Tinggalkan komentar

Salman Al-Farisi R.A PENCARI KEBENARAN

Siapa yang menemukan kebenaran, pasti akan menemukannya. Kisah ini adalah kisah benar pengalaman seorang manusia mencari agama yang benar (hak), yaitu pengalaman Salman Al Farisy

Marilah kita centang Salman menceritakan pengalamannya selama mengembara mencari agama yang hak itu. Dengan ingatannya yang kuat, ceritanya lebih lengkap, rinci dan lebih terpercaya. seorang sahabat Rasulullah saw.

Dari Abdullah bin Abbas Radliyallahu ‘Anhuma berkata, “Salman al-Farisi Radliyallahu’ Anhu menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Kata Salman,” Saya pemuda Persia, penduduk kota Isfahan, berasal dari desa Jayyan. Bapaku pemimpin Desa. Orang terkaya dan berkedudukan tinggi di situ. Aku adalah insan yang paling disayangi ayah sejak lahir. Kasih sayang beliau semakin bertambah seiring dengan peningkatan usiaku, sehingga karena teramat sayang, aku dijaga di rumah seperti anak gadis.

Aku mengabdi dalam Agama Majusi (yang dianut ayah dan bangsaku). Aku ditugaskan untuk menjaga api penyembahan kami agar api tersebut menyala.

Ayahku memiliki kebun yang luas, dengan hasil yang banyak Karena itu ia tinggal di sana untuk mengawasi dan memungut hasilnya. Pada suatu hari bapak pulang ke desa untuk menyelesaikan suatu urusan penting. Ia berkata kepadaku, “Hai anakku! Bapa sekarang sangat sibuk. Karena itu pergilah engkau mengurus kebun kita hari ini menggantikan Bapak.”

Aku pergi ke kebun kami. Dalam perjalanan ke sana aku melalui sebuah gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka sedang shalat. Suara itu sangat menarik perhatianku.

Sebenarnya aku belum mengerti apa-apa tentang agama Nasrani dan agama-agama lain. Karena selama ini aku dikurung ayah di rumah, tidak bisa bergaul dengan siapapun. Maka ketika aku mendengar suara mereka, aku tertarik untuk masuk ke gereja itu dan mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Aku kagum dengan cara mereka shalat dan ingin bergabung.

Kataku, “Demi Allah! Ini lebih bagus dari agama kami.” Aku tidak beranjak dari gereja itu sampai petang. Sehingga aku lupa untuk ke kebun.

Aku bertanya kepada mereka, “Dari mana asal agama ini?”

“Dari Syam (Suriah),” jawab mereka.

Setelah hari senja, barulah aku pulang. Bapa menanyakan urusan kebun yang ditugaskan beliau kepadaku.

Jawabku, “Ya, Bapa! Aku bertemu dengan orang sedang sembahyang di gereja. Aku kagum melihat mereka shalat. Belum pernah aku melihat cara orang shalat seperti itu. Karena itu aku berada di gereja mereka sampai sore.”

Bapa menasehati akan perbuatanku itu. Katanya, “Hai, anakku! Agama Nasrani itu bukan agama yang baik. Agamamu dan agama nenek moyangmu (Majusi) lebih baik dari agama Nasrani itu!”

Jawabku, “Tidak! Demi Allah! Sesungguhnya agama merekalah yang lebih baik dari agama kita.”

Bapa khawatir dengan ucapanku itu. Dia takut kalau aku murtad dari agama Majusi yang kami anuti. Karena itu dia mengurungku dan membelenggu kakiku dengan rantai.

Ketika aku mendapat kesempatan, kukirim surat kepada orang-orang Nasrani minta tolong kepada mereka untuk memberitahukan kepadaku andai ada kafilah yang akan ke Syam untuk memberitahu kepadaku. Tidak berapa lama kemudian, datang ke mereka satu kafilah yang hendak pergi ke Syam. Mereka memberitahu kepadaku.

Maka aku berusaha untuk membebaskan diri dari rantai yang membelengu diriku dan melarikan diri bersama kafilah tersebut ke Syam.

Sampai di sana aku bertanya kepada mereka, “Siapa kepala agama Nasrani di sini?”

“Uskup yang menjaga” jawab mereka.

Aku pergi menemui Uskup seraya berkata kepadanya, “Aku tertarik masuk agama Nasrani. Aku bersedia menadi server Anda sambil belajar agama dan shalat bersama-sama Anda.”

‘Masuklah! “Kata Uskup.
Aku masuk, dan membaktikan diri kepadanya sebagai server.

Setelah beberapa lama aku berbakti kepadanya, tahulah aku Uskup itu orang jahat. Dia menganjurkan jama’ahnya bersedekah dan mendorong ummatnya beramal pahala. Kapan sedekah mereka telah terkumpul, disimpannya saja dalam khazanahnya dan tidak dibagi-bagikannya kepada fakir miskin sehingga kekayaannya telah berkumpul tujuh peti emas.

Aku sangat membencinya karena perbuatannya yang mengambil kesempatan untuk mengumpulkan harta dengan duit sedekah kaumnya. tidak lama kemudian dia meninggal. Orang-orang Nasrani berkumpul hendak menguburkannya.

Aku berkata kepada mereka, ‘Pendeta kalian ini orang jahat. Dianjurkannya kalian bersedekah dan digembirakannya kalian dengan pahala yang akan kalian peroleh. Tapi bila kalian berikan sedekah kepadanya disimpannya saja untuk dirinya, tidak satupun yang diberikannya kepada fakir miskin. “

Tanya mereka, “Bagaimana kamu tahu demikian?”

Jawabku, “Akan kutunjukkan kepada kalian simpanannya.”

Kata mereka, “Ya, tunjukkanlah kepada kami!”

Maka kuperlihatkan kepada mereka simpanannya yang terdiri dan tujuh lemari, penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka saksikan semuanya, mereka berkata, “Demi Allah! Jangan dikuburkan dia!”

Lalu mereka salib jenazah uskup itu, kemudian mereka lempari dengan batu. Sesudah itu mereka angkat pendeta lain sebagai penggantinya. Akupun mengabdi kepadanya. Belum pernah kulihat orang yang lebih zuhud dari. Dia sangat membenci dunia tetapi sangat cinta kepada akhirat. Dia rajin beribadah siang malam. Karena itu aku sangat menyukainya, dan lama tinggal bersamanya.

Ketika ajalnya sudah dekat, aku bertanya kepadanya, “Wahai guru! Kepada siapa guru mempercayakanku seandainya guru meninggal. Dan dengan siapa aku harus berguru sepeninggalan guru?”

Jawabnya, “Hai, anakku! Tidak seorang pun yang aku tahu, kecuali seorang pendeta di Mosul, yang belum merubah dan mengganti-nukar ajaran-ajaran agama yang murni. Hubungi dia di sana!”

Maka tatkala guruku itu sudah meninggal, aku pergi mencari pendeta yang tinggal di Mosul. Kepadanya kuceritakan pengalamanku dan pesan guruku yang sudah meninggal itu.

Kata pendeta Mosul, “Tinggallah bersama saya.”

Aku tinggal bersamanya. Ternyata dia pendeta yang baik. Ketika dia hampir meninggal, aku berkata kepada nya, “Sebagaimana guru ketahui, mungkin ajal guru sudah dekat. Kepada siapa guru percaya seandainya guru sudah tidak?”

Jawabnya, “Hai, anakku! Demi Allah! Aku tak tahu orang yang seperti kami, kecuali seorang pendeta di Nasibin. Hubungi dia!”

Ketika pendeta Mosul itu sudah meninggal, aku pergi menemui pendeta di Nasibin. Kepadanya kuceritakan pengalamanku dan pesan pendeta Mosul.
Kata pendeta Nasibin, “Tinggallah bersama kami!”

Setelah aku tinggal di sana, ternyata pendeta Nasibin itu memang baik. Aku mengabdi dan belajar dengannya sampai beliau wafat. Setelah ajalnya sudah dekat, aku berkata kepadanya, “Guru sudah tahu perihalku maka kepada siapa harusku berguru seandainya guru meninggal?”

Jawabnya, “Hai, anakku! Aku tidak tahu lagi pendeta yang masih memegang teguh agamanya, kecuali seorang pendeta yang tinggal di Amuria. Hubungi dia!”

Aku pergi menghubungi pendeta di Amuria itu. Maka kuceritakan kepadanya pengalamanku.

Katanya, “Tinggallah bersama kami!
Dengan petunjuknya, aku tinggal di sana sambil mengembala kambing dan sapi. Setelah guruku sudah dekat pula ajalnya, aku berkata kepadanya, “Guru sudah tahu urusanku. Maka kepada siapakah lagi aku akan Anda percayai seandainya guru meninggal dan apakah yang harus kuperbuat?”

Katanya, “Hai, anakku! Setahuku tidak ada lagi di muka bumi ini orang yang berpegang teguh dengan agama yang murni seperti kami. Tetapi sudah hampir saatnya, di tanah Arab akan muncul seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama Nabi Ibrahim.

Kemudian dia akan pindah ke negeri yang banyak pohon kurma di sana, terletak antara dua bukit berbatu hitam. Nabi itu memiliki fitur-fitur yang jelas. Dia mau menerima dan memakan hadiah, tetapi tidak mau menerima dan memakan sedekah. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian. Jika engkau sanggup pergilah ke negeri itu dan temuilah dia! “

Setelah pendeta Amuria itu wafat, aku masih tinggal di Amuria, sehingga pada suatu waktu segerombolan saudagar Arab dan kabilah “Kalb” lewat di sana. Aku berkata kepada mereka, “Jika kalian mau membawaku ke negeri Arab, aku berikan kepada kalian semua sapi dan kambing-kambingku.”

Jawab mereka, “Baiklah! Kami bawa engkau ke sana.”
Maka kuberikan kepada mereka sapi dan kambing peliharaanku semuanya. Aku dibawanya bersama-sama mereka. Sesampainya kami di Wadil Qura aku ditipu oleh mereka. Aku dijual kepada seorang Yahudi. Maka dengan terpaksa aku pergi dengan Yahudi itu dan melayani kepadanya sebagai hamba. Pada suatu hari anak Anda majikanku datang mengunjunginya, yaitu Yahudi Bani Quraizhah, lalu aku dibelinya dari majikanku.

Aku pindah ke Yastrib dengan majikanku yang baru ini. Di sana aku melihat banyak pohon kurma seperti yang diceritakan guruku, Pendeta Amuria. Aku yakin itulah kota yang dimaksud guruku itu. Aku tinggal di kota itu bersama majikanku yang baru.

Ketika itu Nabi yang baru diutus sudah muncul. Tetapi beliau masih berada di Makkah menyerukan kaumnya. Namun aku belum mendengar apa-apa tentang kehadiran dan da’wah yang beliau sebarkan karena aku terlalu sibuk dengan tugasku sebagai hamba.

Tidak berapa lama kemudian, Rasulullah saw. pindah ke Yastrib. Demi Allah! Ketika itu aku sedang berada di puncak pohon kurma melaksanakan tugas yang diperintahkan majikanku. Dan majikanku itu duduk di bawah pohon. Tiba-tiba datang keponakannya mengatakan, “Biar mampus Bani Qaiah! (Kabilah Aus dan Khazraj) Demi Allah! Sekarang mereka berkumpul di Quba ‘menyambut pria dari Makkah yang mengklaim dirinya Nabi.”

Mendengar ucapannya itu badanku terasa panas dingin seperti demam, sehingga aku menggigil karenanya. Aku kuatir akan jatuh dan tubuhku akan menimpa majikanku. Aku segera turun dari puncak ponon, lalu bertanya kepada tamu itu, “Apa kabar Anda? Cobalah kabarkan kembali kepadaku!”

Majikanku marah dan memukulku seraya berkata, “Ini bukan urusanmu! Kerjakan tugasmu kembali!”

Keesokannya aku mengambil buah kurma seberapa banyak yang mampu kukumpulkan. Lalu kubawa ke depan Rasulullah saw ..

Kataku “Aku tahu tuan orang saleh. Tuan datang bersama-sama sahabat tuan sebagai perantau. Inilah sedikit kurma dariku untuk sedekahkan kepada tuan. Aku lihat tuanlah yang lebih berhak menerimanya dari yang lain-lain.” Lalu aku hulurkan kurma itu ke hadapannya.

Beliau berkata kepada para sahabatnya, “silakan kalian makan ,…!” Tetapi beliau tidak menyentuh sedikit pun makanan itu apalagi untuk memakannya.

Aku berkata dalam hati, “Inilah satu di antara fitur fitur!”

Kemudian aku pergi meninggalkannya dan kukumpulkan pula sedikit demi sedikit kurma yang mampu kukumpulkan. Ketika Rasulullah saw. pindah dari Quba ‘ke Madinah, kubawa kurma itu ke beliau.

Kataku, “Aku lihat tuan tidak mau memakan sedekah. Sekarang kubawakan sedikit kurma, sebagai hadiah untuk tuan.”

Rasulullah saw. makan buah kurma yang kuhadiahkan padanya. Dan beliau mempersilakan pula para sahabatnya makan bersama-sama dengannya. Kataku dalam hati, “ini fitur kedua!”

Kemudian kudatangi beliau di Baqi ‘, ketika beliau mengirim jenazah sahabat beliau untuk dimakamkan di sana. Aku melihat beliau memakai dua helai kain. Setelah aku memberi salam kepada beliau, aku berjalan membuntutinya sambil melihat ke belakang beliau untuk melihat tanda kenabian yang dikatakan guruku.

Agaknya beliau mengetahui maksudku. Maka dijatuhkannya kain yang menyelimuti punggungnya, sehingga aku melihat dengan jelas tanda kenabiannya.

Barulah aku yakin, dia adalah Nabi yang baru diutus itu. Aku terus memeluk bagindanya, lalu kuciumi dia sambil menangis.

Tanya Rasulullah, “Bagaimana kabar Anda?”

Maka kuceritakan kepada beliau seluruh kisah pengalamanku. Ia kagum dan menganjurkan agar aku menceritakan pula pengalamanku itu kepada para sahabat beliau. Lalu kuceritakan pula kepada mereka. Mereka sangat kagum dan gembira mendengar kisah pengalamanku.

Berbahagilah Salman Al-Farisy yang telah berjuang mencari agama yang hak di setiap tempat. Berbahagialah Salman yang telah menemukan agama yang hak, lalu dia iman dengan agama itu dan memegang teguh agama yang diimaninya itu. Berbahagialah Salman pada hari kematiannya, dan pada hari dia dibangkitkan kembali kelak.

Salman sibuk bekerja sebagai hamba. Dan karena inilah yang menyebabkan Salman terhalang mengikuti perang Badar dan Uhud. “Rasulullah saw. Suatu hari bersabda kepadaku,” Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman! “Maka majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus aku tanam untuknya dan 40 uqiyah.

Kemudian Rasulullah saw. mengumpulkan para sahabat dan bersabda, “Berilah bantuan kepada saudara kalian ini.” Mereka pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seorang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, setiap orang sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan tingkat kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.

Setelah terkumpul Rasulullah saw. bersabda kepadaku, “Berangkatlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletakkannya di tanganku.”

Aku pun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah saw. dan memberitahukan perihalku, Rasulullah saw. keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu kepada baginda dan Rasulullah saw. pun meletakkannya di tangan beliau. Maka, demi jiwa Salman yang berada di tangan, tidak ada pohon pun yang mati.

Untuk tebusan pohon kurma sudah terpenuhi, aku masih memiliki tanggungan uang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah saw. membawa emas sebesar telur ayam hasil dari rampasan perang. Lantas beliau bersabda, “Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?”

Kemudian aku dipanggil beliau, lalu beliau bersabda, “Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu wahai Salman!”

“Wahai Rasulullah saw., Bagaimana status emas ini bagiku? Soalku inginkan kepastian dari beliau.

Rasulullah menjawab, “Ambil saja! Insya Allah, Allah SWT akan memberi kebaikan kepadanya.” Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di tangan, berat ukuran emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku, dan aku dimerdekakan.

Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah. dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak aku ikuti. ‘

(HR. Ahmad, 5 / 441; ath-Thabrani dalam al-Kabir (6 / 222); lbnu Sa’ad dalamath-Thabagat, 4 / 75; al-Balhaqi dalam al-kubra, 10/323.)

KEJUTAN antara senjata ampuh dalam perang. Itulah yang terjadi dalam Perang Khandak (Parit). Setelah kesuksesan tentara Quraisy mengalahkan umat Islam di perang Uhud, mereka ingin melakukannya lagi dalam perang Khandak pada 6 Hijrah. Dengan pakta orang Yahudi Madinah dari suku Bani Nadir dan jumlah tentara melebihi 10.000 pasukan, tentara gabungan kaum musyrik di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb menyerang Madinah.

Tentara Islam dengan kepemimpinan Nabi SAW hanya berjumlah 3.000 pasukan, sedangkan pihak musuh pula 10.000 orang. Pertemuan pun diadakan untuk menemukan kesepakatan yang terbaik dalam mempertahankan Madinah.

“Wahai Rasulullah,” jelas suara seseorang mulai mengajukan pendapatnya. “Mengapa kita tidak membuat parit di sekeliling Madinah? Cara ini biasa kami lakukan dalam menghadapi peperangan. “Semua yang mendengar tertegun dan merasa heran. Membuat parit? Untuk apa? Tidak pernah terbayangkan oleh mereka cara ini. Pasti akan memakan waktu yang lama. “Itulah mungkin antara reaksi yang timbul.

Nabi pun menerima saran itu dan memerintahkan semua sahabat untuk membuat parit di sekitar Madinah. Akhirnya mereka berhasil membuatnya dalam waktu enam hari. Berkat parit itulah, Madinah selamat dari jatuh ke tangan musuh Islam. Umat ??Islam memperoleh kemenangan besar dalam perang ini dan dijadikan satu nama surat al-Qur’an yaitu surat Al-Ahzab (Gabungan Tentara).

Antara sebab kemenangan itu adalah ada unsur kejutan dalam pembuatan parit yang tidak dikenal masyarakat Arab ketika itu. Unsur kejutan ini diberikan saran oleh seorang sahabat warga asing yang berasal dari Persia bernama Rouzbeh atau yang dikenal dalam Islam dengan nama Salman al-Farisi.

Salman al-Farisi pada awal hidupnya adalah seorang bangsawan dari Persia yang menganut agama Majusi.

Beliau dilahirkan di kota Kazerun, Fars, Iran. Ayahnya seorang Dihqan atau pejabat daerah. Dia adalah orang terkaya dan memiliki rumah terbesar.
Sebagai seorang ilmuwan dalam agama Majusi yang tidak henti-henti mencari kebenaran, Salman kemudian menemukan agama Kristen lebih baik dari Majusi dan melarikan diri ke Suriah untuk mendalaminya. Pendeta terakhir sebagai gurunya memberitahunya bahwa sudah datang seorang nabi di tanah Arab, yang memiliki kejujuran, yang tidak memakan sedekah untuk dirinya sendiri.

Salman pun ke Arab mengikuti pedagang dari Bani Kalb, dengan memberikan uang dimilikinya. Pedagang itu setuju untuk membawa Salman. Ketika tiba di Wadi al-Qura (tempat antara Suriah dan Madinah), pedagang itu mengingkari janji dan menjadikan Salman bahan perdagangan yang dijual kepada seorang Yahudi.

Salman pun tiba di Madinah bersama tuannya. Setelah bertemu dengan Nabi, Salman akhirnya memeluk Islam, tapi ia masih hidup sebagai budak Yahudi sampai dimerdekakan oleh Nabi dan sahabat setelah perang Uhud. Uniknya, sebagian uang tebusan memerdekakan Salman itu diberikan Nabi SAW melalui penanaman 300 pohon kurma yang ditanam beliau.

Salman demikian belum dapat mengikuti perang Uhud dan sebelumnya perang Badar karena ia masih menjadi budak hamba.

Betapa gembira hatinya, kenyataan diterimanya Melampaui dicita-citakan, dari sekedar ingin bertemu dan berguru menjadi penghargaan berarti yaitu pengakuan sebagai Muslimin. Ia ditempatkan di bawah perawatan Abu Darda ‘al-Anshari.

Salman al-Farisi banyak disebut dari Rasulullah SAW seperti disebutkan dalam beberapa hadits diantaranya ‘Imam,’ ‘benderanya Bendera,’ ‘Ahli Waris Islam,’ ‘Ilmuwan yang sangat berilmu’ dan ‘Seorang keluarga Nabi.’

Salman juga yang mengusulkan tentara Islam pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqas untuk menyeberangi Sungai Tigris untuk menaklukkan tentara Persia pada 16 Hijrah, padahal tentara Islam tidak biasa menghadapi situasi tempat yang ada sungai. Mereka hampir putus harapan bagaimana mau menyeberanginya.

Setelah menyeberangi sungai tanpa seorang pun yang tewas dan cedera yang mana kejadian itu menakjubkan tentara Persia dan rajanya sehingga mereka semua memilih untuk memeluk Islam.

Salman al-Farisi kemudian diangkat menjadi Gubernur di Persia. Namun, ia tidak sombong, default dan tertipu dengan muslihat dunia. Beliau tidak memiliki rumah dan hanya tidur di bawah lindungan bayangan satu pohon ke pohon yang lain.

Salman al-Farisi meninggal pada 33 Hijrah pada zaman Khalifah Usman bin ‘Affan, di tempat ia dilahirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: