Tinggalkan komentar

ILMU TAUHID | PENDAHULUAN AWAL

Ilmu tauhid adalah ilmu yang penting … sangat penting … malah yang terpenting! Gagal ilmu tauhid berarti gagallah yang lain-lain. Tapi dalam dunia hari ini, pelajaran ilmu tauhid semakin terpinggirkan. Sebagian besar para da’i sendiri mengabaikan ilmu ini dengan hanya mengambil yang dasar saja. Mereka rasakan ‘yang dasar’ itu sudah cukup lalu mereka tumpukan usaha mereka ke gerak kerja dakwah. Bila kita mendengar percakapan mereka atau kita membaca tulisan-tulisan mereka, barulah kita sadar yang mereka bermasalah dalam tauhid. Sayangnya …. mereka sendiri tidak sadar yang tauhid mereka bermasalah. Kalau tauhid kader sendiri banyak yang bermasalah, kita yang orang awam ini bagaimana?

Tentulah lebih banyak masalahnya! Sebab itulah para ulama terdahulu sangat menekankan ilmu tauhid.

PENGENALAN AWAL

Persoalan mentajdid diri, keluarga, masyarakat dan umat sering diutarakan dalam blog-blog website. Rekomendasi baru, rekomendasi pemulihan dan rekomendasi ‘meningkatkan efektivitas’ silih berganti menghiasi halaman depan tetapi urusan akidah kurang disentuh. Sebagian browser mungkin bertanya-tanya, mana tulisan tentang tauhid? Bukankah ia persoalan dasar lagi utama?

Bukanlah niat kita menjadikan urusan teratas dalam agama ini tetapi ada pertimbangan-pertimbangan tertentu yang harus kita teliti. Memang banyak individu dan perkumpulan yang mengklaim sedang berjuang hari ini sebenarnya masih kabur dalam persoalan akidah dan mereka tidak menyadarinya.

Sebagian mengira cukuplah ‘ilmu tauhid’ sebagaimana yang dihidangkan oleh orang atasan mereka.

Sebagian pula ‘tertolak’ beberapa sudut penting ilmu tauhid tanpa disadari karena mengira hal itu bukan bagian dari ilmu tauhid atau kurang penting.

Sebagian lagi tidak mau tahu pun, cukup sekedar dia tahu yang Tuhannya Allah dan dia menyembah Allah selama ini. Sangkaan-sangkaan seperti ini sebenarnya SANGAT BERBAHAYA menurut pandangan orang-orang yang paham.

Sebab itulah dasar ilmu tauhid harus dibereskan terlebih dahulu sesuai dengan ungkapan “Awwaluddin maghrifatullah” – Awal agama adalah mengenal Allah. Kalau Tuhan tidak dikenal, kepada siapa kita berabdi selama ini? Ke mana arah perjuangan kita selama ini? Kita menyembah Allah atau kita tersembah ‘makhluk’ yang kita sangka Allah? Atau kita tersembah Allah yang kita mempersekutukan dengan makhluk? Bagaimana kita akan tahu dengan pasti?

“Supaya janganlah kamu menyembah (berabdi kepada) selain Allah.” (Hud: 2)

Berbicara lantang tentang hukum-hukum agama memang baik. Berjuang keras untuk mendapatkan daulah ini sangat baik. Demikianlah halnya dalam memperjuangkan ide-ide jemaah, ekonomi, tajdid fiqh, dakwah, hiburan Islam, kemajuan teknologi dan lain-lain. Tapi selama ini sadarkah kita setara mana ketauhidan kita kepada Khaliq? Ada yang berpendapat cukuplah dengan ‘dasar’. Apakah ‘dasar’ yang kita paham itu benar-benar dasar untuk lulus dengan baik dalam mentauhidkan Allah atau ia sekedar ‘dasar ke dasar’?

Tulisan di bawah disampaikan dalam gaya bahasa yang paling mudah agar dapat dipahami oleh ‘orang atasan’ maupun ‘orang bawahan’, seolah-olah berbicara saja lagaknya. Hal ini dilakukan karena kita tidak mau ada yang salah paham. Sangat besar bahayanya jika terjadi demikian.

Satu hal yang sangat penting untuk kita mengerti adalah … contoh-contoh yang dibuat untuk menjelaskan isi ilmu tauhid ini umumnya tidak ada yang tepat 100%. Hal ini terjadi karena kita membicarakan Allah yaitu Khalik sedangkan contoh-contohnya kita ambil dari alam makhluk. Mana mungkin contoh-contoh dari alam makhluk dapat menceritakan hal Khalik dengan tepat 100%!

“Dan tidak ada suatu apa pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlas: 4)

“Tidak ada suatu apapun yang berdiri dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Semoga penjelasan dasar ini dapat membuka pikiran kita bersama.

PENGENALAN KEDUA

Ilmu tauhid adalah ilmu yang penting … sangat penting … malah yang terpenting! Gagal ilmu tauhid berarti gagallah yang lain-lain. Tapi dalam dunia hari ini, pelajaran ilmu tauhid semakin terpinggirkan. Sebagian besar para da’i sendiri mengabaikan ilmu ini dengan hanya mengambil yang dasar saja. Mereka rasakan ‘yang dasar’ itu sudah cukup lalu mereka tumpukan usaha mereka ke gerak kerja dakwah. Bila kita mendengar percakapan mereka atau kita membaca tulisan-tulisan mereka, barulah kita sadar yang mereka bermasalah dalam tauhid. Sayangnya …. mereka sendiri tidak sadar yang tauhid mereka bermasalah. Kalau tauhid kader sendiri banyak yang bermasalah, kita yang orang awam ini bagaimana?

Tentulah lebih banyak masalahnya!

Sebab itulah para ulama terdahulu sangat menekankan ilmu tauhid. Kata mereka, “Awaluddin maghrifatullah” – Awal agama adalah mengenal Allah. Awal agama adalah dengan mengenal Allah.

Ilmu-ilmu yang utama dalam agama Islam ini ada tiga yaitu

ilmu tauhid,

ilmu fiqh dan

ilmu tasauf.
Singkatnya tauhid-fiqh-tasauf. Setiap satunya ada beberapa nama lain. Misalnya, ada orang sebut ilmu kalam, ilmu syariat dan ilmu akhlak. Banyak nama tapi sebenarnya menceritakan benda yang sama. Jadi, tak perlulah kita membahas tentang nama atau istilah, nanti akan membuang waktu.

Ketiga ilmu ini tidak bisa dipisahkan. Semua orang harus berusaha untuk belajar dan memahami ketiganya sejauh yang termampu. Kita tidak bisa ‘ambil dua tolak satu’. Kita juga tentu lebih tidak bisa ‘ambil satu tolak dua’. Ketiganya umpama batu tungku yang digunakan untuk melapik kawah.

Dapatkah kawah diletakkan pada dua tungku saja? Jawabannya ‘tidak bisa’, atau lebih tepat lagi ‘hampir-hampir mustahil “bisa.

Kalau satu tungku? Lagilah tak bisa! Akan terbaliklah kawah.

Samalah Misalnya dalam hal menembak musuh. Untuk menembak musuh dengan senapan, harus ada tiga hal utama yaitu tukang tembak (manusia), senapan dan peluru. Seandainya tidak ada salah satu hal di atas, perlakuan ‘menembak musuh’ tidak akan terjadi.

Ada manusia ada senapan tapi tak ada peluru. Bisa tembak? Tak bisa.

Ada manusia ada peluru, tak ada senapan. Bisa tembak? Tak bisa juga.

Ada senapan ada peluru tapi tak ada manusia. Bisa tembak? Tak bisa juga.

Ketiganya harus ada untuk memungkinkan perlakuan ‘menembak musuh’ terjadi.

Tapi orang sekarang ni pandai. Dia kata ‘ada peluru ada senapan tapi tak ada manusia “bisa tembak. Macam mana? Kita programkan senapan tu guna komputer. Bila komputer berhasil mendeteksi penyerang, secara otomatis senapan akan menemukan sasaran dan melepaskan peluru!

Memang benar, tapi kita kena tanya balik-yang programkan komputer tu siapa dia? Bukankah manusia juga?

Jadi, tetap harus kena ada ketiganya baru senapan tadi bisa menembak.

Kita untuk contoh lagi, agar faham betul-betul.

Untuk suap makanan ke mulut, kena ada setidaknya tiga hal utama. Satu-makanan. Dua-tangan. Tiga-mulut.

Katakanlah ada makanan ada tangan, tapi tak ada mulut. Macam mana? Ke mana makanan nak dialihkan? Kalau makanan itu dialihkan ke ketiak, ia tidak disebut suap. Kalau makanan itu dialihkan ke jalur, ia juga tidak disebut suap. Kalau makanan itu disumbatkan ke telinga, apakah kita sebut ‘suap “? Tidak kan?. Ia disebut ‘suap’ saat makanan tadi dialihkan ke mulut. Selain itu tidaklah dinamakan ‘suap’. OK?

Baik. Ada makanan ada mulut tapi tak ada tangan. Jadi tak ‘suap’? Tidak.

Ada tangan ada mulut … tak ada makanan. ‘Suap’ ke tu? Tak jugak.

Kesimpulannya, untuk ‘suap’ … harus ada ketiganya sekali yaitu makanan, tangan dan mulut.

Tauhid adalah tahu, kenal dan paham Tuhan. Fiqh adalah cara-cara berabdi atau beribadah kepada Tuhan. Tasauf pula adalah pemurnian tauhid dan fiqih tadi, untuk memperindah lagi tauhid dan fiqih.

Misalnya-orang akan menjala ikan.

Sebelum kita pergi menjala ikan kita kenalah tahu, kenal dan paham yang mana jala dan yang mana tempat ada ikan. Jangan pula nanti kita bawa cangkul atau joran atau senapan untuk menjala ikan. Atau kita pergi menjala di kolam, kolah kamar air, kubang kerbau dan sebagainya. Untuk itu kita kena belajar yang mana jala dan tempat mana ada ikan yang bisa dijala. Inilah tauhid atau usuluddin. Disebut juga ilmu usul dalam agama.

Setelah kita tahu apa itu jala dan di mana ada ikan, kenalah ada CARA-CARA menangkap ikan menggunakan jala. Cara-cara inilah yang kita katakan fiqh atau syariat. Kita belajar pula cara menjala.

Ada orang lempar jala yang kembangnya berbentuk bujur. Ada yang tak terkembang. Ada yang bentuk huruf delapan. Ada yang bulat cantik kembangnya. Dengan itu kenalah belajar pula pemurnian untuk mencantikan lagi kembang jala itu. Ini dinamakan tasauf.

Bila ketiga ilmu ini dipelajari dan dikuasai, barulah bisa mendapat ikan, barulah mudah mendapatkan ikan.

MAKSUD ILMU TAUHID

Kita masuk ke definisi atau definisi ilmu tauhid.

Apakah ilmu tauhid? Banyak definisi yang dibuat oleh para ulama. Ada yang sebut Ilmu Kalam, ada yang sebut Ilmu Usuluddin, ada yang sebut Ilmu Aqa’idul Iman dan sebagainya. Masalahnya … yang mana satu yang lebih mudah untuk difaham oleh orang awam macam kita. Jadi saya rumuskan satu definisi yang saya rasa paling mudah difaham oleh kita yaitu …

ilmu tauhid adalah ilmu untuk tahu, ilmu untuk kenal dan ilmu untuk memahami Tuhan.

“Permudahkanlah, jangan menyulitkan.”

Apakah ilmu tauhid?

Ilmu untuk tahu, kenal dan paham Tuhan. Itulah ilmu tauhid.

Mengapa kita harus belajar ilmu tauhid?

Supaya kita dapat tahu, faham dan kenal Tuhan.

Apa tujuan belajar ilmu tauhid?

Tujuannya untuk kita tahu Tuhan, kenal Tuhan, paham Tuhan.

Apa akan jadi kalau kita tidak belajar ilmu tauhid?

Kemungkinan besar kita tidak tahu Tuhan, tidak kenal Tuhan dan tidak mengerti Tuhan.

Apa resikonya jika kita tidak tahu, tidak kenal dan tidak paham Tuhan?

Risikonya-kemungkinan besar segala amal ibadah kita tidak diterima oleh Tuhan. Hal ini terjadi karena kita salah sembah! Salah sembah, sia-sialah amal ibadah kita.

“Berapa banyak orang yang berdiri (shalat sedangkan) dari shalat itu (mereka mendapat) hanya penat dan lelah.” (An-Nasa’i & Ahmad)

“Berapa banyak orang yang berpuasa (sedangkan) dari puasanya itu (mereka mendapat) hanya lapar dan dahaga.” (An-Nasa’i & Ibnu Majah)

BEDA ANTARA TAHU, KENAL DAN PAHAM

Apa beda antara ‘tahu Tuhan’, ‘kenal Tuhan’ dan ‘paham Tuhan’?

Pertama kita kena paham maksud tahu, kenal dan faham dulu. Ketiganya berbeda. Kenal lebih tinggi dari tahu, dan mengerti adalah lebih tinggi dari kenal. Yang paling atas adalah faham, kemudian kenal dan kemudian barulah tahu.

Biasanya disebut ilmu yaqin, ainul yaqin dan haqqul yaqin. Ada juga yang menambahkan ke satu tingkat lagi yaitu kamal yaqin.

Contoh.

Seorang wisatawan dari Barat yang datang ke Malaysia diberitahu tentang sambal tumis ikan bilis. Sebelum ini dia tidak pernah dengar pun masakan bernama ‘sambal tumis ikan bilis’. Ketika diberitahu, itulah kali pertama dia TAHU adanya masakan yang disebut ‘sambal tumis ikan bilis’.

Ilmu tingkat ini dinamakan ilmu tingkat TAHU atau ILMU YAQIN – tahu cerita tapi tidak pernah melihat dan belum pernah merasa.

Kemudian si wisatawan diajak makan siang oleh hidangan orang-orang Melayu. Dalam hidangan itu ada sambal tumis ikan bilis. Orang lokal menunjukkan kepadanya, “This is sambal tumis ikan bilis”. Itulah kali pertama si turis melihat sambal tumis ikan bilis. Dilihatnya sebagai sejenis masakan lauk berkuah, berwarna merah dan ada ikan-ikan kecil di dalamnya.

Ilmu tingkat ini dinamakan ilmu tingkat KENAL atau AINUL YAQIN-tahu cerita dan sudah melihat tetapi belum merasa.

Selanjutnya si turis dipersilakan menjamah hidangan bersama sambal tumis ikan bilis. Barulah dirasanya pedas, manis, asin, lemak, asam dan lain-lain adonan rasa sambal tumis pete itu. Itulah sambal tumis sebenarnya.

Ketika ini ilmunya berada di tingkat FAHAM atau disebut haqqul yaqin-sudah tahu cerita, sudah disaksikan dan sudah dirasa / dialami.

Contoh kedua …

Datang beberapa orang bilang ke kita ada pohon tumbang merentang jalan raya. Kita hanya tahu ada pohon tumbang dari cerita mereka dan kita belum melihat pohon tumbang itu. Ilmu tingkat ini adalah ilmu tingkat TAHU atau ILMU YAQIN saja.

Kemudian kita pergi melihat pohon yang tumbang itu. Memang betullah ada pohon besar tumbang merentang jalan raya, kita lihat dengan mata sendiri. Ilmu tingkat ini adalah ilmu tingkat KENAL atau AINUL YAQIN saja, sudah melihat tapi belum tahu urusan ketumbangan pohon itu.

Kemudian kita meneliti perihal pohon tumbang itu sampai kita mengerti bagaimana ia bisa tumbang, bila ia tumbang, apa yang menyebabkannya tumbang, apa akibat dari tumbangnya itu, benarkah ia tumbang dan lain-lain. Ketika ini ilmu kita adalah di tingkat FAHAM atau haqqul yaqin.

Contoh ketiga …

Para sahabat berdakwah sampai ke negara Cina. Mereka perkenalkan Tuhan kepada orang-orang Cina-“Tuhan kita ada satu saja yaitu Allah”. Ada orang-orang Cina yang percaya. Ketika ini iman mereka adalah di tingkat TAHU atau ILMU YAQIN saja. Mereka baru tahu Siapa yang seharusnya disembah tetapi belum tahu bagaimana kondisi yang Disembah itu.

Orang yang belajar ilmu Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Rubbubiyyah saja biasanya sampai ke tingkat ini.

Kemudian orang-orang Cina tadi belajar sampai mereka tahu kondisi yang Disembah itu. Mereka tahu Allah itu ada sejak awal, tidak bisa mati, tidak terpengaruh dengan warna, ruang, arah, bentuk dan tempat, menguasai segala-galanya, tidak sama dengan makhluk, menciptakan surga dan neraka, menciptakan semua makhluk, memberi wahyu dan sebagainya. Mereka juga tahu sifat-sifat yang mustahil untuk Allah. Iman tingkat ini adalah iman tingkat KENAL atau AINUL YAQIN. Melalui penelitian atau pembelajaran mereka, mereka sudah menyaksikan bukti-bukti tentang Yang Disembah itu tetapi belum ‘MENYAKSIKAN’ Yang Disembah itu sendiri. Tingkat ini dinamakan FAHAM atau haqqul yaqin.

(* Kata ‘MENYAKSIKAN’ Yang Disembah dalam ayat tadi adalah istilah sufi yang tidak dapat dihurai dengan kata. Ia tidak sama dengan kata ‘menyaksikan’ sebagaimana yang biasa kita guna. Mohon saran)

Orang yang belajar Tauhid Sifat 20 biasanya sampai ke tingkat ini.

Tingkat berikutnya, mereka yang dikaruniai kemampuan oleh Allah dapat pula ‘MENYAKSIKAN’ Allah, atau ‘MEMANDANG WAJAH ALLAH’ atau ‘merasakan SENDIRI’ Allah. Inilah yang dikatakan beriman kepada Allah sampai ke tingkat Haqqul Yaqin.

(* Kata-kata berhuruf besar adalah istilah sufi yang tidak dapat dihurai dengan kata melainkan pemahaman. Maksud kata-kata itu tidaklah sama dengan maksud kata-kata yang biasa kita gunakan)

Orang yang belajar ilmu tasauf atau ilmu hakikat BISA mencapai tingkat ini.

Sebab itu ada ungkapan berbunyi:

Ahli fiqh menemukan Allah dengan jalan mengkaji dalil-dalil al-Quran.

Anggota ilmu kalam menemukan Allah dengan jalan berpikir

Dan anggota tasauf menemukan Allah dengan jalan ‘MERASA SENDIRI’.

Manakah yang terbaik?

Yang terbaik adalah yang mengambil ketiga jalan dan menguasai ketiganya.

Jadi, dengan penjelasan singkat lagi dhaif itu tadi, diharapkan dapatlah memahamkan para pembaca akan perbedaan antara tahu, kenal dan faham. Selanjutnya dapat pula memahamkan pembaca akan perbedaan antara ilmu yaqin, ainul yaqin dan haqqul yaqin.

BAHAYA JIKA TIDAK MENGENAL ALLAH

Penduduk desa akan mengadakan kenduri. Mereka berencana untuk menyembelih empat ekor kerbau. Masalahnya, kerbau-kerbau itu dilepaskan hidup secara liar di dalam hutan. Ratusan ekor tinggal di hutan itu. Pendek kata, masuk-masuk hutan saja akan terus menemukan kerbau. Mereka sepakat mengerahkan empat orang pemuda yang diajar menggunakan senapan berpeluru pelali untuk mendapatkan kerbau-kerbau itu. Keempat pemuda ini dberi waktu dua puluh empat jam saja. Siapa yang paling awal berhasil melalikan kerbau, akan dapat hadiah istimewa.

Pemuda A mengambil senapan lalu terus pergi entah ke mana dalam kondisi dia tidak tahupun binatang apa yang penduduk desa mau, di mana lokasinya dan bagaimana sifat-sifatnya serta apa sifat-sifat yang mustahil untuk seekor kerbau. Dapatkah dia membawa pulang kerbau yang dimaksud? 99.99% pasti dia tidak akan dapat kerbau karena dia tidak tahu pun binatang apa yang dimaksud oleh penduduk kampung. Setelah sehari semalam berjalan baru dia tersinggung, “Eh, orang kampung suruh aku tembak binatang apa ya?”

Rekannya Pemuda B tahu penduduk kampung menginginkan seekor binatang bernama kerbau dan dia tahu binatang itu tinggal liar di dalam hutan. Masalahnya, dia tidak pernah melihat, tidak pernah tahu dan tidak pernah belajar bagaimana rupa dan sifat-sifat kerbau. Yang dia tahu, ada binatang bernama kerbau dan binatang itu tinggal di dalam hutan. Itu saja. Ada kemungkinan tak dia akan dapat menembak kerbau? Besar kemungkinan tidak karena dia tidak pernah tahu kerbau itu bagaimana. Bisa jadi dia akan menembak ayam hutan, ular sawa, rusa, monyet, babi dan sebagainya yang disangkakannya kerbau.

Ini ilmu tingkat TAHU.

Pemuda C pula, meskipun tidak pernah melihat kerbau tetapi ada belajar tentang sifat-sifat kerbau. Diketahuinya kerbau itu berkaki empat, bersuara menguak, mendengar dan bertelinga, bertanduk, biasanya berwarna kelabu, suka berkubang, badannya besar, bentuknya macam sapi, melihat dan matanya besar, ada ekor dan sebagainya. Sifat-sifat mustahil untuk kerbau pun diketahuinya yaitu mustahil rupa kerbau itu seperti kucing, mungkin bersuara seperti manusia, mungkin bisa terbang, mungkin bisa memanjat pohon, mungkin berdiri di atas satu kaki dan sebagainya. Bagaimana? Ada kemungkinan tak Pemuda C akan memperoleh seekor kerbau? Ya, tentu. Kemungkinan besar dia akan menembak kerbau dan bukannya binatang-binatang lain.

Ini ilmu tingkat KENAL.

Pemuda D pula sudah ‘menyaksikan’ kerbau sedari kecil. Dia sendiri membela beberapa ekor kerbau di rumahnya. Setiap hari dia ‘berinteraksi’ dengan kerbau-kerbaunya. Dimandikannya, diberus badan, ditunggangnya di sawah, diubatnya jika ada penyakit atau terluka, dipeluk dan sebagainya. Ariflah dia akan urusan hamba Allah yang bernama kerbau itu. Bagaimana? Ada kemungkinankah dia mendapat seekor kerbau di hutan itu? Pasti! Pasti jika tidak apa-apa aral lain yang melintang. Betul tak?

Ini ilmu tingkat FAHAM atau MENYAKSIKAN.

Singkatnya:

Pemuda A pasti tidak dapat kerbau.

Pemuda B kemungkinan besar tidak dapat kerbau.

Pemuda C kemungkinan besar dapat kerbau.

Pemuda D pasti dapat kerbau.

Contoh ini kita akan digunakan untuk memahami betapa pentingnya tahu Allah, kenal Allah dan paham Allah.

Pemuda Alif tidak tahu apa itu ‘Tuhan’, tidak tahupun Tuhan itu memang ada. Apakah dia menyembah Tuhan selama hari ini? Pasti dia tidak menyembah Tuhan bahkan tidak menyembah apa-apa, sebab dia tidak tahupun yang Tuhan itu memang ada. Sampai bila-bila pun dia tidak akan mendapat Allah. Samalah seperti Pemuda A tadi. Sampai bila-bila pun dia tidak akan mendapat kerbau kecualilah dia belajar tentang kerbau atau menyaksikan sendiri rupa kerbau.

Inilah resiko yang dihadapi oleh mereka yang tidak pernah ambil tahu tentang Tuhan, tidak pernah belajar agama karena mereka tidak pernah TAHU, KENAL dan FAHAM Tuhan.

Pemuda Ba pula tahu Tuhan itu ada dan nama untuk Tuhan adalah Allah. Itu saja yang diketahuinya. Dia tidak tahupun sifat-sifat Tuhan ada tidak tahu juga sifat-sifat yang mustahil untuk Tuhan. Apakah B menyembah Allah selama hari ini? Belum tentu! Ada kemungkinan dia tersembah selain Allah yang disangkakannya sebagai Tuhan. Samalah nasibnya macam Pemuda B tadi yang mngkin tertembak ayam hutan, ular sawa, rusa, monyet, babi dan sebagainya yang disangkakannya kerbau. Hal inilah yang kita takut!

Inilah resiko yang dihadapi oleh mereka yang belajar sejauh Tauhid Rubbubiyyah dan Tauhid Uluhiyyah saja. Mereka hanya tahu ‘Tuhan itu ada “dan’ Tuhan yang sebenarnya adalah Allah”. Itu saja. Mereka tidak tahu apa sifat-sifat Tuhan dan apa sifat-sifat yang mustahil untuk-Nya, ringkasnya mereka tidak belajar Sifat 20 atau ilmu yang setara dengannya. Ada kemungkinan mereka akan tersembah selain Allah, apakah tersembah makhluk atau tersembah Allah yang bercampur dengan makhluk.

Singkatnya, bisa jadi mereka tidak mengesakan Allah yang menjadikan tauhid mereka rusak. Ini karena mereka TIDAK KENAL dan TIDAK PAHAM Tuhan, hanya sejauh TAHU Tuhan saja.

Pemuda Ta tahu Tuhan itu ada dan nama untuk Tuhan adalah Allah, sama seperti Pemuda Ba. Selain itu dia juga pernah belajar dan memahami Allah itu bagaimana. Diketahuinya apa sifat-sifat untuk Allah dan apa sifat-sifat yang msutahil untuk Allah. Singkatnya, dia belajar dan khatam ilmu Sifat 20 atau yang setara dengannya. Apakah dia menyembah Allah selama hari ini? Ya, kemungkinan besar dia menyembah Allah, yaitu Tuhan yang sebenarnya. Sangat kecil resikonya untuk dia tersembah selain Allah. Samalah seperti Pemuda C tadi. Hampir-hampir mustahil Pemuda C akan tertembak selain kerbau. Hampir-hampir mustahil juga Pemuda Ta akan tersembah selain Allah, apakah tersembah makhluk atau tersembah Allah yang berafiliasi dengan makhluk.

Orang jenis ini adalah mereka yang sudah menguasai ilmu Sifat 20 atau yang setara dengannya. Singkatnya, tauhid orang yang menguasai Sifat 20 adalah lebih aman dari tauhid mereka yang belajar Tauhid Uluhiyyah saja. Ini karena mereka sudah TAHU dan KENAL Tuhan, c uma belum MENYAKSIKAN-NYA (PAHAM) saja lagi.

Pemuda Tha seorang yang ‘ahli’ dalam tasauf dan Ilmu Hakikat. Dia ‘menyaksikan’ sendiri Allah. Apakah dia menyembah Allah selama hari ini? Pasti! Ada kemungkinankah dia tersembah selain Allah? Mustahil! Samalah seperti mustahilnya Pemuda D salah tembak selain kerbau. Setiap hari dia bergelimang dengan kerbau, mustahil dia akan sengaja menembak tupai, beruang, kumbang, kalajengking, landak dan sebagainya yang disangkakannya kerbau.

Orang jenis ini adalah mereka yang sudah menguasai Ilmu Hakikat (kita tidak maksudkan ilmu hakikat yang sesat). Mereka TAHU, KENAL dan FAHAM (menyaksikan) Tuhan. Ini tingkat paling aman.

Kita beri contoh lagi agar benar-benar paham.

Empat pemuda Aborigin ingin pergi berburu ke sebuah lembah. Tok Batin beritahu kepada mereka bahwa di lembah itu ada tuhan mereka yaitu pohon cengal dari sepuluh batang pohon cengal. Pokok cengal yang menjadi tuhan mereka itu adalah pohon cengal yang paling tua sekali. Siapa yang pergi ke sana harus menyembah dan sujud sebanyak tujuh kali ke tuhan mereka itu.

Pemuda pertama datang lewat dan tidak sempat mendengarkan penjelasan Tok Batin. Bila dia tiba di lembah itu, apakah dia akan menyembah apa-apa? Tentu tidak sebab dia tidak tahupun di lembah itu ada tuhan mereka dan tuhan mereka itu adalah pohon cengal yang paling tua. Pemuda ini TIDAK TAHU, TIDAK KENAL dan TIDAK PAHAM,.

Pemuda kedua tahu di lembah itu ada tuhan mereka dan tuhan mereka itu adalah pohon cengal yang paling tua. Sayangnya dia tidak tahu yang mana satu pohon cengal, apakah sifat-sifat pohon cengal dan apakah sifat-sifat yang mustahil untuk pohon cengal. Bila dia tiba di lembah itu, pastikah dia bersujud kepada tuhan mereka yaitu pohon cengal yang paling tua? Besar kemungkinannya dia akan bersujud kepada selain pohon cengal. Jika dia bersujud kepada pohon cengal pun, kemungkinan besar dia sujud kepada pohon cengal yang bukan tuhan mereka.

Pemuda ini sekedar tahu tuhan mereka ada dan tuhan mereka adalah pohon cengal yang tertua di lembah itu. Samalah dengan orang yang belajar Tauhid Uluhiyyah-dia tahu Tuhan itu ada dan Tuhan yang sebenarnya adalah Tuhan yang Ilah yaitu Allah. Ini ilmu tingkat TAHU.

Pemuda ketiga tidak pernah melihat pohon cengal, namun begitu dia pernah belajar sifat-sifat pohon cengal dan sifat-sifat yang mustahil untuk pohon cengal. Oleh karena dia tahu sifat-sifat pohon cengal, tahulah dia bagaimana kondisi pohon yang lebih muda dan kondisi pohon yang lebih tua. Sampai di lembah itu, berjayakah dia bersujud kepada tuhan mereka yaitu pohon cengal yang paling tua? Kemungkinan besar dia akan berhasil.

Pemuda ini tahu membedakan antara Tuhan yang sebenarnya dengan yang lain. Samalah dengan orang yang belajar dan menguasai Sifat 20 atau ilmu yang setara dengannya. Ini ilmu tingkat KENAL.

Pemuda keempat pula sudah menyaksikan sendiri pohon cengal tertua yang menjadi tuhan mereka itu. Setiap hari dia melalui lembah itu untuk mencari madu dan petai. Dapatkah dia bersujud kepada tuhan mereka? Tentu saja! Apakah dia akan salah sembah dengan bersujud kepada pohon-pohon lain? Mustahil. Ini ilmu tingkat FAHAM atau MENYAKSIKAN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: