah ROH Allah, Dialah bayangan dan penzahiran Allah.

AKU yang hakiki itu sangat mulia, tidak tertanding oleh siapa. Dia bertasbih setiap saat, memandang Allah dengan kasihnya, rindu dendam tiada terkira. Itulah AKU yang sebenarnya.

Penjelasan ke-29 (CARA MENGENAL AKU)

Berbagai cara orang ingin mengenal dirinya atau akunya. Ada yang melalui meditasi, pertapaan, menghapus pikiran, latihan jiwa yang menyiksa badan dan sebagainya. Tetapi untuk orang-orang Sufi adalah dengan Zikrullah yang diajarkan oleh guru-guru Sufi yang pakar dan pembimbing rohani yang mursyid. Dengan berzikir dan melalui bimbingan Syaikh Mursyid sampailah seseorang pada tingkat mengenal dirinya atau akunya.

Orang-orang Sufi ada menjelaskan bahwa “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka akan kenallah ia akan Tuhannya”. Ini bukan berarti DIA jadi Tuhan. Bila seseorang itu kenal gambar, maka kenallah ia akan orang yang digambarkan. Bila seseorang kenal akan bayang dalam cermin, maka kenallah ia orang yang punya bayang. Fahamkanlah!

Penjelasan ke-30 (PENGEMBARAAN AKU)

Orang yang memasuki jalan kesufian (Tareqat Sufi) adalah sebenarnya memasuki petualangan yaitu petualangan akunya menuju Allah SWT. Petualangan ini bukan dari tempat ke tempat atau dari waktu ke waktu, tetapi perjalanan ini adalah petualangan dalam kesadaran AKU, beredar dalam pengalaman spiritual atau kejiwaan. Hanya jiwa yang merasainya, tidak terlihat oleh mata kasar.

Tetapi setelah sampai ke tempat dituju yaitu kesadaran bahwa AKU ini fana dalam Allah dan Baqa (kekal) dengan Dia, barulah AKU itu sadar bahwa perjalanan itu hanya dari tidak sadar ke sadar. Sadar betapa AKU memang berada di tujuan sejak awal sampai akhir. Apakah tujuan itu? Itulah kesadaran dan pengenalan tentang Allah atau dalam istilah kesufian disebut ma’rifat.

Pada hakikatnya AKU itu memang berada ‘dalam’ Allah dan ‘permanen’ dengan Allah sejak awal lagi, dulu, sekarang, dan akan datang. AKU memang bersama dan ‘berpadu’ dengan Tuhannya. AKU itu memang diliputi oleh lautan Wujud Ketuhanan.

Penjelasan ke-31 (AKU TIDAK PEDULI)

Dalam tingkat AKU yang hakiki, ia tidak peduli orang yag mengeji karena keji itu tidak akan merendahkan martabatnya. Ia juga tidak peduli orang yang memuji karena pujian itu tidak akan meninggikan martabatnya. AKU tidak sakit hati dengan cacian dan tidak bangga dengan pujian. Semua itu tidak apa-apa untuk AKU. Keji dan puji tidak mempengaruhi martabatnya sedikit jua.

‘Yang apa-apa’ untuk AKU hanya Allah karena Dialah tempat AKU kembali, tempat AKU mengadu, tempat menyerahkan diri, tempat perlindungan, tempat pembelaan dari apapun angkara, dari jin dan manusia, dari dunia dan apa saja. Cukuplah Allah untuk AKU.

Penjelasan ke-32 (KESEDARAN AKU)

Dalam kesadaran AKU, semua makhluk ini dan diri AKU ini adalah semata-mata ayatollah (tanda-tanda Allah). Tanda-tanda adanya Allah, tanda-tanda kesempurnaannya, keagunganNya dan keindahannya.

Bila dilihat tanda, tergambarlah yang merek. Bila dilihat foto, terbayanglah yang digambar. Bila dilihat daun yang bergoyang, nampaklah angin yang bertiup. Bila nampak bayang, nampaklah yang empunya bayang. AKU dan alam semesta raya ini adalah ayat-ayat Allah belaka.

Penjelasan ke-33 (PENYERAHAN AKU)

AKU yang hakiki percaya dan menyerah diri kepada Yang Maha AKU (yaitu Allah) saja tanpa sangsi dan ragu-ragu. AKU memfanakan diri dalam Yang Maha AKU. Terasa oleh AKU betapa kasihnya Yang Maha AKU kepadanya. Tidak terhingga kasih sayangnya kepada AKU, melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya. Yang Maha AKU cinta dan kasih sayang kepada AKU. Percayalah!

Penjelasan ke-34 (AKU JUGA ADA KALA sangsi)

Adakalanya AKU itu sangsi dan ragu atau perasaan tidak menentu terhadap kasih sayang Yang Maha Penyayang. Mungkin setan membisik kedalam kalbu agar ragu dan tidak percaya dengan kasih sayang Yang Maha Pengasih.

Oleh yang demikian, AKU selalu memohon perlindungan Allah dari bisikan setan. Setiap saat AKU berjuang melawan bisikan setan itu dan mengharapkan bantuan dari Yang Maha Gagah (yaitu Allah).

Penjelasan ke-35 (PENYERAHAN BULAT AKU PADA ALLAH)

AKU selalu menyerahkan diri kepada Allah SWT. Penyerahannya bulat dan padu. Ia menyerahkan dirinya kepada Allah ibarat bayi menyerahkan dirinya kepada ibunya, ibarat mayat menyerahkan dirinya kepada pemandi mayat, ibarat ombak memfanakan atau melenyapkan dirinya kedalam lautan. Bahkan lebih dari itu lagi. Tidak dapat digambarkan lagi.

Penjelasan ke-36 (ASAL AKU)

AKU sebenarnya berasal dari tempat yang tinggi dan mulia yaitu di hadirat Allah SWT. Kemudian datang sebentar ke alam bumi dan jasadkan dengan badan jasmani untuk periode yang ditentukan seolah merantau sebentar di alam bumi ini.

Bila sudah cukup lama berada di perantauan, AKU pun kembali pulang menuju ke tempat asal. Ibarat perantau kembali ke kampung halaman. Tidaklah terkira hati merasa nyaman.

Tetapi jika diperdalam renung dan kaji, AKU tetap berada di tempat sendiri. Bukan dari mana dan ke mana pergi. Kapan dan di mana juga pun AKU di tempat sendiri juga.

AKU datang dari Ilahi, tidak bercerai meskipun seinci dan sesaat. AKU tetap bersama setiap waktu dengan Allah SWT. Dulu AKU bersama dengan Dia, sekarang pun bersama denganNya, akan datang pun bersama denganNya. Selalu AKU bersama dengan Allah SWT.

AKU itu tetap. AKU juga, bersama Allah selalu. Hanya alam-alam yang ditempuh saja berbeda, dari satu alam ke satu alam yang lain .. AKU selalu tetap dengan Allah, meskipun di alam manapun berada.

Penjelasan ke-37 (AKU TIDAK KAGUM)

AKU tidak terkesan dengan kemajuan manusia. Tidak kagum dengan kemajuan sains dan teknologi, kemajuan peniagaan dan industri. Bahkan AKU tidak heran dengan segala urusan keduniaan.

Yang dihairankan oleh AKU adalah Allah Yang Maha Bijaksana yang melimpahkan segala ilham kemajuan itu. Sebenarnya Dialah yang maju dan Dialah yang bijaksana. Dia yang memiliki segala ilham. Sumber ilham kemajuan itu dari Yang Memiliki Ilham itu sendiri yaitu Allah SWT.

Penjelasan ke-38 (ASAL AKU)

AKU itu diri. Diri manusia itu banyak tetapi berasal dari Diri Yang Satu. Diri itu ROH. ROH itu banyak tetapi berasal dari Satu ROH yaitu AL ROH

Al Roh itu digelar oleh orang-orang Sufi sebagai Haqiqatul Muhammadiyah atau juga disebut Insan Kamil atau Insan Kabir. AL ROH itu juga digelar Al Roh Ul Kulliyah (roh semesta). Dari ROH Semesta inilah ditampakkan ROH-ROH yang berbagai dan banyak itu. Allah lahirkan AL Roh dan dari Al Roh ditampakkan sekalian ROH. ROH individu atau ROH tunggal itu pancaran dari Al Roh dan Al Roh pula terbit dari Allah SWT.

Demikian pandangan filsafat spiritual sebagian orang Sufi.

Penjelasan ke-39 (AKU SEBENARNYA ADANYA)

AKU tidak megah dengan harta benda, uang, pangkat derajat, anak-anak, sanak saudara yang banyak dan segala ghairullah (selain Allah).

AKU tidak iri dengan orang kaya. Ia tidak dengki dengan orang-orang berpangkat tinggi. Pada pandangan AKU segala harta benda, uang, pangkat, kerabat, anak-anak dan sebagainya itu adalah milik Allah yang dianugerahkanNya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dia yang menentukan siapa yang patut diberi harta banyak dan siapa yang patut diberiNya harta yang sedikit. Semua itu Allah yang menentukan. KetentuanNya tidak dapat disanggah dan dipertanyakan. Kenapa AKU harus dengki dan iri hati dengan ketentuanNya. Dia yang AKU puji dan puja tentulah AKU redha dengan ketentuanNya.

Penjelasan ke-40 (AKU TIDAK HAIRAN keduniaan)

AKU tidak merasa hina kalau miskin papa atau buruk tingkat badan, atau tidak berpangkat atau tidak banyak teman atau tidak intan berlian. Semua itu terkait dengan keduniaan dan materi, tidak bersangkutan AKU yang bersifat spiritual.

AKU hina jika kufur dengan Allah. AKU hina jika jauh dengan Dia, jika tidak beriman dan tidak bertakwa, itulah kehinaan pada AKU yang sebenarnya.

Penjelasan ke-41 (Sasaran AKU)

Tujuan AKU adalah ALLAH. Yang diharapnya adalah keridhaan Allah. Yang dimintanya adalah ampunan Allah. Pada pandangan AKU kehidupan akhirat itulah yang utama. Kembali ke hadirat Allah itulah yang diidamkannya.

AKU tidak takut mati (berpisah nyawa dari badan) karena ‘mati’ sebenarnya pindah alam, dari alam dunia ke alam barzakh. AKU tetap AKU juga. Meskipun badan hancur tetapi AKU tidak hancur. AKU akan kembali sadar karena hijab-hijab (tirai-tirai) jasad atau badan telah hilang.

Penjelasan ke-42 (AKU TETAP KAYA JIWA)

Meskipun dari segi kehidupan dunia ini seseorang itu papa, tapi kalau jiwanya kenal diri dan Tuhannya, ia tetap kaya. Kaya pada perasaannya. Meskipun susah kehidupan dunianya, akunya tetap merasa senang. Meskipun badannya lemah, akunya tetap merasa kuat. Meskipun ia kesunyian tanpa teman, namun ia tetap merasa ramai.

AKU yang telah ‘menyerap’ dalam Yang Maha AKU, atau jiwa yang ‘menyerap’ dalam Jiwa Semesta atau perasaan yang ‘menyerap’ dalam Perasaan Universal Raya, atau diri yang ‘menyerap’ dalam Diri Semesta Raya, tidak akan merasa lemah, tidak akan merasa susah, tidak akan merasa buruk, dan tidak akan merasa duka, dan tidak akan merasa sunyi.

Penjelasan ke-43 (AKU TIDAK memilik SIFAT TERCELA)

AKU tidak megah dan tidak bangga. Orang yang telah kenal akunya tidak memiliki sifat-sifat yang tercela seperti takabur, congkak, sombong, kikir, dengki, khianat, takut kepada ghairullah, mengumpat, mengeji dan sebagainya.

Sifat-sifat tercela itu tidak perlu baginya. Segala sifat tercela itu sendiri hilang dan diganti dengan sifat-sifat terpuji.

Apakah yang ingin dimegahkan, dikhawatirkan, ditakutkan, dan sebagainya karena AKU itu sebenarnya tidak apa-apa. AKU itu kosong belaka. Yang ada hanya Allah pada hakikatnya. Allah memiliki segalanya. Dia yang patut dipuji dan dipuja.

Penjelasan ke-44 (AKU BERILMU)

AKU itu berilmu. Ilmunya adalah limpahan ilmu Allah. Ilmu itu meliputi yang diketahui. Apa yang diketahui itu adalah konten ilmu. Oleh itu AKU, ilmunya dan yang diketahuinya adalah sebenarnya ‘bersatu’, ‘bersama’, dan tidak bercerai.

AKU itu tahu. Apa yang AKU tahu itulah konten ilmu AKU. Berbagai yang diketahui oleh AKU. Semua itu konten ilmu AKU. Semua itu tidak bercerai dari AKU.

Penjelasan ke-45 (AKU BERLAKU PADA ALLAH)

AKU yang sebenarnya itu hanya tunduk pada Allah saja. Ia tidak dikuasai oleh siapa. Alam ini tunduk pada AKU. Makhluk itulah yang tunduk kepada AKU dengan perintah Allah Yang Maha Perintah.

AKU itu khalifah Allah atau wakil Allah yang mengurus makhluk dengan isinya. Segala yang ada di langit dan di bumi semua untuk AKU. Kalau dunia ini ladang, AKU manajer dan Allah yang empunya ladang itu.

Allah tidak perlu apa-apa. Hanya AKU yang membutuhkan Dia. Hanya AKU yang menginginkan dunia. Makhluk segalanya adalah untuk AKU (Insan). Semuanya karunia Tuhan AKU (Allah). Allah jadikan makhluk untuk AKU. Demikian mulianya AKU.

Penjelasan ke-46 (AKU SUCI HAKIKATNYA)

AKU ini memang suci hakikatnya karena Ia limpahan Nur Allah Yang Maha Suci. Yang mengotori AKU ini adalah syirik yaitu menyekutukan dengan apa dan siapa jua. Untuk membersihkan najis syirik itu dari hati adalah dengan Tauhid. Tauhid ibarat air yang menyucikan najis syirik dari hati. Jiwa yang bersih adalah jiwa yang tauhid.

Dengan Tauhid ini menjadikan jiwa seseorang itu berani, tawadhu ‘, sabar, kuat dan gagah karena jiwa tauhid ini benar-benar mengesakan Allah dan menyerah bulat-bulat kepada Allah Yang Maha Agung.

Dengan berdzikir hati akan jadi tenang dan damai, akan menimbulkan semangat tauhid dalam dalam penzikir itu.

Penjelasan ke-47 (HUBUNGAN AKU DENGAN ALLAH)

Hubungan AKU dengan Allah SWT iailah ibarat pehubungan matahari dengan cahayanya, ibarat ombak dengan laut, ibarat air dengan es. Semua ini menunjukkan betapa dekatnya perasaan AKU itu dengan Khaliknya.

Satu ibarat lagi adalah pelukis dengan lukisan, pengukir dengan ukiran, penulis dengan karangannya, pencipta dengan ciptaan. Ini adalah ibarat untuk menunjukkan bahwa AKU dengan alam semesta raya ini adalah tanda-tanda atau manisfestasi Wujud Yang Maha Esa itu.

Penjelasan ke-48 (AKU MENGISBATKAN ALLAH)

AKU tetap mengisbatkan Allah dalam segala hal dan tindak tanduknya. Maksudnya AKU tetap nampak Allah di balik segala yang maujud (hal yang ada) ini dan “nampak” perbuatan dan lakuan dan arah mana memandang disana “nampak” Allah.

Oleh karena memandang yang demikian itu maka AKU akan berkata, “Tidak ada maujud selain Allah”. Ini adalah kata-kata dari orang yang sudah “tenggelam” dalam lautan Ketuhanan yang berada dalam pandangan keruhanian semata-mata. Inilah orang-orang sufi yang telah mencapai maqam Fana Fillah (lenyap dalam Allah) dan seterusnya Baqa Billah (tetap dengan Allah).

Penjelasan ke-49 (AKU TETAP MENAGUNGKAN ALLAH)

AKU sebenarnya hanya mengagungkan dan memuja Allah saja. Ia tidak mengagungkan apa-apa pun jua selain Allah. Pada pandangan AKU tidak ada yang kuat dan gagah melainkan Allah. Tidak ada yang bijaksana melainkan Allah. Tidak ada yang kaya melainkan Allah.

Semua kekayaan, kegagahan, kebijaksanaan, keindahan ghairullah adalah hanya limpahan karunia Allah semata-mata. Oleh itu, AKU tetap dengan puji dan pujiannya terhadap Allah SWT saja.

Penjelasan ke-50 (AKU PUNYA ILMU MELIPUTI)

AKU yang hakiki ini memiliki ilmu. Ilmunya adalah limpahan dari ilmu Allah. Seluruh alam ini ada dalam ilmu AKU. Dalam ilmu AKU ada surga, neraka, dunia, akhirat, malaikat, iblis bahkan seluruh ciptaan Allah. Semua ini ada dalam ilmu AKU karena AKU tahu semua itu. Telah diberitahu melalui ayat-ayat Allah, yang tersurat dan tersirat, bahwa semua hal tersebut ada dan AKU percaya dan ‘merasakan’ adanya. Oleh itulah AKU ini memiliki ilmu yang meliputi segala-galanya. Semua itu adalah limpahan karunia Allah belaka.

Penjelasan ke-51 (AKU INSAN Saghir)

Menurut Filsafat kesufian, AKU itu adalah Insan Saghir yakni Manusia Kecil. Alam semesta raya yang gaib dan yang nyata, adalah Insan kabir atau manusia besar. Insan Saghir itu adalah Alam Saghir yaitu Alam keil dan Insan Kabir itu adalah Alam besar.

Dikatakan demikian karena fakta-fakta dalam Insan Kabir atau manusia besar itu ada dalam Insan Saghir. Ide-ide Insan Kabir itu ada terbayang dalam Insan Saghir atau Alam Kecil yaitu Manusia.

Alam Kabir itu pula mengandung alam ruh, alam Mithal dan alam jasmaniah atau alam fisik. Alam-alam ini juga ada pada Insan Saghir atau manusia. Manusia terdiri dari unsure-unsur roh, Mithal, badan sebagaimana Alam Besar ini terdiri juga dari unsur-unsur roh, Mithal dan fisik.

ROH itu nyawa atau jiwa atau ‘hidup’. Fisik itu massa atau badan. Mithal itu adalah antara roh dan badan yang digelar mental atau khayal atau pikiran.

Ide Alam Kabir ada dalam Alam Saghir (manusia). Hakikat Insan kabir (yaitu Alam Besar) ada dalam Insan Saghir yaitu Manusia. Unsur-unsur alam kabir itu ada juga di Alam kecil atau manusia itu.

Maka dengan itulah dikatakan AKU itu bayangan atau salinan Alam Kabir. AKU juga adalah bayangan atau salinan Insan Kabir. Insan Kabir dan Alam Kabir adalah jua nama untuk satu entitas atau diri.

Demikian teori Filsafat kesufian menurut pandangan sebagian Ahli Sufi.

Penjelasan ke-52 (UNSUR DIRI)

AKU itu diri. Diri insan dibagi menjadi tiga bagian menurut pendapat sebagian Ahli Sufi, yaitu bagian jasmani, bagian mithali dan bagian ruhani.

Unsur ROH itu adalah diri yang sebenarnya. Itulah diri yang tidak akan ‘mati’ menurut istilah biasa. Diri ini berpindah alam saja dari satu alam ke satu alam yang lain. Diri inilah yang mulia dan menjadi ayat atau nur Allah. Kejadiannya mulia dan tinggi.

Unsur mithali adalah unsur antara jasmani dengan rohani. Ia adalah diri lapisan yang kedua. Ini termasuk pikiran, pikiran dan tubuh halus yang bukan jasmani dan bukan pula roh yang sebenarnya. Diri inilah yang bisa mengembara dalam alam mimpi tatkala kita tidur.

Di lapisan yang ketiga iailah diri jasmani yaitu badan kasar kita yang terdiri dari empat unsur yaitu unsur air, unsur angin, unsur api dan unsur tanah. Diri ini membutuhkan unsur-unsur yang empat itu untuk dapat hidup. Kehidupan hanya akan ada setelah empat unsur itu tersedia.

Itulah tiga bagian diri manusia. Namun, unsur roh itulah yang paling penting. Roh itu hidup. Tanpa ‘hidup’ lapisan yang dua lagi tidak berfungsi. Dengan adannya ROH barulah diri kita bisa berpikir, berkomunikasi, makan, minum, bermain, bergerak dan sebagainya. Tanpa roh segalanya akan kaku, mati, dan tidak berguna lagi.

Penjelasan ke-53 (DUA UNSUR DIRI)

Ada juga orang yang berpendapat Diri manusia itu terbagi kepada dua unsur saja yaitu spiritual dan jasmaniah. Unsur spiritual termasuk nyawa atau jiwa, dan juga pikiran, pikiran, khayalan, akal, dan sejenisnya. Semua ini bersifat spiritual atau kejiwaan.

Yang bersifat kejasmanian atau kebadanan ini termasuk anggota badan kasar seperti kepala, badan, kaki, tangan, telinga, mata, dan sebagainya yang terdiri dari unsur-unsur api, angina, tanah dan air.

Kedua unsur kejiwaan dan kebadanan ini saling bertindak satu dengan yang lain, saling pengaruh mempengaruhi antara satu dengan yang lain. Kalau seseorang itu hatinya susah, atau duka, perasaan ini bisa mempengaruhi jasmaninya seperti tidak lalu makan dan minum dan akibatnya badan jadi kurus dan tidak sehat. Sebaliknya pula kalau badan sakit, pikiran pun rungsing dan ini menyusahkan hati dan jiwa. Demikianlah adanya pengaruh mempengaruhi antara jasmani dan rohani.

Penjelasan ke-54 (KENAL DIRI)

Setiap orang harus sebisa memungkinkan kenal akan dirinya yang sebenarnya itu yaitu yang bersifat spiritual atau spiritual itu agar tidak menghabiskan hidupnya di dunia fana ini. Hidup kita bukan di dunia ini saja. Hidup kita akan berlanjut sampai kekal abadi di akhirat yang tidak ujungnya. Disana nilai atau baik bukan diukur dari segi kekayaan harta benda, banyaknya anak-anak, bukan karunia bintang atau medali atau pangkat yang diperoleh di dunia ini. Nilai baik dan buruk seseorang di sana tergantung pada iman dan amal shalih seseorang.

Dengan kenalnya kita akan diri kita yang sebenarnya itu, kita tidak akan putus asa, tidak takut, tidak khawatir dalam melayari bahtera hidup kita ini. Ini karena kita tahu diri kita adalah kekasih Allah. Takkanlah orang yang mengasihi seseorang itu akan menganiaya kekasihnya. Sebenarnya Allah kasih akan diri kita lebih dari ibu mengasihi anak kesayangannya. Ia Maha Kasih Sayang terhadap hamba-hambanya.

Dengan mengenal diri kita, tidaklah kita takabur, sombong, congkak, dengki, iri hati, khianat karena kita tahu siapa diri kita sebenarnya. Dinisbahkan dengan Allah SWT, kita tidak apa-apa, hanya ayat-Nya saja. Jika dinisbahkan dengan makhlukNya, diri kita adalah penguasa dan manajer. Allah menjadikan alam dan makhluk untuk kita (sebagai insan) dan kita untuk Dia. Demikian kata Anggota Sufi.

Penjelasan ke-55 (BADAN ZAHIR)

Badan kita yang lahir ini adalah penzahiran diri kita yang batin. Diri kita yang batin itu gaib dari pandangan mata kasar. Untuk melihat yang batin itu diperlukan bayangannya yaitu diri kita yang lahir ini. Maka itulah dikatakan badan kasar itu hanya ‘sarung’ atau ‘tunggangan’ atau ‘sangkar’ untuk badan yang gaib itu.

Bila nyawa berpisah dari badan, maka tinggallah badan itu dan pada akhirnya jadi hancur dan hancur kecuali dengan kehendak Allah ada juga badan yang tidak hancur setelah lama nyawa meninggalkannya. Tetapi pada kebiasaan atau lumrahnya badan akan hancur binasa. Itulah dikatakan dari tanah kembali ke tanah.

Ada juga orang melihat dalam dunia ini ‘bayangan’ atau ‘lembaga’ orang yang telah lama meninggal dunia akting dan beraksi seperti hidupnya dalam dunia dahulu. Itu bukanlah badan orang itu sebenarnya. Badannya telah hancur binasa. ‘Bayangan’ atau ‘lembaga’ itu adalah dari unsur alam Mithal. Alam Mithal ini adalah alam yang halus, yang penghuninya atau isinya tidak hancur. Ia bukan roh semata-mata dan bukan pula badan semata-mata. Ia adalah antara kedua unsur itu.

Seperti yang kita jelaskan dulu, diri kita terdiri dari tiga unsur yaitu unsur badan, yang akan hancur kecuali yang dikehendaki Allah untuk tidak hancur, unsur Mithal yang tidak hancur tetapi tersimpan dalam ‘alam Mithal’ dan unsur ketiga iailah roh dan ini selamanya hidup , tidak hancur dan tidak kembali lagi ke dunia nyata ini.

‘Lembaga’ atau ‘bayangan’ orang yang telah mati yang terlihat oleh orang dalam dunia ini dan terjadi seperti yang hidup di dunia dulu, sebenarnya adalah bersifat mithaliyyah (Mithal). Sesekali ia terlihat oleh orang yang hidup dalam dunia ini persis seperti hidupnya dahulu, bahkan bisa berkata-kata dengan orang yang berada dalam dunia ini. Ini telah banyak terjadi di mana saja dalam dunia ini, baik di Barat atau di Timur.

Setelah kita faham alam yang tiga itu, maka tidaklah kita heran kenapa ada orang yang mengklaim melihat si anu dan si anu padahal orang itu telah meninggal. Alam Mithal ini ada tetapi tidak terlihat kecuali mereka yang dibukakan hijab untuk melihat alam itu dan para penghuninya.

Demikian teori sebagian Ahli Sufi.

Penjelasan ke-56 (MEGENAL AKU HAKIKI)

Untuk mengenal AKU yang hakiki itu harus berusaha dengan sabar dan perlu panduan guru yang ahli dalam bidang spiritual dan kesufian, dan banyak berpikir dan berdzikir dan memohon taufik dan hidayah dari Allah SWT. AKU kita ini ibarat sagu, harus dipecahkan ruyung, barulah dapat sagunya. Memecah ruyung itu harus dengan petunjuk orang yang telah ahli memecahkan ruyung yang tahu cara bagaimana memecahnya dan alat pemecahnya pula harus yang sesuai.

Satu lagi ibarat, AKU yang hakiki yang dikatakan bayangan atau ayat atau penzahiran Yang Maha AKU (yaitu Allah) itu ibarat tujuan atau tujuan yang dituju. Sebelum sampai ke tujuan itu perlu kita bepergian atau berjalan dengan kendaraan atau tanpa kendaraan menuju tempat yang di tuju itu. Supaya kita tidak tersesat, kita harus si penunjuk jalan agar kita sampai ke tempat yang sebenarnya. Kita harus pula kendaraan agar cepat sampai, kalau berjalan kaki saja tanpa kendaraan lambatlah sampai. Setelah sampai perlu kita mendapat konfirmasi dari si penunjuk jalan bahwa tempat yang kita tuju itu telah sampai, maklumlah tempat yang kita tuju itu belum pernah kita lihat, mungkin kita was-was atau ragu-ragu apakah itu tempatnya. Setelah sah itulah tempat yang kita tuju, maka tamatlah perjalanan kita. Bila kita telah berada dalam tempat yang dituju itu, maka bebaslah kita menikmati dan merasakan atau mengalami kondisi di tempat tersebut.

Seperti kata orang-orang sufi, “Barangsiapa kenal dirinya akan kenal Tuhannya”. Mengenal Allah melalui mengenal diri itu adalah jalan atau cara orang-orang sufi. Ini bukan berarti diri kita itu sama dengan Tuhan. Diri kita tetap kita. Diri kita bukan Tuhan. Allah tetap Allah tanpa sekutu dengan yang lain. Diri kita tetap diri kita juga. Tetapi dengan mengenal diri itu dapatlah kita mengenal Allah.

Seperti yang kita jelaskan dalam penjelasan-penjelasan yang terdahulu, AKU atau diri kita ini adalah ayat-ayat atau tanda-tanda atau bayangan Tuhan. Zat Tuhan itu, digelar oleh Anggota Sufi sebagai ‘Kunhi Zat’ (semata-mata Zat), tidak sampai kedalam pengetahuan atau ilham atau kasyaf kita. Pendeknya ilmu dan kasyaf kita tidak sampai ke sana. Tetapi bayangannya atau ayat-Nya atau penzahiranNya dapat kita kenali.

Matahari itu silau mata kita memandangnya tetapi bayangannya dalam air dapat kita pandang tanpa merusak mata. Angin tidak dapat dilihat tetapi kalau daun bergoyang itulah tanda adanya angin. Pedas tidak dapat dilihat, tetapi cabai atau cabai dapat dilihat. Inilah perumpamaan atau ibarat. Pikirkanlah.

Kita ini ibarat bayang, daun, ladai tadi. Dengan melalui bayang dapat dikenal yang empunya bayang. Dengan melihat daun bergoyang, dapat diketahui adanya angin Dengan lada dapatlah kita merasakan pedas.

Paling penting tanyalah orang yang ahli dalam bidang spiritual dan kesufian ini. Janganlah ditanya kepada yang bukan ahlinya, karena segala ilmu itu ada anggotanya. Anggota ilmu itulah yang faham dan mengerti tentang ilmu yang diketahui dan diamalnya.

Penutup

Demikianlah serba ringkas tentang hal AKU ini menurut pandangan Filsafat kesufian. Jika ada salah dan silap haraplah koreksi karena penulis bukanlah seorang yang ahli dalam bidang ini, tetapi hanya sekedar ‘penerjemah’ yang menerjemahkan ide-ide dalam ilmu penerjemah yang singkat ini dalam bidang Filsafat kesufian atau Filsafat Tasawuf ke dalam risalah singkat ini dengan bahasa Malaysia yang mudah untuk dipahami oleh orang awam.

Semoga risalah ringkas ini dapat menambah satu lagi perbendaharaan risalah dalam perpustakaan buku-buku atau risalah-risalah kesufian atau Tasawuf dalam bahasa Indonesia untuk mereka yang tidak paham membaca buku-buku atau risalah-risalah kesufian dalam bahasa lain.

Mudah-mudahan Allah selalu memberi taufik dan hidayah kepada kita sekalian.Amin, amin, Ya Rabbal’alamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: