Tinggalkan komentar

ILMU TAUHID | PENDAHULUAN MUDAH

Kutipan: Mulai Mu’alim yang bernama [Abdul Karim bin Muhammad Nur] menyusun sebuah kitab yang menjadi pegangan seluruh murid beliau yang ditulis menggunakan huruf jawi (Arab Melayu), mudah-mudahan Allah meridhai dan mengizinkan saya mengutarakannya dalam blog ini tanpa melanggar adab.

Bismillahirrahmanirrahiim …

Adapun Mubadi ilmu tauhid itu sepuluh perkara:

1. Nama ilmu ini yaitu ilmu Tauhid, ilmu Kalam, ilmu Sifat, ilmu Ussuluddin, ilmu ‘Aqidul Iman

2. Tempat ambilannya: yaitu diterbitkan dari Qur’an dan Hadits

3. Isinya yaitu mengandung pengetahuan dari hal membahas kewajiban pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-Nya, dari beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil agar diperoleh i’tikad yang yakin (keyakinan yang putus / Jazam sekira-kira menaikkan perasaan / Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.

4. Tempat bahasannya atau Maudu’nya ke empat tempat:

a. Pada Zat Allah Ta’ala dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padaNya dan sifat-sifat yang harus padaNya.

b. Pada zat rasul-rasul dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padanya dan sifat-sifat yang harus padanya

c. Pada segala kejadian dari segi materi dan massa dan aradh sekira-kira keadaannya itu jadi petunjuknya dan dalil untuk ada yang membuat dia

d. Pada segala pegangan dan kepercayaan dengan kenyataan yang didengar dari berita rasul-rasul Allah seperti hal-hal surga dan neraka dan hari kiamat

5. Manfaat ilmu ini yaitu dapat mengenal Tuhan dan percaya akan rasul dan mendapat kebahagian hidup didunia dan hidup di akhirat yang kekal.

6. Rasio ilmu ini dengan lain-lain ilmu, yaitu ilmu ini adalah ilmu yang terbangsa kepada agama islam dan yang paling utama sekali dalam agama islam.

7. Orang yang mengirimkan ilmu ini atau mengeluarkannya yaitu, yang pertama mereka yang mengirimkan tetesan ilmu tauhid dengan mendirikan dalilnya untuk menolak kata meraka yang melanggar adalah dari pada ulama-ulama yang mashur yaitu Imam Abu Al Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur At Maturidi tetapi mereka pertama yang menerima ilmu tauhid dari Allah Ta’ala adalah nabi Adam alaihissalam, dan yang akhirnya Nabi Muhammad SAW.

8. Hukumnya, yaitu fardhu ‘ain bagi tiap-tiap orang yang mukallaf laki-laki atau perempuan mengetahui sifat-sifat yang wajib, yang mustahil dan yang harus di Allah Ta’ala dengan jalan ijmal atau ringkasan begitu juga bagi rasul-rasul Allah dan dengan jalan tafsil atau uraian

9. Kelebihannya yaitu semulia-mulia dan setinggi-tinggi ilmu dari ilmu yang lain-lain, karena menurut haditsnya nabi: Innallahata’ala lam yafrid syai’an afdola minattauhid wasshalati walaukana syai’an afdola mintu laf tarodohu ‘ala malaikatihi minhum raakitu wa minhum sajidu, artinya, Tuhan tidak memfardukan sesuatu yang terlebih afdhol dari mengesakan Allah. Jika ada sesuatu terlebih afdhol dari niscaya tetaplah telah difardhukan kepada malaikatnya padahal setengah dari malaikatnya itu ada yang ruku ‘selamanya dan setengah ada yang sujud selamanya dan juga ilmu tauhid ini jadi asal bagi segala ilmu yang lain yang wajib diketahui dan lagi karena mulia, yaitu Zat Tuhan dan rasul dan dari itu maka jadilah maudu’nya semulia-mulia ilmu dalam agama islam.

10. Kesudahan ilmu ini yaitu dapat membedakan antara i’tikad dan keyakinan syah dengan yang batil dan dapat pula membedakan antara yang menjadikan dengan yang dijadikan atau antara yang Qadim dengan yang muhadasNya

Ilmu Tauhid

Adapun tambahan masuk pada menjalankan ilmu tauhid itu berhimpun atas tiga hal:

1. Khawas yang lima yaitu, Pendengar, Penglihat, pencium, Perasa lidah dan Penjabat

2. Kabar Mutawatir, yaitu Kabar yang turun menurun. Adapun kabar mutawatir itu dua untuk:

a. Kabar Mutawatir yang datang dari lidah orang banyak

b. Kabar Mutawatir yang datang dari lidah rasul-rasul

3. Isinya yaitu mengandung pengetahuan dari hal membahas kewajiban pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-Nya, dari beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil agar diperoleh i’tikad yang yakin (keyakinan yang putus / Jazam sekira-kira menaikkan perasaan / Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.

Aqal

Adapun ‘Aqal itu dua bahagi:

1. ‘Aqal Nazori, yaitu akal yang membutuhkan pikir dan keterangan.

2. ‘Aqal Doruri, yaitu akal yang tidak membutuhkan pikir dan keterangan.

Adapun Hukum ‘Aqal itu tiga bahagian:

1. Wajib ‘Aqal, yaitu barang yang tidak diterima oleh akal akan tiadanya maka wajib adanya (Zat, Sifat dan Af’al Allah)

2. Mustahil ‘Aqal, yaitu barang yang tidak diterima oleh akal akan adanya maka mustahil adanya (Segala kebalikan dari sifat yang wajib, sekutu)

3. Harus ‘Aqal, yaitu barang yang diterima oleh akal akan adanya atau tiadanya (Alam dan segala isinya yang baru / diciptakan)

Mumkinun (Baru Alam)

Adapun yang wajib untuk ‘Alam mengandung empat hal:

1. Materi, yaitu barang yang beku bersamaan luar dan dalam seperti, batu, kayu, besi dan tembaga

2. Massa, yaitu barang yang hidup memakai nyawa tidak sama luar dalam seperti manusia dan binatang

3. Jauhar Farad, barang yang tidak bisa dibelah-belah atau dibagi-bagi seperti asap, abu dan kuman yang halus-halus

4. Jauhar Latief, yaitu Massa yang halus seperti ruh, malaikat, jin, syaiton dan nur

Wajib untuk Jirim, Massa, Jauhar Farad dan Jauhar Latief bersifat dengan empat sifat:

1. Tempat, maka wajib baginya memakai tempat seperti kiri atau kanan, atas atau bawah, depan atau belakang

2. Jihat, maka wajib baginya memakai jihat seperti utara atau selatan, barat atau timur, jauh atau dekat

3. Berkumpul atau bercerai

4. Memakai ‘Arad, yaitu gerak atau diam, besar atau kecil, panjang atau pendek dan memakai rasa seperti manis atau masam, masam atau tawar dan memakai warna-warna seperti hitam atau putih, merah atau hijau dan memakai bau-bauan seperti harum atau busuk

Hukum Adat Thobi’at

Adapun yang wajib untuk hukum adat Thobi’at yang dilakukan dalam dunia ini saja, seperti makan, saat makan maka wajib kenyang sekedar yang dimakan begitu juga api saat menyentuh kayu yang kering maka wajib terbakar, dan pada benda yang tajam yang saat dipotongkan maka wajib putus atau luka.

Dan begitu juga pada air apabila diminum maka wajib hilang dahaga sekedar yang diminum. Adapun yang mustahil pada adat Thobi’at itu tidak sekali-kali seperti makan tidak kenyang, minum tidak hilang dahaga, dipotong dengan benda yang tajam tidak putus atau luka dan dimasukkan dalam api tidak terbakar. Akan tetapi yang mustahil pada adat itu sudah terjadi pada nabi Ibrahim as di dalam api tidak terbakar dan pada nabi Isma’il as dipotong dengan pisau yang tajam diada putus atau luka.

Adapun yang mustahil pada adat itu jika terjadi pada rasul-rasul disebut Mu’jizat, jika berlaku pada nabi-nabi dinamakan Irhas, jika pada wali-wali dinamakan Karamah, dan jika pada orang yang ta’at dinamakan Ma’unah dan jika berlaku pada orang kafir atau orang fasik yaitu ada empat macam:

1. dinamakan Istidraj pada Johirnya bagus dan hakikat menyalahi

2. dinamakan Kahanah yaitu pada tukang tenung

3. dinamakan Sa’uzah yaitu pada tukang sulap mata

4. dinamakan Sihir yaitu pada tukang sihir

Mohon ampunan dan RedhaMu yaa Allah, …

Itulah yang telah terdahulu banyak hamba ungkapkan (terlanjur) di topik-topik yang ada dalam BSC ini, untuk selanjutnya hamba, Insya Allah, akan meminta izin dahulu kepada Mu’alim hamba, sebab ada beberapa uraian penting yang hamba wajib meminta izin dahulu pada beliau , diantaranya: Hukum Syara ‘, Hakikat Makrifat beserta uraian dalil untuk Sifat-Sifat yang wajib untuk’ akal tentang keTuhanan:

-Sifat nafsiyah

-Sifat Salbiyah

-Sifat Ma’ani

-Sifat ma’nawiyah

lalu dibagi menjadi dua untuk:

-Sifat Istighna (28 Aqa’id)

-Sifat Iftikhor (22 Aqa’id)

yang menghasilkan paham hakikat nafi mengandung isbat, isbat mengandung nafi (50 Aqa’id), lalu berlanjut pada uraian Sifat-sifat untuk Rasul, ditambahkan empat hal rukun iman (18 Aqa’id), menghasilkan penjelasan aqa’idul iman yang 5 (lima jenis), aqa’idul iman 50, aqa’idul iman 60, aqa’idul iman 64, aqa’idul iman 66 dan aqa’idul iman 68.

Barulah disimpulkan menjadi 4 rukun Syahadat dan adab-adabnya, serta menjelaskan penjelasan zikir, serta makna asma ALLAH

InsyaAllah ….

Ma’rifat

Adapun hakikat Ma’rifat itu berhimpun atas tiga hal:

1. ‘Itikad Jazam, yaitu’ itikad yang putus tidak diragukan, dzon dan waham

2. Muwafikulilhaq, yaitu Muafakat dengan yang sebenarnya menurut Al Qur’an dan Hadits

3. Mu’addalil yaitu beserta dalil

Adapun Dalil itu dua bahagi:

1. Dalil naqal (naqli), yaitu Al Qur’an dan Hadits.

2. Dalil akal (aqli), yaitu aqal kita

Adapun dalil wujud Allah Ta’ala pada orang awam yaitu Baharu alam seperti firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an: Allahu khaliqu kullu syai’in, artinya: Allah Ta’ala yang menjadikan segala sesuatu

Adapun Hakikat Ma’rifat orang yang Khawas:

1. ‘Itikat jazam, tidak diragukan, dzon dan waham

2. Muwafakat ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan Ilham Ilahi

3. Dalil di dirinya, seperti firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an: wa fii amfusikum afala tubsiruun, artinya: pada diri kamu Tiadakah kamu lihat, dan juga Hadits Rasullullah, Man arofa nafsahu faqod arofa Robbahu, artinya barang siapa mengenal dirinya bahwasanya mengenal Tuhannya.

Adapun Hakikat Ma’rifat orang yang Khawasul khawas:

1. I’tikad jazam, tidak sak, dzon dan waham

2. Muwafakat Ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan kasaf Ilahi terkaya ia dari dalil yakni tidak berkehendak lagi kepada dalil (Aqal dhoruri) terus ia ma’rifat kepada Allah Ta’ala.

Adapun Ma’rifat itu tiga martabat:

1. Ilmul yaqin, yaitu segala Ulama

2. ‘Ainul yaqin, yaitu segala Aulia

3. Haqqul yaqin, yaitu segala Anbiya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: